Title : Friendzone
Author : Alferina
Genre : _____________
Pairing : Skandar Keynes x Falerinna
Rated : Teen
Length : Multichapter
**
Edward
berkutat pada pendiriannya, dia tidak bisa lagi berpikir jauh untuk
pikirannya terhadap Skandar dan Falerinna. Baginya mengakui semuanya
sama saja membuat dirinya terbunuh. Tidak ada lagi yang namanya
persahabatan maupun kebersamaan yang akan dia rasakan kembali.
Benar-benar sulit sesulit dia menahan perasaannya dahulu. Namun,waktu
terus berjalan dan dia tetap harus memilih suatu pilihan.
Edward
sekarang tengah berada di belakang bangunan. Sendirian dan sengaja
melarikan diri meninggalkan Skandar karena Edward tahu dia tidak lagi
pantas untuk menjadi teman Skandar. Edward sudah mengikhlaskan sesuatu
hal yang awalnya –mungkin—memang butuh perjuangan untuk merelakan.
Tetapi kini dia tersadar. Falerinna bukan untuknya dan Falerinna hanya
sementara hadir didalam kehidupannya. Memang rasanya sakit tetapi inilah
jalan terbaik yang akan Edward ambil untuk membahagiakan kedua
sahabatnya. Cinta tidak harus ditunggu, cinta akan datang dengan
sendirinya begitu pula dengan nasib. Mungkin nasib Edward tahun ini
sedang malang namun seseorang tidak dapat memprediksi apa yang akan
terjadi dengan nasib Edward beberapa tahun mendatang. Semua adalah milik
Tuhan.
“Tapi aku masih bingung. Apa
yang harus aku lakukan untuk menyatukan mereka kembali tanpa aku harus
mengakui masa laluku?” Edward berusaha keras. Mencari ide yang
benar-benar masuk akal dan mudah-mudahan akan berjalan dengan lancar.
Dia terduduk di kursi. Pandangannya menghadap ke langit-langit atas dan
pikirannya menjelajahi semua hal yang harus dia temukan secepat mungkin.
“Kalau sekarang aku tidak akan bisa melakukannya, kemungkinan jika aku
membutuhkan bantuan orang lain, ini akan berakhir bukan dengan hasil
kerja murni dariku. Aku ingin mereka bahagia karena aku bukan orang
lain.” Kembali lagi dalam pikirannya, Edward termenung oleh benaknya
sendiri. Berjam-jam dia lalui dan bagaimanapun juga hasilnya. Dia yakin
akan membahagiakan kedua sahabatnya.
**
Disisi
lain, Falerinna tetap berjalan semakin dalam di bangunan ini. Dia sama
sekali tidak takut apa yang akan terjadi disini. Dia hanya beranggapan
ini hanya sebuah bangunan tua yang meninggalkan beberapa rahasia mistis
dan bukan berarti apa-apa terhadap dirinya yang tidak mempunyai sangkut
paut atas masalah yang terjadi di bangunan ini. Iris matanya yang
berwarna cokelat terus melihat kekiri dan ke kanan setiap ruangan yang
dia lewati secara perlahan. Membuka satu persatu pintu yang dia lihat
dan akan melihat apa yang ada didalamnya. Mungkin suatu keajaiban akan
kembali terjadi ketika Falerinna membuka pintu dan langsung menemukan
tokoh Skandar yang siap kembali membawa dirinya ke dalam pelukan lelaki
idamannya, seperti dulu saat Falerinna tidak sengaja menemukan Skandar
diruangan persis mirip kamar kecilnya dulu dan langsung mendapat pelukan
dan perlakuan hangat dari Skandar. “Andaikan itu terulang kembali,”
lirih Falerinna “Aku tidak akan melepaskanmu untuk pergi menjauh
dariku..” namun semua hanya mimpi.
Tidak
seperti kebanyakan perempuan pada umumnya, Falerinna adalah perempuan
yang sangat berbeda. Dia memiliki jiwa dan hati yang tenang. Pikiran
yang cepat untuk berpikir dan selalu menjalankan nalarnya untuk berbuat
sesuatu. Penampilan luar sangat tidak penting bagi dirinya yang lebih
mementingkan seberapa banyak kebaikan yang sudah pernah dia buat. Ini
bukan berarti Falerinna adalah perempuan kampungan atau yang lain tetapi
ini sudah menjadi jati diri Falerinna dan sifat terdalam Falerinna yang
belum diketahui orang banyak. Dia tidak sempurna namun dia bisa
melakukan semua hal dengan sempurna hanya dengan kedua tangannya
sendiri. Bagi Falerinna, dirinya hanyalah sebuah jiwa dan raga lemah
yang diberikan oleh Tuhan dan dititipkan kepada kedua orangtuanya lalu
menjadi seseorang yang telah ditentukan Tuhan yang pada akhirnya nanti
dia akan kembali kepada Tuhan. Semuanya.. Dia hanya bergantung pada
Tuhan. Apapun itu.
#
2
hari menghilang dari dunia luar adalah hal yang paling konyol yang
pernah Falerinna lakukan disisa umur hidupnya. Dia tidak ingin berurusan
dengan Michael dan Julie. Michael hanyalah kenangan lampau yang
–seharusnya—tidak harus datang kembali ke kehidupan Falerinna. Cukup
dengan mencintai Skandar, Falerinna yakin dia akan bahagia bersama cinta
terakhirnya.
“Aku tidak butuh Michael.
Dia hanya akan memperburuk keadaan. Dia hanya akan membalikkan semua
suasana. Yang aku inginkan hanya Skandar. Aku tahu aku salah dan aku
harus mencari dia. Aku ingin minta maaf, hanya itu yang bisa aku
lakukan. Aku nggak mau dia menyesali perbuatannya karena aku. Yaaa, jika
memang Jenny cocok untuk Skandar, aku akan belajar merelakannya. Ya aku
tahu, itu rumit.”
Langkah kaki terus
terdengar diruangan yang mudah bergema tersebut. Suara jangkrik-jangkrik
malam berseru dengan lihainya bersama dengan teman-temannya.
Meninggalkan sesuatu yang paling menyeramkan dari bangunan tersebut.
Gelap dan hanya ada sedikit cahaya dari beberapa ventilasi yang ada di
bangunan itu. Lembap serta udara yang sangat tercemar menjadikan
bangunan itu layak sebuah ruang bawah tanah yang hidup berabad-abad
silam.
Falerinna berniat ingin turun
kelantai paling bawah. Sekalian untuk mencari jalan keluar dibangunan
tak layak itu. Mencari tangga dan harus turun dengan langkah yang sangat
berisik akibat sepatunya. Tangannya tidak lagi mau memegang pegangan
tangga karena terakhir kali Falerinna memegangnya tangannya langsung
gatal tidak karuan. Itu pasti karena kuman!
Setelah
sampai dilantai paling bawah, disana ada dua jalur yang diujungnya
masing-masing jalan tersebut ada pintu besar dan tinggi yang bisa
diperkirakan adalah jalan keluar. Falerinna lebih memajukan kepalanya
lagi, menoleh kekiri dan melihat ada beberapa tulang tengkorak yang
berserakan. Sedangkan ketika Falerinna menoleh kekanan dia melihat
jalanannya bersih tanpa apapun. Dimaksudkan bersih bukan berarti bersih
tidak ada debu, melainkan bersih tidak ada barang-barang yang diletakkan
dengan sembarang disana. Falerinna berpikir, “mungkin artinya, kalau
aku mengambil jalan kekiri rintangannya banyak. Soalnya banyak tengkorak
disana. Sedangan jika aku mengambil jalan kekanan semuanya akan
lancar-lancar saja karena tidak terdapat apa-apa disana.” Bingung
dicampuri dengan rasa bimbang juga, akhirnya Falerinna lebih memilih
untuk jalan kearah kanan. Dan terus melangkah lurus hingga sampai ke
ambang pintu besar yang sama sekali belum pernah dilihatnya.
**
Skandar
memegangi rambutnya. Menggarukinya dan memegang sisi kepala kanannya
dengan telunjuknya. Berdiri dengan terpaku dihadapan 2 jalan yang
kosong. “Kiri atau Kanan?” lirih Skandar dengan sendirinya. Selalu
menggaruk-garuki kepalanya hanya untuk berpikirmemilih jalan yang mana.
Bola matanya terus melirik kekiri kekanan bagaikan penari mata yang
lincah. Otaknya sudah semakin kaku karena dipergunakan untuk banyak
berpikir. Bibirnya tak henti untuk berkomat-kamit mengucapkan kata-kata
yang orang lain tidak pahami. Hanya dia dan Tuhanlah yang mengerti.
“Jujur,
ini lebih sulit dibandingkan dengan ujian Kimia disekolah!” gerutu
Skandar. Dia semakin kesal karena sedari tadi pendiriannya tak kunjung
datang untuk memilih kepastian jalan yang ada dihadapannya. “Jika aku
membawa atlas dari rumah, aku tidak akan tersesat seperti ini!”
lagi-lagi Skandar menggerutu kesal. Dia benar-benar bingung ingin maju
kejalan kiri atau maju kejalan kanan? Semuanya penuh dengan keyakinan
akan jalan keluar.
Untuk lebih pasti, akhirnya Skandar maju
beberapa langkah untuk melihat keadaan kondisi dijalan sebelah kiri. Dan
dia lihat baik. Tidak ada apa-apa disana. Skandar kembali mundur dan
maju beberapa langkah lagi untuk melihat kondisi dijalan sebelah kanan.
“Waah! Tempat macam apa itu?!” Skandar tersontak kaget dan langsung
berteriak. Dia seperti jijik melihat ruangan itu dengan karuan dan
pikirannya langsung tertuju untuk mengambil jalan disebelah kiri yang
lebih layak untuk dilewati. “Dasar jalan kanan yang tidak tahu diri!
Bukannya lebih baik malah tambah buruk! Kotornya jalananmu kanan!”
lagi-lagi Skandar mengeluh hanya untuk mengomentari jalan yang sangat
tidak dia sukai. Seperti ngomong dengan ilalang, tidak ada yang menjawab
ocehan Skandar selama Skandar berjalan di jalan kiri tersebut.
**
Edward
kembali berdiri pada posisi duduknya. Dia sepertinya sudah mendapat
ide. “Untuk percobaan pertama aku tidak terlalu yakin akan berhasil. Ini
memang tidak lazim tapi apa salahnya jika aku harus tetap mencoba.”
Edward
berjalan keluar dari bangunan tersebut. Berjalan lagi menuju taman
gelap yang berada disisi utara bangunan itu. Disana, dia langsung
melemparkan diri kedalam danau dan berdiam diri selama 30 menit. Matanya
tetap terbuka dan tanpa berkelip. Kepalanya mengangguk-angguk seperti
memberikan isyarat. Dan setelah 30 menit berlalu Edward kembali berenang
keatas dan mengambil udara sebanyak-banyaknya.
Membaringkan tubuhnya diatas tanah dan tersenyum lebar. “Aku melakukan ini untuk kalian..”
Entah
yakin atau tidak dengan pilihan ini namun yang pasti impiannya untuk
membahagiakan Skandar dan Falerinna akan segera terwujud. Seberapapun
berat taruhannya yang akan diaterima. Edward rela dan ikhlas.
Kebaikannya sudah melebihi batas sempurna dan lebih baik! Senyuman
Edward yang tak kalah manis dengan Skandar juga terus terpampang
diwajahnya. Tidak harus pusing-pusing lagi memikirkan cara. Yang
akhirnya, ini cara pertama dan terakhir yang dia ambil. Selanjutnya dan
selamanya, dia tidak akan pernah ada.
#
Edward
lelah hari ini. Kali ini dia ingin kembali ke hotel dan langsung
beristirahat selama yang dia inginkan. Dengan tubuh yang basah kuyup dan
mata yang sayup-sayup Edward jalan melangkah kearah jalan besar di sisi
selatan taman itu dan memberhentikan sebuah Taksi yang lalu lalang.
“Jalan Spring Street, Hotel Bervely nomor 2177.” Edward menunjukkan
alamat dari tujuannya. Dan langsung bersender pada punggung kursi
penumpang yang empuk. Napasnya kembali lagi teratur secara baik dan
sekarang dia hanyalah tinggal menunggu hasilnya dan akan segera terlepas
dari semuanya. Selamanya tidak akan pernah kembali dalam kehidupan
Skandar dan Falerinna, ataupun yang lain. Kenangan serta petualangan
yang dia rasakan di pertengahan bulan tahun 2009 ini cukup membawa arti
kehidupan tersendiri bagi Edward.
“Jika
aku belajar bersungguh-sungguh untuk memahami arti persahabatan selama
hidupku. Aku akan mengambil kesimpulan. Persahabatan adalah hal yang
sulit untuk aku rasakan. Kekuatan dan kebersamaan adalah kunci darinya.
Persahabatan, adalah kekuasaan tertinggi didalam jabatan diri seseorang.
Rasa apapun ada di sebuah persahabatan. Aku terkadang merindukan
persahabatan yang dulu sebelum jauh aku mengenal Falerinna. Tetapi, ini
takdirku dan bukan disebut juga karma. Aku tetap menghargai dan senang
memiliki persahabatan yang beraneka ragam. Karena menurutku, hidupku
lebih menjadi berwarna karenanya.” Edward tersenyum dan
menggeleng-gelengkan kepalanya. Tidak percaya dengan apa yang baru saja
dia ucapkan. Tidak menyangka dirinya akan sebijak yang sama sekali belum
pernah dia dengar. Dengan perasaan tenang dan senang, dia melihat
keramaian kota New York. Beberapa masyarakat tengah sibuk dengan
aktifitasnya dan sedangkan yang lain, mereka berusaha membuat diri
mereka santai. Dengan cara apapun. Dan satu lagi.. Sang sopir Taksi pun
yang melihat keheranan menatap Edward dari kaca spionnya yang sedari
tadi tertawa sendiri tanpa akibat.
**
Sesampainya
pada ujung jalan, Skandar membuka pintu yang sedikit lebih besar dari
dirinya. Dia meraih knop pintu dan langsung menariknya dengan sekuat
tenaga. Tiba-tiba, seberkas cahaya sangat terang menelusuk matanya dan
dia pun segera menutupkan matanya dengan kedua tangannya. Aroma udara
segar sudah bisa dia rasakan dan banyaknya suara masyarakat mulai
terdengar. Angin berhembus dengan pelan dan ketika Skandar melepaskan
tangannya dan membuka matanya, dia berada di depan café yang sebelumnya
pernah dia kunjungi beberapa waktu silam. Dia melihat lagi keseberang
jalan. Tetapi bangunan tersebut sudah hilang. Tidak ada lagi gerbang
besar yang hitam yang menutupi jalan disana. Tidak ada lagi bangunan
yang lusuh bak tua yang terpajang. Bangunan itu seperti cerita dongeng..
Hilang dengan sendirinya dan tak menyisakan jejak sedikitpun.
Orang-orang yang ada disekitar Skandar pun hanya menatap Skandar heran
dan terkadang mengikuti arah pandangan mata Skandar.
“Tuan. Anda ada masalah?” tepuk seseorang dari belakang ke bahu Skandar dan menyadarkan pandangan Skandar.
“Eh iya? Apa? Ummm, bukankah diseberang jalan itu ada bangunan yang tak asing?” Skandar bertanya.
“Bangunan yang maksud Tuan apakah bangunan yang tua yang ada gerbang besarnya?” tebak seseorang tersebut.
“Nah iya. Itu. Kenapa sekarang jadi nggak ada?” Skandar semakin terheran.
“Bangunan
itu memang mistis. Konon, dahulu bangunan itu dibuat oleh seorang dewa
entah darimana. Dewa tersebut bertujuan membuat bangunan itu karena
ingin menjebak seseorang. Bagi siapa yang berani-berani masuk kedalam
sana, dia akan mendapat suatu masalah besar. Katanya juga, didalam sana
ada rahasia besar yang disimpan dewa tersebut. Dan biasanya bagi siapa
yang sudah memasuki bangunan itu, dia tidak akan kembali. Melainkan
berakhir menjadi tengkorak didalam sana.” Jelas seseorang itu dengan
detail. Dan respon Skandar hanya menanggukan kepala menandakan bahwa dia
mengerti apa yang telah dijelaskan oleh seseorang itu.
“Oooh baiklah kalau begitu, Terima Kasih..” Skandar tersenyum.
“Tetapi
Tuan. Jika ada yang berhasil keluar, itu juga hidupnya belum tentu
aman. Arwah dewa itu akan mengejar targetnya dan akan mengakhiri hidup
targetnya dengan tragis.” Skandar diam. Perasaan takut mulai muncul lagi
dibatinnya dan dia berusaha menghilangkan ekspresi ketakutannya.
“Baik, Tuan. Terimakasih atas penjelasannya. Senang bertemu Anda..” setelah itu Skandar pergi dan berencana kembali ke hotel.
**
Falerinna
keluar. Merasakan oksigen yang selama ini dia rindukan. Rambutnya
berterbangan seperti biasa. Dan matanya tertutup merasakan kesejukan
ini. Falerinna berhasil lolos dari bangunan ini, namun dia tidak bisa
melihat banyak penduduk kota New York.Yang dia lihat disini hanya
tumbuh-tumbuhan dan ilalang berwarna hijau yang tumbuh dari tanah.
Kakinya menapaki tanah yang berlapiskan bunga mawar yang halus. Dia
melihat kebelakang, seluruhnya kosong. Hanya terdapat ilalang
dilingkungan ini. Falerinna tidak terlalu memikirkan kemana hilangnya
pintu keluar tersebut, yang terpenting dia sudah berhasil keluar dari
bangunan bak sampah itu.
Falerinna tersenyum dengan sedikit
perasaan riang. Yaaah, walaupun tidak ada Skandar disini tetapi
setidaknya dia berhasil menemukan jalan keluar. “Setidaknya napasku
tidak terlalu cepat hilang..” lirih Falerinna dan dia terbaring di tanah
beralaskan bunga mawar tersebut. Dia menatap awan yang berwarna biru
cerah sambil membayangkan wajah Skandar yang rupawan. Senyum-senyum dia
terus lakukan selama pengkhayalan itu, dan hingga tak tersadarkan dia
tertidur lelap…
#
“Fal!
Buka matamu! Ayo kita harus pergi!” teriak Julie tepat di gendang
telinga Falerinna. Falerinna membuka mata, dan dia kaget dengan
semuanya. Tangan kirinya digenggam oleh Julie dan sekarang dia berada di
sisi seberang jalan raya besar yang sampai sekarang belum diseberangi
juga.
“Kenapa aku ada disini?” tanya Falerinna.
“Kau bodoh!
Kau memang daritadi berada disini! Kita belum menyebrang 15 menit
karena kendaraannya banyak!” tukas Julie dengan emosi.
“Tetapi aku kabur darimu selama 2 hari!” ucap Falerinna memandang Julie.
“Kabur? 2 hari? Ngaco ah! Baru 15 menit udah dikira 2 hari. Kamu sakit Fal, heh?”
“Nggak.. Yaudah, lupakan..” ucap Falerinna dingin dan dia kembali menoleh kebelakang.
“Bangunannya nggak ada,”
“Hah? Apa? Bangunan yang mana?” terjang Julie mengikuti arah pandangan Falerinna.
“Nggak kok nggak. Nggak ada bangunan.” Alasan Falerinna dan kembali terfokus pada jalan besar yang ada dihadapannya.
“Fal, please. Aku sarankan kamu jangan terlalu banyak berimajinasi. Okay? Itu membuatmu seperti orang gila..”
Falerinna pun hanya tersenyum dan segera pergi menyebrang jalan besar bersama Julie.
**
To be continued~
Alferina's Fan Fiction
Minggu, 23 Maret 2014
Friendzone: Chapter 10 (Everything Has Changed)
Title : Friendzone
Author : Alferina
Genre : ______________
Pairing : Skandar Keynes x Falerinna
Rated : Teen
Length : Multichapter
“Semua kembali pada saat yang tak diharapkan. Namun, kuyakini. Everything has changed.” – Falerinna
“Tetaplah untukku..” –Skandar Keynes
**
Musik pun masih terus menggema di ruangan sempurna itu. Tidak ada yang buruk, semuanya benar-benar sempurna. Nuansa-nuansa yang romantis seakan-akan menghujat kedua pasangan yang sedang berdansa ini. Pikiran mereka hanya tertuju pada kesetiaan dan keabadian rasa sayang mereka kepada masing-masing pilihannya. Senyuman yang seikhlas mereka keluarkan selalu terpampang dibibir mereka. Wajah yang berdekatan, nafas yang terasa, hidung yang tersentuh, dan pelukan yang hangat semuanya rasanya tidak ingin terlepaskan.
Aku tidak peduli berapa lama kita akan melakukan ini. Pokoknya semua ini murni berasal dari kasih sayang hatimu. Bahkan aku ingin selamanya kita akan seperti ini.
Dan waktu untuk mereka tidaklah berarti penting. Persetan dengan waktu yang selalu menghabiskan semua kenangan indah-indah ini. Tidakkah waktu mengerti? Tidakkah waktu bisa merasakan? Dimana saat-saat yang sangat kita inginkan selalu terjadi tanpa akhirnya bisa disebut dengan masa lalu? Waktu itu hanya bagaikan sebuah penghalangan segalanya yang menakjubkan. Yaaah, yang walaupun sebenarnya tanpa berjalannya waktu mungkin mereka tidak akan bisa bertemu sampai sejauh ini.
“Aku berharap kita akan selalu bisa merasakan ini.” Ucap Falerinna dengan tatapan penuh harap dan merundukkan kepalanya kebawah lantai.
“Kita akan selalu bisa merasakan ini Fal. Selamanya.” balas Skandar dengan setiap nada yang menyakinkan. Menyentuh dagu Falerinna dan mengangkatnya secara perlahan. Menjadikan wajah sang Falerinna sangat berada dekat dengan wajah Skandar. “Yakinkanlah hatimu. Jika kau memang benar-benar berniat ingin selalu bersamaku, lihatlah jauh kedalam hatimu. Karena tuluslah perestu segalanya.”
“Aku akan berusaha menyakininya Skand. Aku akan mencari tahu..” balas lagi Falerinna yang akhirnya langsung memeluk tubuh Skandar yang agak sedikit besar dari Falerinna. Falerinna memeluk Skandar dengan erat, kepalanya menyentuh pundak Skandar, air mata pun tak luput juga dari kemeja Skandar yang terpaksa basah.
Skandar pun membalas semuanya dengan kembali memeluk Falerinna jauh ke dalam dekapannya. Mengelus-elus pundaknya, dan memegang tangannya yang dingin.
“Aku tidak akan pergi, Fal. Dekapanku selalu siap siaga terbuka untukmu.”
Setelah itu, Skandar pun meregangkan pelukannya dengan Falerinna dan mengecup kening Falerinna lama. Tangannya masih menggenggam tangan Falerinna yang dingin. Mengelus-elus rambut Falerinna yang panjang hitam nan lurus lalu menyisihkan sehelai demi sehelai rambut yang menghalangi wajah cantik Falerinna. Tersenyum memandangnya dan kembali memeluknya. Mereka pun menutup mata, dan tak tersadarkan.
**
Skandar membuka mata. Ia merintih. Tubuhnya kaku dan sakit mulai merambat ke seluruh jaringan tubuhnya. Sekilas, ia memikirkan hal yang baru saja ia rasakan seperti nyata. Falerinna.. Ya, dia disini. Itulah yang dirasakan Skandar. Ia memeluknya dan menciumnya secara nyata. Memegang tangannya dan bahkan sedikit merasakan detakan jantungnya yang kencang. Namun, kemana dia pergi? Dan kenapa semua suasana yang indah yang sempurna tersebut hilang? Kemana perginya waktu? Apakah benar secepat ini? Atau mungkin tadi itu hanya sebuah mimpi? Tetapi tidak mungkin. Itu nyata! Benar-benar secara detail Skandar merasakan tiap musik, irama, nada, lantai, nuansa, warna, dan aroma-aroma yang ada di dalamnya. Jadi, that’s really impossible if that just a dream!
“Bangunan ini, tempat ini, atau entahlah apa namanya yang seperti sampah ini aku tidak akan pernah mengerti waktu yang ada di dalam sini. Semuanya telah berubah. Berubah dengan cara yang tak lazim.”
Ia beranjak berdiri. Persis seperti mimpinya yang tadi ia rasakan. (Ia terbangun, beranjak beridri, meregangkan otot-otonya, dan mulai menaiki anak tangga yang ada di sebelah kanan).
“Mungkin ini memang tidak terlihat aneh. Tetapi, aku ingin bertemu Edward. Aku masih ingin mencarinya.”
Dengan peniatan yang sedari awal Skandar teguhkan akhirnya ia melanjutkan perjalanannya untuk mencari Edward. Mungkin Skandar tahu ia tidak perlu harus mencari Falerinna karena pasti semuanya hanyalah sebuah jebakan. Skandar tak terlalu memikirkannya atau mengkhawatirkannya, ia masih punya pendirian yang tetap untuk selalu ada disisinya. Apapun badai yang menerjang.
“Tetaplah untukku.” Ya itulah yang Skandar ingin dari Falerinna. Falerinna cinta terakhirnya yang Skandar yakini akan tetap terindah untuk cintanya. Perasaan seluruhnya tak akan mungkin bisa diubah dengan apapun.“Ya, dialah yang kupilih dan kutetapkan. Aku datang ke kehidupannya dan aku berhak untuk bertanggung jawab atas semuanya.”
**
Kau harus bisa mengatakan yang sejujurnya tentang masa lalumu, Edward. Jika kau terus menyembunyikannya maka resikolah yang harus kau terima. Tak selamanya rahasia masa lalumu akan selalu terjaga. Falerinna bisa membocorkan semua tentangmu. Dia juga pernah menyukaimu, namun kau tak pernah menanggapinya. Mengertilah. Kau sekarang sedang berada di dalam cinta segitiga teman-temanmu.
“Aku hanya tidak ingin menyakiti Skandar. Dia bisa sangat membenciku jika aku memberi tahu semuanya.”
Lebih baik seperti itu Ed. Karena pada dasarnya Skandar dan Falerinna akan bersatu, dan diantara mereka berdua akan menanyakan keberadaanmu.
“Biarkan aku terkunci disini. Aku tak peduli akan seperti apa aku akan berakhir. Aku hanya tidak ingin merepotkan mereka.”
Hidupmu masih panjang. Jangan menyerah. Kalau kau jujur, mungkin ada kemungkinan besar Skandar akan memaafkanmu. Daripada kau harus berakhir di tempat seperti ini?
“Aku lemah untuk mengatakannya.”
Yakinilah dirimu Ed. Falerinna masa lalamu dan Skandar sahabatmu….
**
Skandar
Yang kutahu pagi ini saat bangun tidur
Hanyalah kini aku tahu sesuatu
Yang aku tak tahu sebelumnya
Dan yang kulihat
Sejak 18 jam yang lalu
Hanyalah mata dan kerut hijau serta senyummu
Di sudut benakku membuatku merasa seperti…
Aku hanya ingin lebih mengenalmu
Karena yang kutahu hanyalah kita saling sapa
Dan matamu tampak seperti pulang
Yang kutahu hanyalah sebuah nama sederhana
Segalanya telah berubah
Yang kutahu hanyalah kau pegang pintu
Kau kan jadi milikku danaku kan jadi milikmu
Yang kutahu sejak kemarin
Hanyalah segalanya telah berubah
**
Falerinna
And all my walls
Stood tall painted blue
And I'll take 'em down, take 'em down and
Open up the door for you
And all I feel in my stomach is butterflies,
The beautiful kind
Making up for lost time
Taking flight making me feel like..
I just want to know you better
Come back and tell me why
I'm feeling like I've missed you allthis time
And meet me there tonight
And let me know that it's not all in my mind
I just want to know you better
**
“Dan semua yang ingin kuketahui tentang dirimu. Aku hanya ingin lebih mengenalmu.”
Falerinna menulusuri kembali jalan jebakannya. Tentu saja ia hanya berkhayal tentang tadi. Semua tidak mungkin ada Skandar yang kembali mengisi perasaan hancurnya. Bangunan tak bernama ini memang lebih cocok untuk dijadikan tempat penyutingan film. Semua waktu yang awalnya berjalan dengan semula secara tiba-tiba kembali ke masa lalu yang sangat jauh dan sekarang kembali lagi ke masa sekarang. 18 jam lalu yang dilewati dengan keindahan palsu cukup membuat Falerinna sedikit tenang. Merasakan dikecupnya Skandar serta semuanya yang diinginkan mungkin sudah cukup untuk terkabulkan. Waktu telah mempermainkan. Uang bahkan tidak berlaku disini, jadi cukup mengerti kondisi ini dan tetap berjalan kemana ia akan melangkah.
“Semua kembali pada saat yang tak diharapkan. Namun, kuyakini. Everything has changed.”
All I know is a new found grace
“Yang harus disyukuri.”
Mistisnya waktu yang telah terjadi sekarang dan semua tentang desain nuansa yang sangat mirip secara persis mungkin itu masih hanya dianggap sebagai halusinasi semata. Mungkin itu efek karena Falerinna merindukan kamar kecilnya yang nyaman. Tanpa disadari semuanya seperti kenyataan. Tetapi tetap Falerinna menganggap semuanya halusinasi benak. Tidak lain dari itu.
**
Yang kutahu hanya kita saling sapa
Maka gantungkanlah harapan tertinggimu
Yang kutahu hanyalah hujan yang mengguyur
And everything has changed
Hari-hariku, aku kan tahu wajahmu
Yang kutahu sejak kemarin hanyalah
Everything has changed.
**
To be continued~
Author : Alferina
Genre : ______________
Pairing : Skandar Keynes x Falerinna
Rated : Teen
Length : Multichapter
**
“Semua kembali pada saat yang tak diharapkan. Namun, kuyakini. Everything has changed.” – Falerinna
“Tetaplah untukku..” –Skandar Keynes
**
Musik pun masih terus menggema di ruangan sempurna itu. Tidak ada yang buruk, semuanya benar-benar sempurna. Nuansa-nuansa yang romantis seakan-akan menghujat kedua pasangan yang sedang berdansa ini. Pikiran mereka hanya tertuju pada kesetiaan dan keabadian rasa sayang mereka kepada masing-masing pilihannya. Senyuman yang seikhlas mereka keluarkan selalu terpampang dibibir mereka. Wajah yang berdekatan, nafas yang terasa, hidung yang tersentuh, dan pelukan yang hangat semuanya rasanya tidak ingin terlepaskan.
Aku tidak peduli berapa lama kita akan melakukan ini. Pokoknya semua ini murni berasal dari kasih sayang hatimu. Bahkan aku ingin selamanya kita akan seperti ini.
Dan waktu untuk mereka tidaklah berarti penting. Persetan dengan waktu yang selalu menghabiskan semua kenangan indah-indah ini. Tidakkah waktu mengerti? Tidakkah waktu bisa merasakan? Dimana saat-saat yang sangat kita inginkan selalu terjadi tanpa akhirnya bisa disebut dengan masa lalu? Waktu itu hanya bagaikan sebuah penghalangan segalanya yang menakjubkan. Yaaah, yang walaupun sebenarnya tanpa berjalannya waktu mungkin mereka tidak akan bisa bertemu sampai sejauh ini.
“Aku berharap kita akan selalu bisa merasakan ini.” Ucap Falerinna dengan tatapan penuh harap dan merundukkan kepalanya kebawah lantai.
“Kita akan selalu bisa merasakan ini Fal. Selamanya.” balas Skandar dengan setiap nada yang menyakinkan. Menyentuh dagu Falerinna dan mengangkatnya secara perlahan. Menjadikan wajah sang Falerinna sangat berada dekat dengan wajah Skandar. “Yakinkanlah hatimu. Jika kau memang benar-benar berniat ingin selalu bersamaku, lihatlah jauh kedalam hatimu. Karena tuluslah perestu segalanya.”
“Aku akan berusaha menyakininya Skand. Aku akan mencari tahu..” balas lagi Falerinna yang akhirnya langsung memeluk tubuh Skandar yang agak sedikit besar dari Falerinna. Falerinna memeluk Skandar dengan erat, kepalanya menyentuh pundak Skandar, air mata pun tak luput juga dari kemeja Skandar yang terpaksa basah.
Skandar pun membalas semuanya dengan kembali memeluk Falerinna jauh ke dalam dekapannya. Mengelus-elus pundaknya, dan memegang tangannya yang dingin.
“Aku tidak akan pergi, Fal. Dekapanku selalu siap siaga terbuka untukmu.”
Setelah itu, Skandar pun meregangkan pelukannya dengan Falerinna dan mengecup kening Falerinna lama. Tangannya masih menggenggam tangan Falerinna yang dingin. Mengelus-elus rambut Falerinna yang panjang hitam nan lurus lalu menyisihkan sehelai demi sehelai rambut yang menghalangi wajah cantik Falerinna. Tersenyum memandangnya dan kembali memeluknya. Mereka pun menutup mata, dan tak tersadarkan.
**
Skandar membuka mata. Ia merintih. Tubuhnya kaku dan sakit mulai merambat ke seluruh jaringan tubuhnya. Sekilas, ia memikirkan hal yang baru saja ia rasakan seperti nyata. Falerinna.. Ya, dia disini. Itulah yang dirasakan Skandar. Ia memeluknya dan menciumnya secara nyata. Memegang tangannya dan bahkan sedikit merasakan detakan jantungnya yang kencang. Namun, kemana dia pergi? Dan kenapa semua suasana yang indah yang sempurna tersebut hilang? Kemana perginya waktu? Apakah benar secepat ini? Atau mungkin tadi itu hanya sebuah mimpi? Tetapi tidak mungkin. Itu nyata! Benar-benar secara detail Skandar merasakan tiap musik, irama, nada, lantai, nuansa, warna, dan aroma-aroma yang ada di dalamnya. Jadi, that’s really impossible if that just a dream!
“Bangunan ini, tempat ini, atau entahlah apa namanya yang seperti sampah ini aku tidak akan pernah mengerti waktu yang ada di dalam sini. Semuanya telah berubah. Berubah dengan cara yang tak lazim.”
Ia beranjak berdiri. Persis seperti mimpinya yang tadi ia rasakan. (Ia terbangun, beranjak beridri, meregangkan otot-otonya, dan mulai menaiki anak tangga yang ada di sebelah kanan).
“Mungkin ini memang tidak terlihat aneh. Tetapi, aku ingin bertemu Edward. Aku masih ingin mencarinya.”
Dengan peniatan yang sedari awal Skandar teguhkan akhirnya ia melanjutkan perjalanannya untuk mencari Edward. Mungkin Skandar tahu ia tidak perlu harus mencari Falerinna karena pasti semuanya hanyalah sebuah jebakan. Skandar tak terlalu memikirkannya atau mengkhawatirkannya, ia masih punya pendirian yang tetap untuk selalu ada disisinya. Apapun badai yang menerjang.
“Tetaplah untukku.” Ya itulah yang Skandar ingin dari Falerinna. Falerinna cinta terakhirnya yang Skandar yakini akan tetap terindah untuk cintanya. Perasaan seluruhnya tak akan mungkin bisa diubah dengan apapun.“Ya, dialah yang kupilih dan kutetapkan. Aku datang ke kehidupannya dan aku berhak untuk bertanggung jawab atas semuanya.”
**
Kau harus bisa mengatakan yang sejujurnya tentang masa lalumu, Edward. Jika kau terus menyembunyikannya maka resikolah yang harus kau terima. Tak selamanya rahasia masa lalumu akan selalu terjaga. Falerinna bisa membocorkan semua tentangmu. Dia juga pernah menyukaimu, namun kau tak pernah menanggapinya. Mengertilah. Kau sekarang sedang berada di dalam cinta segitiga teman-temanmu.
“Aku hanya tidak ingin menyakiti Skandar. Dia bisa sangat membenciku jika aku memberi tahu semuanya.”
Lebih baik seperti itu Ed. Karena pada dasarnya Skandar dan Falerinna akan bersatu, dan diantara mereka berdua akan menanyakan keberadaanmu.
“Biarkan aku terkunci disini. Aku tak peduli akan seperti apa aku akan berakhir. Aku hanya tidak ingin merepotkan mereka.”
Hidupmu masih panjang. Jangan menyerah. Kalau kau jujur, mungkin ada kemungkinan besar Skandar akan memaafkanmu. Daripada kau harus berakhir di tempat seperti ini?
“Aku lemah untuk mengatakannya.”
Yakinilah dirimu Ed. Falerinna masa lalamu dan Skandar sahabatmu….
**
Skandar
Yang kutahu pagi ini saat bangun tidur
Hanyalah kini aku tahu sesuatu
Yang aku tak tahu sebelumnya
Dan yang kulihat
Sejak 18 jam yang lalu
Hanyalah mata dan kerut hijau serta senyummu
Di sudut benakku membuatku merasa seperti…
Aku hanya ingin lebih mengenalmu
Karena yang kutahu hanyalah kita saling sapa
Dan matamu tampak seperti pulang
Yang kutahu hanyalah sebuah nama sederhana
Segalanya telah berubah
Yang kutahu hanyalah kau pegang pintu
Kau kan jadi milikku danaku kan jadi milikmu
Yang kutahu sejak kemarin
Hanyalah segalanya telah berubah
**
Falerinna
And all my walls
Stood tall painted blue
And I'll take 'em down, take 'em down and
Open up the door for you
And all I feel in my stomach is butterflies,
The beautiful kind
Making up for lost time
Taking flight making me feel like..
I just want to know you better
Come back and tell me why
I'm feeling like I've missed you allthis time
And meet me there tonight
And let me know that it's not all in my mind
I just want to know you better
**
“Dan semua yang ingin kuketahui tentang dirimu. Aku hanya ingin lebih mengenalmu.”
Falerinna menulusuri kembali jalan jebakannya. Tentu saja ia hanya berkhayal tentang tadi. Semua tidak mungkin ada Skandar yang kembali mengisi perasaan hancurnya. Bangunan tak bernama ini memang lebih cocok untuk dijadikan tempat penyutingan film. Semua waktu yang awalnya berjalan dengan semula secara tiba-tiba kembali ke masa lalu yang sangat jauh dan sekarang kembali lagi ke masa sekarang. 18 jam lalu yang dilewati dengan keindahan palsu cukup membuat Falerinna sedikit tenang. Merasakan dikecupnya Skandar serta semuanya yang diinginkan mungkin sudah cukup untuk terkabulkan. Waktu telah mempermainkan. Uang bahkan tidak berlaku disini, jadi cukup mengerti kondisi ini dan tetap berjalan kemana ia akan melangkah.
“Semua kembali pada saat yang tak diharapkan. Namun, kuyakini. Everything has changed.”
All I know is a new found grace
“Yang harus disyukuri.”
Mistisnya waktu yang telah terjadi sekarang dan semua tentang desain nuansa yang sangat mirip secara persis mungkin itu masih hanya dianggap sebagai halusinasi semata. Mungkin itu efek karena Falerinna merindukan kamar kecilnya yang nyaman. Tanpa disadari semuanya seperti kenyataan. Tetapi tetap Falerinna menganggap semuanya halusinasi benak. Tidak lain dari itu.
**
Yang kutahu hanya kita saling sapa
Maka gantungkanlah harapan tertinggimu
Yang kutahu hanyalah hujan yang mengguyur
And everything has changed
Hari-hariku, aku kan tahu wajahmu
Yang kutahu sejak kemarin hanyalah
Everything has changed.
**
To be continued~
Friendzone: Chapter 9 (Never Wanna Let U Go)
Title : Friendzone
Author : Alferina
Genre : ______________
Pairing : Skandar Keynes x Falerinna
Rated : Teen
Length : Multichapter
Chapter Sebelumnya
Skandar menutup mata, mencoba melupakan sesosok itu. Membayangkan wajah Falerinna yang cantik –menurutnya-. Skandar tersenyum, dan ketika ia membuka mata.. Sesosok wajah yang hancur dilumuri dengan darah berada dihadapannya dan matanya yang tercongkel keluar secara perlahan.
“AAAAHHH!” Skandar pun berteriak dan langsung berlari kembali menuruni anak tangga.
“EDWARD! EDWARD! Dimana kau! Kurasa kita harus kembali! EDWARD!” Skandar terengah-engah, memanggil Edward tetapi tanpa ada jawaban.
“EDWARD! Kumohon! Kita harus keluar dari tempat ini..!!” tetap tidak ada jawaban. Skandar hampir takut setengah mati hari ini. Dia benar-benar menyesal telah masuk ke bangunan ini, dan sekarang ia sendirian. Tak tahu harus kemana dan Edward pun entah pergi kemana. Skandar terdiam. Berlutut dilantai dan meninjukan kepalan tangannya ke lantai.
“Kau bodoh Skand! Tak seharusnya kau disini! Kau memang bodoh!”
Skandar meremas rambutnya dan terduduk di lantai. Tubuhnya melemas dan ia tidak tahu harus bagaimana. Ia ingin menaiki tangga yang tadi dinaikkan tangga oleh Edward, namun di tangga tersebut. Sesosok kepala buntung sudah menghalanginya.
“Aku tidak tahu harus bagaimana sekarang…”
Nyawamu di tempat ini. Jika kau ingin keluar, lawanlah kami. Kau sudah menjadi budak kami lelaki persetan!
“Aku tidak peduli siapa kamu! Aku tidak takut denganmu!”
Kau hanya lelaki kecil yang tidak memiliki apa-apa selain rasa takut. Nyalimu kecil. Tak dapat sanggup melawan kami semua.
“Maumu apa huh? Membunuhku? Bunuh saja! Aku tidak akan takut!”
Ooh tidak, tidak. Kami tidak akan membunuhmu. Tetapi.. Kami akan membunuh seseorang yang kau cinta…
Falerinna.. Ya, dialah yang harus kami bunuh. Kau tidak pantas berada dihadapan Tuhan. Hanya dialah yang pantas. Jangan kau relakan nyawamu untuknya, karena jika kau begitu.. Akan ku sayat Falerinna dan ku ambil jantungnya lalu ku makan. Jangan pernah sekali-kali.
Skandar pun menangis. Kali ini memang bukan nyawanya yang terancam, namun seseorang yang dicintainyalah yang terancam.
Ia berpikir. Lebih baik ia yang mati daripada harus Falerinna yang mati. Dunia ini sama saja seperti neraka jika dia tidak bertemu Falerinna. Lebih baik dia sendiri masuk neraka tetapi bisa merasakan kebahagiaan Falerinna.
“Semua hal yang ku alami tidak yang lebih buruk, melainkan kehilangan Falerinna.” –Skandar
**
Chapter Selanjutnya
Juliean masih sibuk dengan pandangannya yang tertuju ke arah jalan untuk menyeberang. Sedangkan Falerinna, ia tetap memerhatikan bangunan yang tua bak lusuh itu. Dia memang sangat ingin memasuki bangunan itu, apalagi dengan adanya suara yang aneh yang mulai muncul dipikirannya. Entah apa mungkin yang merasuki pikirannya sehingga ia sendiri tidak focus. Yang jelas, ia sangat ingin memasuki bangunan tersebut.
Segenap detik Falerinna menoleh ke arah Julie. Untuk memastikan apakah Julie masih sibuk dengan memerhatikan jalan atau tidak. Setelah memastikan ternyata Julie masih terpaku dengan pandangannya yang sama sekali tidak pernah lepas dari sang jalan. “Ini waktu yang tepat!” ucap Falerinna dan setelah itu ia segera pergi berlari meninggalkan Julie seorang diri dan pergi ke bangunan itu.
Falerinna terus berlari secepat mungkin yang sampai akhirnya ia sampai pada gerbang yang besar berwarna hitam bak tinggi. Kabut-kabut gelap berwarna keabuan mulai menggempul di bangunan itu, membuat pandangan Falerinna sedikit terhalang. Dan dengan perasaan yang ragu-ragu, perlahan-lahan ia mulai memegang gerbang tersebut dan mulai menariknya dengan sekuat tenaga. “Arggh, susah sekali untuk membuka gerbang ini.” Ucap Falerinna dengan segenap usaha yang telah ia usahakan.
Mundurlah gadis manis. Aku akan membukakan gerbang itu.
Dengan hati-hati, Falerinna pun mengikuti perintah itu. Ia memundurkan langkahnya sebanyak 5 langkah dan melihat sang gerbang besar terbuka dengan sendirinya yang sedikit menimbulkan suara decitan yang mekikikan telinga. Falerinna tidak terkejut. Dia hanya cukup kagum dengan semua permainan ini. Dia sama sekali tidak takut ataupun merasa risih untuk ada disini. Toh, ini kemauan dirinya jadi, apapun masalahnya ia harus terima dengan mental yang kuat. Ia tahu ini tidak akan seburuk yang dipikirkan. Mungkin hanya dengan mendengarkan suara-suara aneh itu, ia bisa memecahkan semuanya.
**
Skandar terbangun. Matanya mengerjap beberapa kali, dan ia rasa tubuhnya pegal-pegal karena harus terbaring beberapa jam di lantai tak layak injak ini. Rambutnya yang hitam berantakan bagaimana singa yang tak dijinakkan. Bajunya terlipat-lipat tak beraturan bagaikan seorang peminta yang tersesat. Dan tatapan matanya pun juga terlihat sayu. Tidak seperti biasanya yang selalu ceria dengan hari apapun. Namun, wajah tampannya tidak pernah hilang dari jati dirinya. Walaupun seperti itu, wajahnya yang tampan nan manis tidak akan pernah luput dari apapun bagaimanapun kondisinya. *Authornya lagi sarap. Maklumin*
Ia tersadar kembali. Dia belum kembali ke hotel tempatnya menginap, melainkan dia masih disini. Di tempat yang sangat dia benci. Dia bangun dan menapakkan kakinya lagi. Mulai teringat –lagi— tentang kerabatnya–Edward—yang tak tahu kemana perginya. Dan kini, Skandar pun mulai melanjutkan perjalanannya lagi untuk menemukan Edward. Skandar datang ke anak tangga yang di sebelah kanan. Teringat disanalah dia dan Edward berpisah untuk menelusuri bangunan bodoh ini. Dengan pendirian yang teguh, Skandar menaiki anak tangga tersebut. Sepatunya tak lagi berdengung entah mengapa. Suasana di bangunan ini pun tampak semuanya berubah. Hingga Skandar ingin mencapai di puncak. Dia melihat sebuah ruangan yang sangat indah, bersih, dan rapi. Ruangan itu memang seperti sebuah ruangan baru yang selalu dibersihkan. Atap-atap yang tadinya penuh dengan sarang laba-laba kini sudah bersih bening dengan cat putih dan gambar-gambar awan. Lantai yang sudah berlumut kini sudah bersih dengan keramik yang indah bermotif batik. Dan dinding-dindingnya pun sangat bersih dengan warna dengan cat yang seperti pelangi. “Ruangan itu indah,” ucap Skandar dan ketika Skandar telah berada tepat di tengah ruangan itu dia melihat …………….
**
Falerinna terus menelusuri jalan bangunan itu. Falerinna selalu mengikuti kemana dia akan pergi sesuai dengan kemuan hatinya. Dan kini, dia telah sampai pada didepan sebuah pintu yang panjang tak terlalu lebar dengan knop yang dililitkan dengan tali raffia. “Ini tempat apa? Apa ditempat ini ada sesuatu?” Tanya Falerinna dalam hatinya. Dia mendekatkan telinganya hingga menempel dengan daun pintu dan mendengar suara alunan musik yang klasik memenuhi tempat itu. Dahi Falerinna berkerut, tampak aneh dengan bangunan ini. Bangunan yang tadinya kelihatan mengerikan dan misterius, sekarang setelah dia berada dilantai 3 bangunan itu, dia mendengar alunan musik klasik yang romantis. Yang entah siapa yang memutarkannya.
Tangannya pun mulai memegang knop pintu dan membuka daun pintu secara perlahan. Kepala Falerinna merunduk, melihat lantai yang sekarang tidak lagi buruk seperti yang lain. Cahaya yang lumayan terang dan aroma suasana yang nyaman tercium di indera penciumannya. Perlahan, dia mulai mendongakkan kepala dan langsung memasangkan wajah menganga ketika melihat apa yang ia lihat. Ruangan yang sama persis dengan kamarnya dulu waktu dia tinggal di Buckingham. Semuanya secara detail tak ada yang berbeda. Dia merasa dia kembali ke masa kecilnya. Dan sama sekali tak menyangka dengan hal yang baru saja dilihatnya.
Falerinna terus berjalan memasuki kamar tiruannya tersebut. Berjalan semakin dalam dan tak menghiraukan daun pintu yang tertutup dengan sendirinya. Alunan musik klasik yang ia sukainya adalah lagu favoritnya sendiri. Semua ini memang masa lalunya, dan tidak mengerti apa yang terjadi.
Namun, di tengah kamar tiruannnya, ia melihat seorang lelaki berbadan agak tinggi sedang berdiri terpaku tanpa bergerak. Rambutnya hitam dan memakai celana jeans serta baju yang –kalau tidak salah pernah Falerinna berikan kepada seseorang—Jika dilihat dari postur tubuh, lelaki itu mirip Skandar. Sang cinta matinya. Tetapi, Falerinna berpikir tidak mungkin Skandar ada di bangunan ini dan untuk apa juga jika benar itu Skandar? Dia tersesat? Bagaimana bisa?
Niat Falerinna yang ingin pergi meninggalkan lelaki itupun menjadi terhenti ketika sang lelaki tersebut memanggil namanya.
“Fal? Are you?” ucap lelaki itu dengan antusiasnya. Dengan secepat kilat Falerinna langsung kembali menolehkan wajahnya ke hadapan lelaki tersebut dan sangat terkejut melihatnya.
“Skandar? Do you? What, what are you doin’ here?” Tanya Falerinna tak kalah penasaran dan terkejut dengan raut wajah Skandar dan mulai menghampirinya.
“Yeah, It’s me. Skandar. Um, I dunno, mungkin aku terjebak disini.”
“Terjebak? Bagaimana bisa?”
“Entahlah, akupun juga kurang begitu bisa mendekskripsikannya. Bagaimana denganmu?”
“Aku juga Skand. Aku juga tak mengerti bagaimana aku bisa berada disini.”
“So, kita terjebak disini? Berdua saja?”
“Kupikir begitu..”
“Baiklah.”
Skandar mendekati Falerinna. Menatap iris mata Falerinna yang cokelat. Lalu memegang pinggang Falerinna erat-erat.
“Siap?”
“Untuk?”
“Dancing..”
Falerinna pun terkekeh kecil dan mengangguk dengan antusias. Falerinna segerap merangkul pundak Skandar, dan mendekatkan lagi wajahnya kewajah Skandar. Menempelkan ujung hidungnya dengan Skandar dan mulai tersenyum lebar. Perasaannya kini mulai kembali nyaman seperti kemarin-kemarin. Tentu indah karena adanya sang cinta matinya. Ia harap ia akan selalu bisa melewatkan semua kejadian ini bersama Skandar, namun mungkin permasalahan lah yang menjadi penghambatnya. Andai Skandar tahu bagaimana selama ini terpuruknya Falerinna saat Skandar pergi, mungkin Skandar akan melakukan hal yang akan diinginkan Falerinna.
“Kau tampak berantakan Skand. Apa yang telah kau lakukan?”
“Tidak ada. Yaa, tadi aku tidur sebentar di lantai dan mungkin inilah penyebabnya.”
“Oooh. Hehe, kau ini lucu ya..”
“Namanya juga Skandar J”
“Jangan mulai Skand..”
Iringan musik klasik itu bertambah dengan romantisnya. Suasana ketika berubah dengan suasana seperti di malam hari, yang diterangi cahaya bulan dan kerlap-kerlip bintang. Semua ini seperti pengaturan waktu acak. Kapanpun waktu akan bisa berubah, seiring mereka bersama.
“Kau tahu Fal? Aku sangat mencintaimu. From my heart.”
“Me too Skand. My love is just for you. Please, don’t go away again from me.”
“No, no. I will not do that. Believe me. I never wanna let you go. See my eyes.”
“Thank you.”
“Everything for you, sweetie. So, close your eyes. Let me kiss you and hug you.”
Falerinna pun menutup mata dan mulai merasakan ciuman Skandar yang telah datang ke wajahnya, serta pelukan hangat Skandar yang sangat Falerinna rindukan selama ini. Kasih sayang ini, Falerinna percaya tidak akan pernah terputus. Ia berjanji kepada dirinya sendiri. Sejauh apapun jarak yang dia miliki oleh Skandar. Seluruh kasih sayang, perhatian, cinta, dan peduli hanya tertuju kepada Skandar. Karena dia percaya jodoh bahkan takdir. Skandarnya hidup dan matinya.
**
“Tak akan pernah aku sesali lagi untuk memilikimu. Kau takdirku. Jadi, biarkanlah aku tetap bersamamu.” –Falerinna
**
To be continued
Author : Alferina
Genre : ______________
Pairing : Skandar Keynes x Falerinna
Rated : Teen
Length : Multichapter
**
Chapter Sebelumnya
Skandar menutup mata, mencoba melupakan sesosok itu. Membayangkan wajah Falerinna yang cantik –menurutnya-. Skandar tersenyum, dan ketika ia membuka mata.. Sesosok wajah yang hancur dilumuri dengan darah berada dihadapannya dan matanya yang tercongkel keluar secara perlahan.
“AAAAHHH!” Skandar pun berteriak dan langsung berlari kembali menuruni anak tangga.
“EDWARD! EDWARD! Dimana kau! Kurasa kita harus kembali! EDWARD!” Skandar terengah-engah, memanggil Edward tetapi tanpa ada jawaban.
“EDWARD! Kumohon! Kita harus keluar dari tempat ini..!!” tetap tidak ada jawaban. Skandar hampir takut setengah mati hari ini. Dia benar-benar menyesal telah masuk ke bangunan ini, dan sekarang ia sendirian. Tak tahu harus kemana dan Edward pun entah pergi kemana. Skandar terdiam. Berlutut dilantai dan meninjukan kepalan tangannya ke lantai.
“Kau bodoh Skand! Tak seharusnya kau disini! Kau memang bodoh!”
Skandar meremas rambutnya dan terduduk di lantai. Tubuhnya melemas dan ia tidak tahu harus bagaimana. Ia ingin menaiki tangga yang tadi dinaikkan tangga oleh Edward, namun di tangga tersebut. Sesosok kepala buntung sudah menghalanginya.
“Aku tidak tahu harus bagaimana sekarang…”
Nyawamu di tempat ini. Jika kau ingin keluar, lawanlah kami. Kau sudah menjadi budak kami lelaki persetan!
“Aku tidak peduli siapa kamu! Aku tidak takut denganmu!”
Kau hanya lelaki kecil yang tidak memiliki apa-apa selain rasa takut. Nyalimu kecil. Tak dapat sanggup melawan kami semua.
“Maumu apa huh? Membunuhku? Bunuh saja! Aku tidak akan takut!”
Ooh tidak, tidak. Kami tidak akan membunuhmu. Tetapi.. Kami akan membunuh seseorang yang kau cinta…
Falerinna.. Ya, dialah yang harus kami bunuh. Kau tidak pantas berada dihadapan Tuhan. Hanya dialah yang pantas. Jangan kau relakan nyawamu untuknya, karena jika kau begitu.. Akan ku sayat Falerinna dan ku ambil jantungnya lalu ku makan. Jangan pernah sekali-kali.
Skandar pun menangis. Kali ini memang bukan nyawanya yang terancam, namun seseorang yang dicintainyalah yang terancam.
Ia berpikir. Lebih baik ia yang mati daripada harus Falerinna yang mati. Dunia ini sama saja seperti neraka jika dia tidak bertemu Falerinna. Lebih baik dia sendiri masuk neraka tetapi bisa merasakan kebahagiaan Falerinna.
“Semua hal yang ku alami tidak yang lebih buruk, melainkan kehilangan Falerinna.” –Skandar
**
Chapter Selanjutnya
Juliean masih sibuk dengan pandangannya yang tertuju ke arah jalan untuk menyeberang. Sedangkan Falerinna, ia tetap memerhatikan bangunan yang tua bak lusuh itu. Dia memang sangat ingin memasuki bangunan itu, apalagi dengan adanya suara yang aneh yang mulai muncul dipikirannya. Entah apa mungkin yang merasuki pikirannya sehingga ia sendiri tidak focus. Yang jelas, ia sangat ingin memasuki bangunan tersebut.
Segenap detik Falerinna menoleh ke arah Julie. Untuk memastikan apakah Julie masih sibuk dengan memerhatikan jalan atau tidak. Setelah memastikan ternyata Julie masih terpaku dengan pandangannya yang sama sekali tidak pernah lepas dari sang jalan. “Ini waktu yang tepat!” ucap Falerinna dan setelah itu ia segera pergi berlari meninggalkan Julie seorang diri dan pergi ke bangunan itu.
Falerinna terus berlari secepat mungkin yang sampai akhirnya ia sampai pada gerbang yang besar berwarna hitam bak tinggi. Kabut-kabut gelap berwarna keabuan mulai menggempul di bangunan itu, membuat pandangan Falerinna sedikit terhalang. Dan dengan perasaan yang ragu-ragu, perlahan-lahan ia mulai memegang gerbang tersebut dan mulai menariknya dengan sekuat tenaga. “Arggh, susah sekali untuk membuka gerbang ini.” Ucap Falerinna dengan segenap usaha yang telah ia usahakan.
Mundurlah gadis manis. Aku akan membukakan gerbang itu.
Dengan hati-hati, Falerinna pun mengikuti perintah itu. Ia memundurkan langkahnya sebanyak 5 langkah dan melihat sang gerbang besar terbuka dengan sendirinya yang sedikit menimbulkan suara decitan yang mekikikan telinga. Falerinna tidak terkejut. Dia hanya cukup kagum dengan semua permainan ini. Dia sama sekali tidak takut ataupun merasa risih untuk ada disini. Toh, ini kemauan dirinya jadi, apapun masalahnya ia harus terima dengan mental yang kuat. Ia tahu ini tidak akan seburuk yang dipikirkan. Mungkin hanya dengan mendengarkan suara-suara aneh itu, ia bisa memecahkan semuanya.
**
Skandar terbangun. Matanya mengerjap beberapa kali, dan ia rasa tubuhnya pegal-pegal karena harus terbaring beberapa jam di lantai tak layak injak ini. Rambutnya yang hitam berantakan bagaimana singa yang tak dijinakkan. Bajunya terlipat-lipat tak beraturan bagaikan seorang peminta yang tersesat. Dan tatapan matanya pun juga terlihat sayu. Tidak seperti biasanya yang selalu ceria dengan hari apapun. Namun, wajah tampannya tidak pernah hilang dari jati dirinya. Walaupun seperti itu, wajahnya yang tampan nan manis tidak akan pernah luput dari apapun bagaimanapun kondisinya. *Authornya lagi sarap. Maklumin*
Ia tersadar kembali. Dia belum kembali ke hotel tempatnya menginap, melainkan dia masih disini. Di tempat yang sangat dia benci. Dia bangun dan menapakkan kakinya lagi. Mulai teringat –lagi— tentang kerabatnya–Edward—yang tak tahu kemana perginya. Dan kini, Skandar pun mulai melanjutkan perjalanannya lagi untuk menemukan Edward. Skandar datang ke anak tangga yang di sebelah kanan. Teringat disanalah dia dan Edward berpisah untuk menelusuri bangunan bodoh ini. Dengan pendirian yang teguh, Skandar menaiki anak tangga tersebut. Sepatunya tak lagi berdengung entah mengapa. Suasana di bangunan ini pun tampak semuanya berubah. Hingga Skandar ingin mencapai di puncak. Dia melihat sebuah ruangan yang sangat indah, bersih, dan rapi. Ruangan itu memang seperti sebuah ruangan baru yang selalu dibersihkan. Atap-atap yang tadinya penuh dengan sarang laba-laba kini sudah bersih bening dengan cat putih dan gambar-gambar awan. Lantai yang sudah berlumut kini sudah bersih dengan keramik yang indah bermotif batik. Dan dinding-dindingnya pun sangat bersih dengan warna dengan cat yang seperti pelangi. “Ruangan itu indah,” ucap Skandar dan ketika Skandar telah berada tepat di tengah ruangan itu dia melihat …………….
**
Falerinna terus menelusuri jalan bangunan itu. Falerinna selalu mengikuti kemana dia akan pergi sesuai dengan kemuan hatinya. Dan kini, dia telah sampai pada didepan sebuah pintu yang panjang tak terlalu lebar dengan knop yang dililitkan dengan tali raffia. “Ini tempat apa? Apa ditempat ini ada sesuatu?” Tanya Falerinna dalam hatinya. Dia mendekatkan telinganya hingga menempel dengan daun pintu dan mendengar suara alunan musik yang klasik memenuhi tempat itu. Dahi Falerinna berkerut, tampak aneh dengan bangunan ini. Bangunan yang tadinya kelihatan mengerikan dan misterius, sekarang setelah dia berada dilantai 3 bangunan itu, dia mendengar alunan musik klasik yang romantis. Yang entah siapa yang memutarkannya.
Tangannya pun mulai memegang knop pintu dan membuka daun pintu secara perlahan. Kepala Falerinna merunduk, melihat lantai yang sekarang tidak lagi buruk seperti yang lain. Cahaya yang lumayan terang dan aroma suasana yang nyaman tercium di indera penciumannya. Perlahan, dia mulai mendongakkan kepala dan langsung memasangkan wajah menganga ketika melihat apa yang ia lihat. Ruangan yang sama persis dengan kamarnya dulu waktu dia tinggal di Buckingham. Semuanya secara detail tak ada yang berbeda. Dia merasa dia kembali ke masa kecilnya. Dan sama sekali tak menyangka dengan hal yang baru saja dilihatnya.
Falerinna terus berjalan memasuki kamar tiruannya tersebut. Berjalan semakin dalam dan tak menghiraukan daun pintu yang tertutup dengan sendirinya. Alunan musik klasik yang ia sukainya adalah lagu favoritnya sendiri. Semua ini memang masa lalunya, dan tidak mengerti apa yang terjadi.
Namun, di tengah kamar tiruannnya, ia melihat seorang lelaki berbadan agak tinggi sedang berdiri terpaku tanpa bergerak. Rambutnya hitam dan memakai celana jeans serta baju yang –kalau tidak salah pernah Falerinna berikan kepada seseorang—Jika dilihat dari postur tubuh, lelaki itu mirip Skandar. Sang cinta matinya. Tetapi, Falerinna berpikir tidak mungkin Skandar ada di bangunan ini dan untuk apa juga jika benar itu Skandar? Dia tersesat? Bagaimana bisa?
Niat Falerinna yang ingin pergi meninggalkan lelaki itupun menjadi terhenti ketika sang lelaki tersebut memanggil namanya.
“Fal? Are you?” ucap lelaki itu dengan antusiasnya. Dengan secepat kilat Falerinna langsung kembali menolehkan wajahnya ke hadapan lelaki tersebut dan sangat terkejut melihatnya.
“Skandar? Do you? What, what are you doin’ here?” Tanya Falerinna tak kalah penasaran dan terkejut dengan raut wajah Skandar dan mulai menghampirinya.
“Yeah, It’s me. Skandar. Um, I dunno, mungkin aku terjebak disini.”
“Terjebak? Bagaimana bisa?”
“Entahlah, akupun juga kurang begitu bisa mendekskripsikannya. Bagaimana denganmu?”
“Aku juga Skand. Aku juga tak mengerti bagaimana aku bisa berada disini.”
“So, kita terjebak disini? Berdua saja?”
“Kupikir begitu..”
“Baiklah.”
Skandar mendekati Falerinna. Menatap iris mata Falerinna yang cokelat. Lalu memegang pinggang Falerinna erat-erat.
“Siap?”
“Untuk?”
“Dancing..”
Falerinna pun terkekeh kecil dan mengangguk dengan antusias. Falerinna segerap merangkul pundak Skandar, dan mendekatkan lagi wajahnya kewajah Skandar. Menempelkan ujung hidungnya dengan Skandar dan mulai tersenyum lebar. Perasaannya kini mulai kembali nyaman seperti kemarin-kemarin. Tentu indah karena adanya sang cinta matinya. Ia harap ia akan selalu bisa melewatkan semua kejadian ini bersama Skandar, namun mungkin permasalahan lah yang menjadi penghambatnya. Andai Skandar tahu bagaimana selama ini terpuruknya Falerinna saat Skandar pergi, mungkin Skandar akan melakukan hal yang akan diinginkan Falerinna.
“Kau tampak berantakan Skand. Apa yang telah kau lakukan?”
“Tidak ada. Yaa, tadi aku tidur sebentar di lantai dan mungkin inilah penyebabnya.”
“Oooh. Hehe, kau ini lucu ya..”
“Namanya juga Skandar J”
“Jangan mulai Skand..”
Iringan musik klasik itu bertambah dengan romantisnya. Suasana ketika berubah dengan suasana seperti di malam hari, yang diterangi cahaya bulan dan kerlap-kerlip bintang. Semua ini seperti pengaturan waktu acak. Kapanpun waktu akan bisa berubah, seiring mereka bersama.
“Kau tahu Fal? Aku sangat mencintaimu. From my heart.”
“Me too Skand. My love is just for you. Please, don’t go away again from me.”
“No, no. I will not do that. Believe me. I never wanna let you go. See my eyes.”
“Thank you.”
“Everything for you, sweetie. So, close your eyes. Let me kiss you and hug you.”
Falerinna pun menutup mata dan mulai merasakan ciuman Skandar yang telah datang ke wajahnya, serta pelukan hangat Skandar yang sangat Falerinna rindukan selama ini. Kasih sayang ini, Falerinna percaya tidak akan pernah terputus. Ia berjanji kepada dirinya sendiri. Sejauh apapun jarak yang dia miliki oleh Skandar. Seluruh kasih sayang, perhatian, cinta, dan peduli hanya tertuju kepada Skandar. Karena dia percaya jodoh bahkan takdir. Skandarnya hidup dan matinya.
**
“Tak akan pernah aku sesali lagi untuk memilikimu. Kau takdirku. Jadi, biarkanlah aku tetap bersamamu.” –Falerinna
**
To be continued
Friendzone: Chapter 8 (Mysterious Building)
Title : Friendzone
Author : Alferina
Genre : ___________________
Pairing : Skandar Keynes x Falerinna
Rated : Teen
Length : Multichapter
Chapter Sebelumnya
Skandar menitikkan air mata. Dia rasa, dia sekarang benar-benar kesepian. Benar-benar merasa kehilangan. Dengan foto itu, semua berhasil membuatnya menjadi sunyi. Edward pun merasa iba. Ia juga tak tega melihat temannya terpuruk kesedihan dan kesepian. Edward mengerti betul perasaan Skandar sebagaimana dulu Edward meninggalkan Falerinna juga. Itu memang sulit, tetapi sesulit apapun itu kita merasakannya, suatu saat kita bisa melupakannya.
“Andaikan kau tahu Skand. Aku juga memiliki hal yang sama persis dengan dirimu. Aku cukup mengenali Falerinna dahulu, dan aku pun juga merasa nyaman bila ada didekatnya. Dia membuatku jatuh cinta kepadanya, tetapi aku selalu berusaha untuk menyingkirkan perasaan itu. Aku tahu aku salah mencintainya, maka dari itu aku meninggalkannya, aku melupakannya. Tidak ada alasan lain untuk Falerinna selain itu. Aku meninggalkannya karena itu. Dan kau tahu bagaimana aku merasakannya? Itu seperti aku terjun kebawah jurang dan tertutusuk semua benda-benda tajam yang berada di bawahnya. Aku sepertimu dulu. Tetapi aku tetap berteguh diri untuk melupakannya dan meninggalkannya, semuanya tak akan bisa berjalan lancar jika aku tetap menjadi temannya. Dia termasuk yang terindah juga untukku.”
Ucap Edward dalam hatinya, masih dengan menatap Skandar yang menangis. Lalu Edward pun membukakan tangannya, dan membawa Skandar ke dalam pelukannya. Memeluk Skandar dengan penuh percaya diri untuk tetap bertahan dalam masalah ini. Edward yakin Falerinna juga akan membutuh Skandar suatu saat. Edward tahu Skandarlah yang Falerinna butuhkan, bukan dirinya. Semua masalalu yang Edward punyai harus dirahasiakan. Ia tidak ingin hati temannya terluka. Ia tidak mau bahwa sebenarnya dulu, Edward juga mencintai Falerinna.
“Aku hanya tidak mau Falerinna menjadi milik orang lain Ed. Aku hanya ingin Falerinna untukku, untuk masa depanku selanjutnya. Dia telah membiarkanku jatuh cinta kepadanya, maka dari itu ia harus bertanggu jawab sepenuhnya.” Ucap Skandar dalam bekapan Edward. Ia masih menangis mendalam. Tersedu-sedu. Memang sepertinya Skandar tidak bisa pergi menjauh dari Falerinna.
“Falerinna tidak akan meninggalkanmu Skand. Percayalah. Dia juga mencintaimu. Sekarang, dia hanya saja membutuhkan waktu untuk sendiri. Berikanlah waktu itu kepadanya”
“Jika itu memang yang terbaik. Maka akan kuberikan waktu itu.”
**
Dan mungkin semua yang sedang ada di dalam perjalan menuju New York ini, mengenang semua masa lalu mereka. Masa lalu dimana mereka sama sekali tidak pernah berpikir ke depan untuk memberikan yang terbaik bagi orang-orang yang mereka cintai. Ini memang sebuah persahabatan yang rumit. Antara Skandar, Falerinna, Edward, Michael, dan Jenny. Persahabatan ini tidak akan pernah berujung atau bertengah kepada kebahagiaan. Mungkin beberapa orang harus menerima resiko terburuknya. Mengakhiri semua kisahnya dengan mengucapkan Selamat Tinggal. Atau mungkin, mengakhiri semuanya tanpa apapun dan tanpa meninggalkan apapun. Takdirlah yang menentukan. Dan mereka, bukanlah seorang yang mempercayai adanya takdir.
**
Chapter Selanjutnya
Author Point of View’s
Falerinna pun membukakan kedua matanya yang agak sipit. Kepalanya masih pusing ditambah dengan badan yang merasa pegal-pegal. Ia merasakan empuk ditubuhnya menadahkan tubuhnya. Kepalanya terasa ada yang mengganjal begitupun dengan tubuh bagian atasnya.
“Dimana aku? Sepertinya aku tidak berada di dalam pesawat lagi.” Ucap Falerinna dengan suara kecilnya. Ia menoleh ke kiri dan ke kanan tak ada satupun yang ia lihat kecuali hanya seberkas cahaya yang terpantul dari luar jendela. Ia menggeserkan selimut tebal yang menutupi keseluruhan tubuhnya dan mulai meranjak turun dari tempat tidur singlenya. Ia berjalan menuju pintu, memegang knop pintu dan berniat ingin membukanya. Tetapi seketika niatnya terhenti ketika ia mendengar suara yang tak asing dari luar pintu.
“Apa kau yakin Ju? Apakah Falerinna baik-baik saja?”
“Tentu. Dia sedang tidur. Kumohon bantulah ia agar melupakan lelaki persetan itu.”
“Tentu. Aku akan berusaha Julie. Tidak akan pernah aku biarkan Falerinna terjebak seperti itu.”
Falerinna terdiam mematung. Sejenak otaknya berpikir. “Julie? Dengan siapa dia bicara? Kenapa dia menyebut namaku? Dan siapakah lelaki persetan itu?”
Pertanyaan pun segera melanda perasaan Falerinna secara bertubi-tubi. Ia sama sekali tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Semuanya terlihat misteri serta aneh. Semua sahabat maupun kerabatnya sama-sama menimbulkan aura kemistisan masing-masing yang tidak pernah Falerinna ketahui. Falerinna segera terpikir. Dengan adanya dia di New York ini dia yakin semua akan bertambah buruk. Bagi dirinya maupun orang lain. “Untuk apa aku jauh-jauh ke sini hanya untuk masalah seperti ini? Bodoh bukan? Sangat bodoh!”
**
“Skand.. Kau kenapa?” Ed bersuara di telinga Skandar. Mengalihkan pandangan Skandar yang sedari tadi tertuju pada satu bangunan yang sudah lusuh dan tua atau mungkin sama sekali tidak terpakai.
“Kau lihat bangunan itu Ed?” Skandar pun menunjukkan jari telunjuknya kea rah bangungan tersebut.
“Iya, kenapa? Ada yang salah dengan bangunan itu?”
“Tidak. Hanya saja aku mendengar sesuatu dari dalam sana.”
“Oh ayolah Skand. Jangan terlalu banyak berhalusinasi. Jangan seperti adikmu.”
“Aku serius Ed. Aku tidak pernah berbohong.”
“Lalu. Apa maumu?”
“Kita masuk kesana bagaimana?”
“What? Are you kidding Skand? That’s impossible!”
“No, no Edward. That’s possible for me. Ooh, come on..”
“Aku sama sekali tidak mengerti dengan pikiranmu Skand. Terserah kau sajalah. Aku akan menurut saja.”
“Nah, itu baru sahabatku…”
**
Juliean pun masuk ke kamar dan langsung duduk di sofa kuning panjang yang terletak menghadap ke luar jendela. Julie tersenyum memandang Falerinna sedangkan Falerinna hanya duduk di atas ranjang sambil membaca novel kesukaannya.
“Fal.. Kita harus bersiap-siap sekarang!”
“Kemana? Aku sedang sibuk. Maaf”
“Ayolah Fal. Jangen cemberut seperti itu. Aku tahu kau butuh refreshing.. Makanya aku ingin mengajakmu kesebuah tempat dimana kau pasti akan suka.”
“Kau tidak terlalu tahu kota New York Julie.. Jangan sok tahu.”
“Aku tahu kok. Ayolah aku yakin kau pasti suka..”
“Argh, baiklah baiklah.”
**
NGEEEKK…
Pintu bangunan itu pun terbuka. Langsung menimbulkan aura keanehan dalam diri kedua lelaki ini. Di dalam bangunan ini terlihat beberapa tangga yang sudah berjamur dan kotor, meja-meja kecil yang berserakan dan kertas-kertas lusuh nan kuning yang bertebaran ketika Skandar membuka bangunan tersebut.
Seketika bayangan hitam lewat di belakang kedua lelaki itu. Skandar dan Edward pun segera menolehkan wajah mereka ke belakang namun tidak terlihat apa-apa disana. Skandar bergemetar, Edward merinding. Mereka masing-masing mempunyai perasaan yang berbeda tentang bangunan ini. Semenjak mereka masuk kebangunan ini tidak ada satu kata patah pun yang keluar dari mulut mereka. Mereka hanya diam menyaksikan betapa sangat tuanya bangunan ini.
**
Julie dan Falerinna berjalan di atas trotoar yang menunjukkan jalan ke arah selatan Spring Street. Mereka berdua berjalan sembari membawa sebuah sapu tangan kecil yang tergenggam di tangan mereka masing-masing. Falerinna dengan rambut panjang hitamnya yang halus tampak manis dengan sorotan matanya yang indah menelusuk. Sedangkan Juliean, ia tampak simple dengan rambut bobnya yang tebal.
Ketika mereka ingin menyebrangi sebuah jalan, Falerinna tiba-tiba melihat sebuah bangunan yang tak ia asingi dalam hidupnya. Bangunan itu besar, tua, kotor, tak layak di pakai, dan berjamur.
Masuklah kesana gadis manis. Kau pasti menyukai tempat itu. Itu tempat yang seru untukmu. Ayolah,j angan ragu-ragu.
Falerinna tersontak kaget. Ia menoleh ke belakang tiada seorang pun disana melainkan Julie. Falerinna pun mencubit Julie.
“Aww, kau ini apa-apaan sih Fal? Sakit tahu..”
“Kau jangan suka menggodaku yaa.. Aku tidak suka!”
“Aku tidak menggodamu Fal. Aku sedari tadi sedang memperhatikan jalan. Kau ini kenapa sih?”
“Jangan bohong Julie..”
“Demi Tuhan Falerinna. Aku tidak menggodamu. Lagian siapa sih yang mau menggoda cewek judes kayak kamu..”
“Whateva~”
Falerinna pun kembali menatap bangunan itu. Dia penasaran dengan apa yang ada di dalamnya. Pikirannya tetap tertuju dengan suara yang barusan ia dengar sejara jelas di dalam benaknya. Seluruh rasa penasaran serta ragu benar-benar membuat Falerinna bingung apakah ia harus masuk ke dalam bangunan itu dan melihat apa yang ada di sana? Tetapi bangunan itu misterius. Akan berbahaya jika ia masuk sendirian. Lagi pula itu bukan tempat yang baik untuk dirinya.
Masuklah gadis manis, kau akan kehilangan sesuatu yang berharga jika kau tidak memasuki bangunan itu.I ngat! Nyawamu berada di bangunan itu!
**
Skandar dan Edward semakin dalam memasuki bangunan itu. Mereka berpisah, menelusuri sesuatu yang tidak penting dan di anggap ini hanya sebagai hiburan. Skandar pergi ke tangga yang sebelah kiri sedangkan Edward pergi ketangga yang sebelah kanan.
Skandar berjalan perlahan menuju ke atas. Suara sepatunya terdengar berdengung di ruangan itu. Skandar tetap berusaha menstabilitasikan perasaan takutnya. Tetap berniat ingin melangkah maju untuk mengetahui sejarah dari bangunan ini. Iris matanya yang cokelat tidak pernah lepas dari sebuah pandangan yang tidak asing untuknya. Ia terus mendaki anak tangga tersebut yang sampai akhirnya dia sampai di puncak anak tangga yang terakhir.
Di atas dia tidak melihat benda apapun. Itu hanya sebuah ruangan yang kosong. Tanpa beda sekecil apapun melainkan debu. Skandar melangkahkan kakinya ke dalam ruangan itu. Dia berjalan ke arah jendela, dan di kaca dia melihat sesosok lelaki tinggi besar nan seram berdiri dihadapannya dengan mata yang hilang dan muka yang rata. Skandar melangkah mundur. Memegang besi tangga dan menarik napas dalam dalam. Ia tahu ia terkejut, tapi ini bukan saatnya untuk berteriak. Dia masih harus melanjutnya penelusurannya mengenai bangunan ini.
Skandar menutup mata, mencoba melupakan sesosok itu. Membayangkan wajah Falerinna yang cantik –menurutnya-. Skandar tersenyum, dan ketika ia membuka mata.. Sesosok wajah yang hancur dilumuri dengan darah berada dihadapannya dan matanya yang tercongkel keluar secara perlahan.
“AAAAHHH!” Skandar pun berteriak dan langsung berlari kembali menuruni anak tangga.
“EDWARD! EDWARD! Dimana kau! Kurasa kita harus kembali! EDWARD!” Skandar terengah-engah, memanggil Edward tetapi tanpa ada jawaban.
“EDWARD! Kumohon! Kita harus keluar dari tempat ini..!!” tetap tidak ada jawaban. Skandar hampir takut setengah mati hari ini. Dia benar-benar menyesal telah masuk ke bangunan ini, dan sekarang ia sendirian. Tak tahu harus kemana dan Edward pun entah pergi kemana. Skandar terdiam. Berlutut dilantai dan meninjukan kepalan tangannya ke lantai.
“Kau bodoh Skand! Tak seharusnya kau disini! Kau memang bodoh!”
Skandar meremas rambutnya dan terduduk di lantai. Tubuhnya melemas dan ia tidak tahu harus bagaimana. Ia ingin menaiki tangga yang tadi dinaikkan tangga oleh Edward, namun di tangga tersebut. Sesosok kepala bunting sudah menghalanginya.
“Aku tidak tahu harus bagaimana sekarang…”
Nyawamu di tempat ini. Jika kau ingin keluar, lawanlah kami. Kau sudah menjadi budak kami lelaki persetan!
“Aku tidak peduli siapa kamu! Aku tidak takut denganmu!”
Kau hanya lelaki kecil yang tidak memiliki apa-apa selain rasa takut. Nyalimu kecil. Tak dapat sanggup melawan kami semua.
“Maumu apa huh? Membunuhku? Bunuh saja! Aku tidak akan takut!”
Ooh tidak, tidak. Kami tidak akan membunuhmu. Tetapi.. Kami akan membunuh seseorang yang kau cinta…
Falerinna.. Ya, dialah yang harus kami bunuh. Kau tidak pantas berada di hadapan Tuhan. Hanya dialah yang pantas. Jangan kau relakan nyawamu untuknya, karena jika kau begitu.. Akan ku sayat Falerinna dan ku ambil jantungnya lalu ku makan. Jangan pernah sekali-kali.
Skandar pun menangis. Kali ini memang bukan nyawanya yang terancam, namun seseorang yang dicintainyalah yang terancam.
Ia berpikir. Lebih baik ia yang mati daripada harus Falerinna yang mati. Dunia ini sama saja seperti neraka jika dia tidak bertemu Falerinna. Lebih baik dia sendiri masuk neraka tetapi bisa merasakan kebahagiaan Falerinna.
“Semua hal yang ku alami tiada yang lebih buruk, melainkan kehilangan Falerinna.” –Skandar
**
To be continued~
Author : Alferina
Genre : ___________________
Pairing : Skandar Keynes x Falerinna
Rated : Teen
Length : Multichapter
**
Skandar menitikkan air mata. Dia rasa, dia sekarang benar-benar kesepian. Benar-benar merasa kehilangan. Dengan foto itu, semua berhasil membuatnya menjadi sunyi. Edward pun merasa iba. Ia juga tak tega melihat temannya terpuruk kesedihan dan kesepian. Edward mengerti betul perasaan Skandar sebagaimana dulu Edward meninggalkan Falerinna juga. Itu memang sulit, tetapi sesulit apapun itu kita merasakannya, suatu saat kita bisa melupakannya.
“Andaikan kau tahu Skand. Aku juga memiliki hal yang sama persis dengan dirimu. Aku cukup mengenali Falerinna dahulu, dan aku pun juga merasa nyaman bila ada didekatnya. Dia membuatku jatuh cinta kepadanya, tetapi aku selalu berusaha untuk menyingkirkan perasaan itu. Aku tahu aku salah mencintainya, maka dari itu aku meninggalkannya, aku melupakannya. Tidak ada alasan lain untuk Falerinna selain itu. Aku meninggalkannya karena itu. Dan kau tahu bagaimana aku merasakannya? Itu seperti aku terjun kebawah jurang dan tertutusuk semua benda-benda tajam yang berada di bawahnya. Aku sepertimu dulu. Tetapi aku tetap berteguh diri untuk melupakannya dan meninggalkannya, semuanya tak akan bisa berjalan lancar jika aku tetap menjadi temannya. Dia termasuk yang terindah juga untukku.”
Ucap Edward dalam hatinya, masih dengan menatap Skandar yang menangis. Lalu Edward pun membukakan tangannya, dan membawa Skandar ke dalam pelukannya. Memeluk Skandar dengan penuh percaya diri untuk tetap bertahan dalam masalah ini. Edward yakin Falerinna juga akan membutuh Skandar suatu saat. Edward tahu Skandarlah yang Falerinna butuhkan, bukan dirinya. Semua masalalu yang Edward punyai harus dirahasiakan. Ia tidak ingin hati temannya terluka. Ia tidak mau bahwa sebenarnya dulu, Edward juga mencintai Falerinna.
“Aku hanya tidak mau Falerinna menjadi milik orang lain Ed. Aku hanya ingin Falerinna untukku, untuk masa depanku selanjutnya. Dia telah membiarkanku jatuh cinta kepadanya, maka dari itu ia harus bertanggu jawab sepenuhnya.” Ucap Skandar dalam bekapan Edward. Ia masih menangis mendalam. Tersedu-sedu. Memang sepertinya Skandar tidak bisa pergi menjauh dari Falerinna.
“Falerinna tidak akan meninggalkanmu Skand. Percayalah. Dia juga mencintaimu. Sekarang, dia hanya saja membutuhkan waktu untuk sendiri. Berikanlah waktu itu kepadanya”
“Jika itu memang yang terbaik. Maka akan kuberikan waktu itu.”
**
Dan mungkin semua yang sedang ada di dalam perjalan menuju New York ini, mengenang semua masa lalu mereka. Masa lalu dimana mereka sama sekali tidak pernah berpikir ke depan untuk memberikan yang terbaik bagi orang-orang yang mereka cintai. Ini memang sebuah persahabatan yang rumit. Antara Skandar, Falerinna, Edward, Michael, dan Jenny. Persahabatan ini tidak akan pernah berujung atau bertengah kepada kebahagiaan. Mungkin beberapa orang harus menerima resiko terburuknya. Mengakhiri semua kisahnya dengan mengucapkan Selamat Tinggal. Atau mungkin, mengakhiri semuanya tanpa apapun dan tanpa meninggalkan apapun. Takdirlah yang menentukan. Dan mereka, bukanlah seorang yang mempercayai adanya takdir.
**
Chapter Selanjutnya
Author Point of View’s
Falerinna pun membukakan kedua matanya yang agak sipit. Kepalanya masih pusing ditambah dengan badan yang merasa pegal-pegal. Ia merasakan empuk ditubuhnya menadahkan tubuhnya. Kepalanya terasa ada yang mengganjal begitupun dengan tubuh bagian atasnya.
“Dimana aku? Sepertinya aku tidak berada di dalam pesawat lagi.” Ucap Falerinna dengan suara kecilnya. Ia menoleh ke kiri dan ke kanan tak ada satupun yang ia lihat kecuali hanya seberkas cahaya yang terpantul dari luar jendela. Ia menggeserkan selimut tebal yang menutupi keseluruhan tubuhnya dan mulai meranjak turun dari tempat tidur singlenya. Ia berjalan menuju pintu, memegang knop pintu dan berniat ingin membukanya. Tetapi seketika niatnya terhenti ketika ia mendengar suara yang tak asing dari luar pintu.
“Apa kau yakin Ju? Apakah Falerinna baik-baik saja?”
“Tentu. Dia sedang tidur. Kumohon bantulah ia agar melupakan lelaki persetan itu.”
“Tentu. Aku akan berusaha Julie. Tidak akan pernah aku biarkan Falerinna terjebak seperti itu.”
Falerinna terdiam mematung. Sejenak otaknya berpikir. “Julie? Dengan siapa dia bicara? Kenapa dia menyebut namaku? Dan siapakah lelaki persetan itu?”
Pertanyaan pun segera melanda perasaan Falerinna secara bertubi-tubi. Ia sama sekali tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Semuanya terlihat misteri serta aneh. Semua sahabat maupun kerabatnya sama-sama menimbulkan aura kemistisan masing-masing yang tidak pernah Falerinna ketahui. Falerinna segera terpikir. Dengan adanya dia di New York ini dia yakin semua akan bertambah buruk. Bagi dirinya maupun orang lain. “Untuk apa aku jauh-jauh ke sini hanya untuk masalah seperti ini? Bodoh bukan? Sangat bodoh!”
**
“Skand.. Kau kenapa?” Ed bersuara di telinga Skandar. Mengalihkan pandangan Skandar yang sedari tadi tertuju pada satu bangunan yang sudah lusuh dan tua atau mungkin sama sekali tidak terpakai.
“Kau lihat bangunan itu Ed?” Skandar pun menunjukkan jari telunjuknya kea rah bangungan tersebut.
“Iya, kenapa? Ada yang salah dengan bangunan itu?”
“Tidak. Hanya saja aku mendengar sesuatu dari dalam sana.”
“Oh ayolah Skand. Jangan terlalu banyak berhalusinasi. Jangan seperti adikmu.”
“Aku serius Ed. Aku tidak pernah berbohong.”
“Lalu. Apa maumu?”
“Kita masuk kesana bagaimana?”
“What? Are you kidding Skand? That’s impossible!”
“No, no Edward. That’s possible for me. Ooh, come on..”
“Aku sama sekali tidak mengerti dengan pikiranmu Skand. Terserah kau sajalah. Aku akan menurut saja.”
“Nah, itu baru sahabatku…”
**
Juliean pun masuk ke kamar dan langsung duduk di sofa kuning panjang yang terletak menghadap ke luar jendela. Julie tersenyum memandang Falerinna sedangkan Falerinna hanya duduk di atas ranjang sambil membaca novel kesukaannya.
“Fal.. Kita harus bersiap-siap sekarang!”
“Kemana? Aku sedang sibuk. Maaf”
“Ayolah Fal. Jangen cemberut seperti itu. Aku tahu kau butuh refreshing.. Makanya aku ingin mengajakmu kesebuah tempat dimana kau pasti akan suka.”
“Kau tidak terlalu tahu kota New York Julie.. Jangan sok tahu.”
“Aku tahu kok. Ayolah aku yakin kau pasti suka..”
“Argh, baiklah baiklah.”
**
NGEEEKK…
Pintu bangunan itu pun terbuka. Langsung menimbulkan aura keanehan dalam diri kedua lelaki ini. Di dalam bangunan ini terlihat beberapa tangga yang sudah berjamur dan kotor, meja-meja kecil yang berserakan dan kertas-kertas lusuh nan kuning yang bertebaran ketika Skandar membuka bangunan tersebut.
Seketika bayangan hitam lewat di belakang kedua lelaki itu. Skandar dan Edward pun segera menolehkan wajah mereka ke belakang namun tidak terlihat apa-apa disana. Skandar bergemetar, Edward merinding. Mereka masing-masing mempunyai perasaan yang berbeda tentang bangunan ini. Semenjak mereka masuk kebangunan ini tidak ada satu kata patah pun yang keluar dari mulut mereka. Mereka hanya diam menyaksikan betapa sangat tuanya bangunan ini.
**
Julie dan Falerinna berjalan di atas trotoar yang menunjukkan jalan ke arah selatan Spring Street. Mereka berdua berjalan sembari membawa sebuah sapu tangan kecil yang tergenggam di tangan mereka masing-masing. Falerinna dengan rambut panjang hitamnya yang halus tampak manis dengan sorotan matanya yang indah menelusuk. Sedangkan Juliean, ia tampak simple dengan rambut bobnya yang tebal.
Ketika mereka ingin menyebrangi sebuah jalan, Falerinna tiba-tiba melihat sebuah bangunan yang tak ia asingi dalam hidupnya. Bangunan itu besar, tua, kotor, tak layak di pakai, dan berjamur.
Masuklah kesana gadis manis. Kau pasti menyukai tempat itu. Itu tempat yang seru untukmu. Ayolah,j angan ragu-ragu.
Falerinna tersontak kaget. Ia menoleh ke belakang tiada seorang pun disana melainkan Julie. Falerinna pun mencubit Julie.
“Aww, kau ini apa-apaan sih Fal? Sakit tahu..”
“Kau jangan suka menggodaku yaa.. Aku tidak suka!”
“Aku tidak menggodamu Fal. Aku sedari tadi sedang memperhatikan jalan. Kau ini kenapa sih?”
“Jangan bohong Julie..”
“Demi Tuhan Falerinna. Aku tidak menggodamu. Lagian siapa sih yang mau menggoda cewek judes kayak kamu..”
“Whateva~”
Falerinna pun kembali menatap bangunan itu. Dia penasaran dengan apa yang ada di dalamnya. Pikirannya tetap tertuju dengan suara yang barusan ia dengar sejara jelas di dalam benaknya. Seluruh rasa penasaran serta ragu benar-benar membuat Falerinna bingung apakah ia harus masuk ke dalam bangunan itu dan melihat apa yang ada di sana? Tetapi bangunan itu misterius. Akan berbahaya jika ia masuk sendirian. Lagi pula itu bukan tempat yang baik untuk dirinya.
Masuklah gadis manis, kau akan kehilangan sesuatu yang berharga jika kau tidak memasuki bangunan itu.I ngat! Nyawamu berada di bangunan itu!
**
Skandar dan Edward semakin dalam memasuki bangunan itu. Mereka berpisah, menelusuri sesuatu yang tidak penting dan di anggap ini hanya sebagai hiburan. Skandar pergi ke tangga yang sebelah kiri sedangkan Edward pergi ketangga yang sebelah kanan.
Skandar berjalan perlahan menuju ke atas. Suara sepatunya terdengar berdengung di ruangan itu. Skandar tetap berusaha menstabilitasikan perasaan takutnya. Tetap berniat ingin melangkah maju untuk mengetahui sejarah dari bangunan ini. Iris matanya yang cokelat tidak pernah lepas dari sebuah pandangan yang tidak asing untuknya. Ia terus mendaki anak tangga tersebut yang sampai akhirnya dia sampai di puncak anak tangga yang terakhir.
Di atas dia tidak melihat benda apapun. Itu hanya sebuah ruangan yang kosong. Tanpa beda sekecil apapun melainkan debu. Skandar melangkahkan kakinya ke dalam ruangan itu. Dia berjalan ke arah jendela, dan di kaca dia melihat sesosok lelaki tinggi besar nan seram berdiri dihadapannya dengan mata yang hilang dan muka yang rata. Skandar melangkah mundur. Memegang besi tangga dan menarik napas dalam dalam. Ia tahu ia terkejut, tapi ini bukan saatnya untuk berteriak. Dia masih harus melanjutnya penelusurannya mengenai bangunan ini.
Skandar menutup mata, mencoba melupakan sesosok itu. Membayangkan wajah Falerinna yang cantik –menurutnya-. Skandar tersenyum, dan ketika ia membuka mata.. Sesosok wajah yang hancur dilumuri dengan darah berada dihadapannya dan matanya yang tercongkel keluar secara perlahan.
“AAAAHHH!” Skandar pun berteriak dan langsung berlari kembali menuruni anak tangga.
“EDWARD! EDWARD! Dimana kau! Kurasa kita harus kembali! EDWARD!” Skandar terengah-engah, memanggil Edward tetapi tanpa ada jawaban.
“EDWARD! Kumohon! Kita harus keluar dari tempat ini..!!” tetap tidak ada jawaban. Skandar hampir takut setengah mati hari ini. Dia benar-benar menyesal telah masuk ke bangunan ini, dan sekarang ia sendirian. Tak tahu harus kemana dan Edward pun entah pergi kemana. Skandar terdiam. Berlutut dilantai dan meninjukan kepalan tangannya ke lantai.
“Kau bodoh Skand! Tak seharusnya kau disini! Kau memang bodoh!”
Skandar meremas rambutnya dan terduduk di lantai. Tubuhnya melemas dan ia tidak tahu harus bagaimana. Ia ingin menaiki tangga yang tadi dinaikkan tangga oleh Edward, namun di tangga tersebut. Sesosok kepala bunting sudah menghalanginya.
“Aku tidak tahu harus bagaimana sekarang…”
Nyawamu di tempat ini. Jika kau ingin keluar, lawanlah kami. Kau sudah menjadi budak kami lelaki persetan!
“Aku tidak peduli siapa kamu! Aku tidak takut denganmu!”
Kau hanya lelaki kecil yang tidak memiliki apa-apa selain rasa takut. Nyalimu kecil. Tak dapat sanggup melawan kami semua.
“Maumu apa huh? Membunuhku? Bunuh saja! Aku tidak akan takut!”
Ooh tidak, tidak. Kami tidak akan membunuhmu. Tetapi.. Kami akan membunuh seseorang yang kau cinta…
Falerinna.. Ya, dialah yang harus kami bunuh. Kau tidak pantas berada di hadapan Tuhan. Hanya dialah yang pantas. Jangan kau relakan nyawamu untuknya, karena jika kau begitu.. Akan ku sayat Falerinna dan ku ambil jantungnya lalu ku makan. Jangan pernah sekali-kali.
Skandar pun menangis. Kali ini memang bukan nyawanya yang terancam, namun seseorang yang dicintainyalah yang terancam.
Ia berpikir. Lebih baik ia yang mati daripada harus Falerinna yang mati. Dunia ini sama saja seperti neraka jika dia tidak bertemu Falerinna. Lebih baik dia sendiri masuk neraka tetapi bisa merasakan kebahagiaan Falerinna.
“Semua hal yang ku alami tiada yang lebih buruk, melainkan kehilangan Falerinna.” –Skandar
**
To be continued~
Friendzone: Chapter 7 (Back To Memories)
Title : Friendzone
Author : Alferina
Genre : ______________________
Pairing : Skandar Keynes x Falerinna
Rated : Teen
Length : Multichapter
Chapter Sebelumnya
Skandar Point of View’s
Kini aku sudah berada di bandara bersama Edward. Akhirnya hari ini aku bisa pergi ke New York untuk menyelesaikan persahabatan ini. Well, sepertinya Edward terpaksa menemaniku ke New York.Dia terpaksa harus cuti kuliah selama 2 Minggu hanya untuk menemaniku. Memang benar-benar teman yang setia untukku.
Sebenarnya terpaksa kita harus datang lebih awal, kita sebenarnya ingin mengambil jadwal terbang jam 3 sore tadi, tetapi karena kita terlambat datang akhirnya kita terpaksa mengambil jadwal terbang jam 7 malam. Well, hanya untuk menunggu beberapa jam itu tidak apa-apa kan?Sekali kali lah bersabar..
“Skand, bagaimana dengan Lily?” tiba-tiba Edward bertanya kepadaku yang terlihat sedang memerhatikanku secara penasaran.
“Tenang saja Ed, dia akan aman bersama tanteku.” Jawabku secara santai dan menatap kembali mata Edward yang sedari tadi melihatku secara intens
“Baguslah. Kukira adikmu itu akan merengek minta ikut.”
“Tadinya begitu, tetapi setelah kubujuk akhirnya dia mengerti.”
“Apa yang kau katakan kepada adikmu itu? Jika sekarang kau akan pergi ke New York”
“Aku tidak perlu berkata apapun Ed. Dia sudah mengetahuinya dari awal. Kau lupa kalau Lily itu punya indra ke 6?”
“Hmm, sepertinya aku lupa dengan kenyataan itu”
“Kau kan memang pelupa Ed. Bahkan dengan teman masa kecilmu saja kau lupa.”
“Tidak kok. Aku tidak pelupa.. Aku tahu siapa teman masa kecilku”
“Oh ya? Siapa namanya?”
“Namanya adalah Fal…-“
“Hah? Falerinna maksudmu?!” sontak aku terkejut mendengar Edward menyebutkan nama depannya “Fal”.. Ya, nama panggilan itu kan seharusnya ditujukan kepada Falerinna, kenapa dia menyebutkannya? Apa benar Edward adalah teman masa kecil Falerinna? Tetapi kenapa Falerinna tidak bercerita kepadaku? Kenapa semua orang membohongiku? Aku seperti di permainkan.
“Tidak Skand.. Dengarkan aku dulu. Teman masa kecilku itu bukan Falerinna melainkan.. Umm, mm.. Yaa namanya .. Sudahlah lupakan Skand. Jangan membahas tentang masa lalu. Kau tahu aku ini bukan orang yang suka memflashback?”
“Baiklah. Aku akan mengerti. Tetapi jika kau membohongiku, aku tidak akan memaafkanmu Ed.”
“Ya, ya, ya.. Terserah kau sajalah.”
**
Falerinna Point of View’s
“Ju.. Berapa jam lagi kita akan segera terbang?”
“1 jam lagi Fal. Kenapa?”
“Tidak.. Aku hanya bertanya saja”
Kami pun duduk di sebuah kursi panjang dekat loker pemesanan tiket. Aku pun melihat ke kiri dan ke kanan, semuanya sama. Banyak orang disini. Mungkin mereka juga ingin pergi ke suatu tempat. Tempat yang baik untuknya, tempat dimana mereka bisa beristirahat dan senang-senang. Tidak sepertiku, yang pergi ke suatu tempat hanya untuk mengingat masa laluku. Sepertinya hidupku ini penuh dengan kesengsaraan ya. Berbeda dengan semua makhluk hidup yang ada dimuka bumi. Tetapi mungkin, ini adalah cara Tuhan satu-satunya untuk menunjukkan sampai dimana ketahanan imanku.
Pandanganku terus beralih kepada semua orang yang ada dibandara ini. Hmm, sepertinya.. Semua orang disini tidak ada yang kukenal.. Memang iya kan, lagipula siapa yangmau kenal dengan orang macam aku ini? Orang yang selalu terjebak dalam cobaan.
**
Author Point of View’s
Iris mata Falerinna pun masih menggidik ke sekitarnya, ia masih memperhatikan sosok sosok semua orang yang ada disini. Sungguh, ia sama sekali tidak tertarik dengan semua orang yang ada disini, kecuali … Satu orang yang dia lihat secara tidak sengaja
“Skandar?? Edward?? Apa yang mereka lakukan disini? Mereka ingin pergi kemana? Dan waitt!! Skandar bersama Edward? Darimana Skandar kenal dengan Edward, dan bukankah Edward itu teman masa laluku? Kenapa mereka bisa bersama?
Oh Tuhan.. Ini semakin memburuk. Ini seperti semacam… Ohh noo. Hell”
Chapter Selanjutnya
Falerinna Point of View’s
Aku masih tidak percaya dengan apa yang kulihat. Ini terlalu mustahil untuk dipercaya. Mereka ingin pergi kemana? Ke New York? Atau ke kota lain? Apa aku harus mencari tahu? Apa aku harus mengikuti mereka? Tidak, tidak.. Itu ide terburuk. Biarkan saja mereka pergi. Toh, mereka sekarang bukan siapa-siapa lagi. Apalagi Edward. Aku membencinya. Dia melupakanku, dia meninggalkanku. Kukira Edward akan menjadi teman masa kecilku yang bahagia tetapi tidak. Itu jauh dari semua perkiraanku.
Waktu yang tersisa tinggal 30 menit lagi. Dan selanjutnya, aku beserta Juliean harus segera terbang menuju NY.
Kondisi malam ini di bandara Kennedy, cuaca cukup dingin menulusuk. Padahal di rumahku cuaca sedang panas.
Kulihat, Juliean sedang duduk disampingku, memegang ponselnya dan sedang senyum-senyum sendiri. Mungkin dia sedang berkomunikasi dengan pacarnya (?)
Pesawat Internasional London, Inggris akan segera berangkat menuju New York dalam waktu 15 menit lagi. Diharapkan untuk para penumpang segera masuk ke dalam pesawat dan duduk dikursinya masing-masing. Terima kasih
“Julie., kita harus segera naik ke pesawat sekarang. Ini perintah” ucapku kepada Juliean dan segera beranjak berdiri lalu mengambil dan membawa koper-koperku.
“Baiklah Fal. Apa kau sudah siap?”
“Sepertinya begitu. Ayo”
Kami berdua pun berjalan melewati beberapa loker dan masuk ke dalam sebuah ruangan yang besar. Di mana setelah ruangan itu terdapat banyak pesawat yang banyak dan cukup besar. Seumur hidupku aku sama sekali belum pernah menaiki pesawat. Dan kurasa ini adalah pengalaman pertama dimana aku naik pesawat dan pergi ke luar kota. Yah, walaupun tujuanku hanya untuk sebuah masalah yang sangat sangat membuatku depresi.
Setelah aku dan Juliean menemukan tempat duduk kami, kami pun segera duduk dan bersandar di kursi tersebut. Beristirahat dan meregangkan semua otot-otot kami yang pegal karena harus menunggu 1 jam lebih untuk naik kepesawat ini. Aku sengaja memilih untuk duduk di kursi paling pojok dekat jendela, karena agar aku dapat bisa melihat pemandangan malam hari di atas langit sembari terbang. Membayangkan hal itu seperti aku memang terbang tanpa kendaraan, melainkan dengan sayap. Tahukah kalian betapa sangat ingin aku memiliki sayap untuk terbang dan melarikan diri kemanapun sesukaku agar aku bebas dari semua orang yang membenciku(?) Ya, itulah harapanku. Pergi terbang, memiliki sayap tanpa harus repot jalan kesana kemari untuk menunggu kendaraan.
I’ll spread my wings and learn how to fly
I’ll do what it takes til’ I touch the sky and I’ll
Make a wish, take a chance, make a change, and breakaway..
**
Author Point of View’s
“Kau tahu, bagaimana rasanya kehilangan orang yang kita cintai?” tiba-tiba Skandar bersuara, memandang ke luar jendela, melihat awan-awan dan sembari memegang ponsel.
“Ya, aku tahu. Itu menyakitkan” jawab Edward tetapi pandangannya tetap lurus menuju ke sebuah majalah yang kini sedang ia baca
“Dan kau tahu bagaimana aku menghadapinya?”
“Skand.. Aku tahu ini rumit. Terima saja. Kita akan segera menyelesaikannya.”
“Ed. Aku ingin kau mendengarku, okay? Aku ingin melampiaskan semuanya”
“Baiklah.. Terserah kau.”
Skandar pun merubah posisinya. Menghadap Edward. Menatap iris mata coklat Edward dan mengambil sebuah selembar foto yang ada di kantung jaketnya. Skandar menatap foto itu mendalam, dan memejamkan mata. Merasakan dulu indahnya semua kejadian yang ia lewatkan bersama Falerinna. Ia tersadar, semua sudah berlalu. Ia tersadar, semua hanyalah kenangan. Skandar tersenyum lebar tetap dengan matanya yang terpejam. Tangan kanannya mendekap sebuah foto dengan lembut, dan mungkin sekarang Skandar merasakan ia mulai kembali ke masa lalunya bersama Falerinna. Edward pun hanya melihat kelakuan temannya itu. Edward tidak mengerti dengan apa yang Skandar lakukan sekarang. Edward hanya bisa diam, memandang Skandar tanpa berbicara.
“Aku melihat senyumannya” ucap Skandar “Itu indah. Dia tertawa bahagia bersamaku. Dia memegang tanganku, dan dia duduk disampingku. Menatapku dengan tatapan sendunya untuk mendengarkan aku bercerita. Rambutnya terkulai panjang, senyumnya masih menempel di wajahnya. Disitu aku mulai merasakan bahwa aku jatuh cinta kepadanya. Disana aku bisa nyaman bersamanya. Untuk menemaninya, untuk menjaganya, untuk memeluknya, dan untuk membuatnya cerah. Saat itu adalah saat terindah pertama yang ku alami. Tak pernah aku sangka atau menyakini bahwa kini aku tidak akan bisa melewatkan masa-masa itu lagi. Itu langka dalam hidupku. Sulit untuk mencari perempuan yang seperti dia. Pengertian dan selalu tahu apa yang kuinginkan. Dia segalanya, dia terindah, dia terbaik yang kumiliki. Satu-satunya harta kedua teristimewa yang pernah aku genggam dihatiku dan takkan pernah pergi selamanya. Aku tahu Tuhan akan selalu tersenyum untukku dan untuknya hanya untuk melihatnya bahagia. Kami berdua selalu meyakini hal itu sejauh apapun semua yang telah ditakdirkan.”
Skandar menitikkan air mata. Dia rasa, dia sekarang benar-benar kesepian. Benar-benar merasa kehilangan. Dengan foto itu, semua berhasil membuatnya menjadi sunyi. Edward pun merasa iba. Ia juga tak tega melihat temannya terpuruk kesedihan dan kesepian. Edward mengerti betul perasaan Skandar sebagaimana dulu Edward meninggalkan Falerinna juga. Itu memang sulit, tetapi sesulit apapun itu kita merasakannya, suatu saat kita bisa melupakannya.
“Andaikan kau tahu Skand. Aku juga memiliki hal yang sama persis dengan dirimu. Aku cukup mengenali Falerinna dahulu, dan akupun juga merasa nyaman bila ada didekatnya. Dia membuatku jatuh cinta kepadanya, tetapi aku selalu berusaha untuk menyingkirkan perasaan itu. Aku tahu aku salah mencintainya, maka dari itu aku meninggalkannya, aku melupakannya. Tidak ada alasan lain untuk Falerinna selain itu. Aku meninggalkannya karena itu. Dan kau tahu bagaimana aku merasakannya? Itu seperti aku terjun kebawah jurang dan tertutusuk semua benda-benda tajam yang berada di bawahnya. Aku sepertimu dulu. Tetapi aku tetap berteguh diri untuk melupakannya dan meninggalkannya, semuanya tak akan bisa berjalan lancar jika aku tetap menjadi temannya. Dia termasuk yang terindah juga untukku.”
Ucap Edward dalam hatinya, masih dengan menatap Skandar yang menangis. Lalu Edward pun membukakan tangannya, dan membawa Skandar ke dalam pelukannya. Memeluk Skandar dengan penuh percaya diri untuk tetap bertahan dalam masalah ini. Edward yakin Falerinna juga akan membutuh Skandar suatu saat. Edward tahu Skandarlah yang Falerinna butuhkan, bukan dirinya. Semua masalalu yang Edward punyai harus dirahasiakan. Ia tidak ingin hati temannya terluka. Ia tidak mau bahwa sebenarnya dulu, Edward juga mencintai Falerinna.
“Aku hanya tidak mau Falerinna menjadi milik orang lain Ed. Aku hanya ingin Falerinna untukku, untuk masa depanku selanjutnya. Dia telah membiarkanku jatuh cinta kepadanya, maka dari itu ia harus bertanggu jawab sepenuhnya.” Ucap Skandar dalam bekapan Edward. Ia masih menangis mendalam. Tersedu-sedu. Memang sepertinya Skandar tidak bisa pergi menjauh dari Falerinna.
“Falerinna tidak akan meninggalkanmu Skand. Percayalah. Dia juga mencintaimu. Sekarang, dia hanya saja membutuhkan waktu untuk sendiri. Berikanlah waktu itu kepadanya”
“Jika itu memang yang terbaik. Maka akan kuberikan waktu itu.”
**
Flahsback Words
Skandar: “Jika ini hidupku. Aku tidak akan menerimanya sampai kapanpun. Aku tetap tidak terima dengan takdirku yang seperti ini. Jika aku menjadi Tuhan, akan kubuat semua yang ada di dunia ini karena cinta. Karena menurutku, cintalah yang memperindah segalanya.”
Falerinna: “Aku tidak pernah membiarkan orang-orang disekitaku melihatku dengan terpesona. Aku hanya ingin mereka bahagia karena aku, dan tersenyum karena aku. Aku sama sekali tidak ingin membiarkan Edward dan Skandar jatuh cinta kepadaku. Aku hanya… Memerdulikan mereka”
Edward: “Aku tahu semua masalah ini. Aku tidak akan pernah punya keinginan untuk kembali pada Falerinna. Aku tahu itu hanya memperburuk keadaannya. Skandar yang dia inginkan. Bukan aku. Bukan teman masa kecilnya. Sejauh apapun kau melupakanku Falerinna, dan sejauh apapun kau membenciku. Hatiku tetap berteguh mengenang semuanya.”
**
Dan mungkin semua yang sedang ada di dalam perjalan menuju New York ini, mengenang semua masa lalu mereka. Masa lalu dimana mereka sama sekali tidak pernah berpikir kedepan untuk memberika yang terbaik bagi orang-orang yang mereka cintai. Ini memang sebuah persahabatan yang rumit. Antara Skandar, Falerinna, Edward, Michael, dan Jenny. Persahabatan ini tidak akan pernah berujung atau bertengah kepada kebahagiaan. Mungkin beberapa orang harus menerima resiko terburuknya. Mengakhiri semua kisahnya dengan mengucapkan Selamat Tinggal. Atau mungkin, mengakhiri semuanya tanpa apapun dan tanpa meninggalkan apapun. Takdirlah yang menentukan. Dan mereka, bukanlah seorang yang mempercayai adanya takdir.
**
To be Continued~
Author : Alferina
Genre : ______________________
Pairing : Skandar Keynes x Falerinna
Rated : Teen
Length : Multichapter
**
Chapter Sebelumnya
Skandar Point of View’s
Kini aku sudah berada di bandara bersama Edward. Akhirnya hari ini aku bisa pergi ke New York untuk menyelesaikan persahabatan ini. Well, sepertinya Edward terpaksa menemaniku ke New York.Dia terpaksa harus cuti kuliah selama 2 Minggu hanya untuk menemaniku. Memang benar-benar teman yang setia untukku.
Sebenarnya terpaksa kita harus datang lebih awal, kita sebenarnya ingin mengambil jadwal terbang jam 3 sore tadi, tetapi karena kita terlambat datang akhirnya kita terpaksa mengambil jadwal terbang jam 7 malam. Well, hanya untuk menunggu beberapa jam itu tidak apa-apa kan?Sekali kali lah bersabar..
“Skand, bagaimana dengan Lily?” tiba-tiba Edward bertanya kepadaku yang terlihat sedang memerhatikanku secara penasaran.
“Tenang saja Ed, dia akan aman bersama tanteku.” Jawabku secara santai dan menatap kembali mata Edward yang sedari tadi melihatku secara intens
“Baguslah. Kukira adikmu itu akan merengek minta ikut.”
“Tadinya begitu, tetapi setelah kubujuk akhirnya dia mengerti.”
“Apa yang kau katakan kepada adikmu itu? Jika sekarang kau akan pergi ke New York”
“Aku tidak perlu berkata apapun Ed. Dia sudah mengetahuinya dari awal. Kau lupa kalau Lily itu punya indra ke 6?”
“Hmm, sepertinya aku lupa dengan kenyataan itu”
“Kau kan memang pelupa Ed. Bahkan dengan teman masa kecilmu saja kau lupa.”
“Tidak kok. Aku tidak pelupa.. Aku tahu siapa teman masa kecilku”
“Oh ya? Siapa namanya?”
“Namanya adalah Fal…-“
“Hah? Falerinna maksudmu?!” sontak aku terkejut mendengar Edward menyebutkan nama depannya “Fal”.. Ya, nama panggilan itu kan seharusnya ditujukan kepada Falerinna, kenapa dia menyebutkannya? Apa benar Edward adalah teman masa kecil Falerinna? Tetapi kenapa Falerinna tidak bercerita kepadaku? Kenapa semua orang membohongiku? Aku seperti di permainkan.
“Tidak Skand.. Dengarkan aku dulu. Teman masa kecilku itu bukan Falerinna melainkan.. Umm, mm.. Yaa namanya .. Sudahlah lupakan Skand. Jangan membahas tentang masa lalu. Kau tahu aku ini bukan orang yang suka memflashback?”
“Baiklah. Aku akan mengerti. Tetapi jika kau membohongiku, aku tidak akan memaafkanmu Ed.”
“Ya, ya, ya.. Terserah kau sajalah.”
**
Falerinna Point of View’s
“Ju.. Berapa jam lagi kita akan segera terbang?”
“1 jam lagi Fal. Kenapa?”
“Tidak.. Aku hanya bertanya saja”
Kami pun duduk di sebuah kursi panjang dekat loker pemesanan tiket. Aku pun melihat ke kiri dan ke kanan, semuanya sama. Banyak orang disini. Mungkin mereka juga ingin pergi ke suatu tempat. Tempat yang baik untuknya, tempat dimana mereka bisa beristirahat dan senang-senang. Tidak sepertiku, yang pergi ke suatu tempat hanya untuk mengingat masa laluku. Sepertinya hidupku ini penuh dengan kesengsaraan ya. Berbeda dengan semua makhluk hidup yang ada dimuka bumi. Tetapi mungkin, ini adalah cara Tuhan satu-satunya untuk menunjukkan sampai dimana ketahanan imanku.
Pandanganku terus beralih kepada semua orang yang ada dibandara ini. Hmm, sepertinya.. Semua orang disini tidak ada yang kukenal.. Memang iya kan, lagipula siapa yangmau kenal dengan orang macam aku ini? Orang yang selalu terjebak dalam cobaan.
**
Author Point of View’s
Iris mata Falerinna pun masih menggidik ke sekitarnya, ia masih memperhatikan sosok sosok semua orang yang ada disini. Sungguh, ia sama sekali tidak tertarik dengan semua orang yang ada disini, kecuali … Satu orang yang dia lihat secara tidak sengaja
“Skandar?? Edward?? Apa yang mereka lakukan disini? Mereka ingin pergi kemana? Dan waitt!! Skandar bersama Edward? Darimana Skandar kenal dengan Edward, dan bukankah Edward itu teman masa laluku? Kenapa mereka bisa bersama?
Oh Tuhan.. Ini semakin memburuk. Ini seperti semacam… Ohh noo. Hell”
Chapter Selanjutnya
Falerinna Point of View’s
Aku masih tidak percaya dengan apa yang kulihat. Ini terlalu mustahil untuk dipercaya. Mereka ingin pergi kemana? Ke New York? Atau ke kota lain? Apa aku harus mencari tahu? Apa aku harus mengikuti mereka? Tidak, tidak.. Itu ide terburuk. Biarkan saja mereka pergi. Toh, mereka sekarang bukan siapa-siapa lagi. Apalagi Edward. Aku membencinya. Dia melupakanku, dia meninggalkanku. Kukira Edward akan menjadi teman masa kecilku yang bahagia tetapi tidak. Itu jauh dari semua perkiraanku.
Waktu yang tersisa tinggal 30 menit lagi. Dan selanjutnya, aku beserta Juliean harus segera terbang menuju NY.
Kondisi malam ini di bandara Kennedy, cuaca cukup dingin menulusuk. Padahal di rumahku cuaca sedang panas.
Kulihat, Juliean sedang duduk disampingku, memegang ponselnya dan sedang senyum-senyum sendiri. Mungkin dia sedang berkomunikasi dengan pacarnya (?)
Pesawat Internasional London, Inggris akan segera berangkat menuju New York dalam waktu 15 menit lagi. Diharapkan untuk para penumpang segera masuk ke dalam pesawat dan duduk dikursinya masing-masing. Terima kasih
“Julie., kita harus segera naik ke pesawat sekarang. Ini perintah” ucapku kepada Juliean dan segera beranjak berdiri lalu mengambil dan membawa koper-koperku.
“Baiklah Fal. Apa kau sudah siap?”
“Sepertinya begitu. Ayo”
Kami berdua pun berjalan melewati beberapa loker dan masuk ke dalam sebuah ruangan yang besar. Di mana setelah ruangan itu terdapat banyak pesawat yang banyak dan cukup besar. Seumur hidupku aku sama sekali belum pernah menaiki pesawat. Dan kurasa ini adalah pengalaman pertama dimana aku naik pesawat dan pergi ke luar kota. Yah, walaupun tujuanku hanya untuk sebuah masalah yang sangat sangat membuatku depresi.
Setelah aku dan Juliean menemukan tempat duduk kami, kami pun segera duduk dan bersandar di kursi tersebut. Beristirahat dan meregangkan semua otot-otot kami yang pegal karena harus menunggu 1 jam lebih untuk naik kepesawat ini. Aku sengaja memilih untuk duduk di kursi paling pojok dekat jendela, karena agar aku dapat bisa melihat pemandangan malam hari di atas langit sembari terbang. Membayangkan hal itu seperti aku memang terbang tanpa kendaraan, melainkan dengan sayap. Tahukah kalian betapa sangat ingin aku memiliki sayap untuk terbang dan melarikan diri kemanapun sesukaku agar aku bebas dari semua orang yang membenciku(?) Ya, itulah harapanku. Pergi terbang, memiliki sayap tanpa harus repot jalan kesana kemari untuk menunggu kendaraan.
I’ll spread my wings and learn how to fly
I’ll do what it takes til’ I touch the sky and I’ll
Make a wish, take a chance, make a change, and breakaway..
**
Author Point of View’s
“Kau tahu, bagaimana rasanya kehilangan orang yang kita cintai?” tiba-tiba Skandar bersuara, memandang ke luar jendela, melihat awan-awan dan sembari memegang ponsel.
“Ya, aku tahu. Itu menyakitkan” jawab Edward tetapi pandangannya tetap lurus menuju ke sebuah majalah yang kini sedang ia baca
“Dan kau tahu bagaimana aku menghadapinya?”
“Skand.. Aku tahu ini rumit. Terima saja. Kita akan segera menyelesaikannya.”
“Ed. Aku ingin kau mendengarku, okay? Aku ingin melampiaskan semuanya”
“Baiklah.. Terserah kau.”
Skandar pun merubah posisinya. Menghadap Edward. Menatap iris mata coklat Edward dan mengambil sebuah selembar foto yang ada di kantung jaketnya. Skandar menatap foto itu mendalam, dan memejamkan mata. Merasakan dulu indahnya semua kejadian yang ia lewatkan bersama Falerinna. Ia tersadar, semua sudah berlalu. Ia tersadar, semua hanyalah kenangan. Skandar tersenyum lebar tetap dengan matanya yang terpejam. Tangan kanannya mendekap sebuah foto dengan lembut, dan mungkin sekarang Skandar merasakan ia mulai kembali ke masa lalunya bersama Falerinna. Edward pun hanya melihat kelakuan temannya itu. Edward tidak mengerti dengan apa yang Skandar lakukan sekarang. Edward hanya bisa diam, memandang Skandar tanpa berbicara.
“Aku melihat senyumannya” ucap Skandar “Itu indah. Dia tertawa bahagia bersamaku. Dia memegang tanganku, dan dia duduk disampingku. Menatapku dengan tatapan sendunya untuk mendengarkan aku bercerita. Rambutnya terkulai panjang, senyumnya masih menempel di wajahnya. Disitu aku mulai merasakan bahwa aku jatuh cinta kepadanya. Disana aku bisa nyaman bersamanya. Untuk menemaninya, untuk menjaganya, untuk memeluknya, dan untuk membuatnya cerah. Saat itu adalah saat terindah pertama yang ku alami. Tak pernah aku sangka atau menyakini bahwa kini aku tidak akan bisa melewatkan masa-masa itu lagi. Itu langka dalam hidupku. Sulit untuk mencari perempuan yang seperti dia. Pengertian dan selalu tahu apa yang kuinginkan. Dia segalanya, dia terindah, dia terbaik yang kumiliki. Satu-satunya harta kedua teristimewa yang pernah aku genggam dihatiku dan takkan pernah pergi selamanya. Aku tahu Tuhan akan selalu tersenyum untukku dan untuknya hanya untuk melihatnya bahagia. Kami berdua selalu meyakini hal itu sejauh apapun semua yang telah ditakdirkan.”
Skandar menitikkan air mata. Dia rasa, dia sekarang benar-benar kesepian. Benar-benar merasa kehilangan. Dengan foto itu, semua berhasil membuatnya menjadi sunyi. Edward pun merasa iba. Ia juga tak tega melihat temannya terpuruk kesedihan dan kesepian. Edward mengerti betul perasaan Skandar sebagaimana dulu Edward meninggalkan Falerinna juga. Itu memang sulit, tetapi sesulit apapun itu kita merasakannya, suatu saat kita bisa melupakannya.
“Andaikan kau tahu Skand. Aku juga memiliki hal yang sama persis dengan dirimu. Aku cukup mengenali Falerinna dahulu, dan akupun juga merasa nyaman bila ada didekatnya. Dia membuatku jatuh cinta kepadanya, tetapi aku selalu berusaha untuk menyingkirkan perasaan itu. Aku tahu aku salah mencintainya, maka dari itu aku meninggalkannya, aku melupakannya. Tidak ada alasan lain untuk Falerinna selain itu. Aku meninggalkannya karena itu. Dan kau tahu bagaimana aku merasakannya? Itu seperti aku terjun kebawah jurang dan tertutusuk semua benda-benda tajam yang berada di bawahnya. Aku sepertimu dulu. Tetapi aku tetap berteguh diri untuk melupakannya dan meninggalkannya, semuanya tak akan bisa berjalan lancar jika aku tetap menjadi temannya. Dia termasuk yang terindah juga untukku.”
Ucap Edward dalam hatinya, masih dengan menatap Skandar yang menangis. Lalu Edward pun membukakan tangannya, dan membawa Skandar ke dalam pelukannya. Memeluk Skandar dengan penuh percaya diri untuk tetap bertahan dalam masalah ini. Edward yakin Falerinna juga akan membutuh Skandar suatu saat. Edward tahu Skandarlah yang Falerinna butuhkan, bukan dirinya. Semua masalalu yang Edward punyai harus dirahasiakan. Ia tidak ingin hati temannya terluka. Ia tidak mau bahwa sebenarnya dulu, Edward juga mencintai Falerinna.
“Aku hanya tidak mau Falerinna menjadi milik orang lain Ed. Aku hanya ingin Falerinna untukku, untuk masa depanku selanjutnya. Dia telah membiarkanku jatuh cinta kepadanya, maka dari itu ia harus bertanggu jawab sepenuhnya.” Ucap Skandar dalam bekapan Edward. Ia masih menangis mendalam. Tersedu-sedu. Memang sepertinya Skandar tidak bisa pergi menjauh dari Falerinna.
“Falerinna tidak akan meninggalkanmu Skand. Percayalah. Dia juga mencintaimu. Sekarang, dia hanya saja membutuhkan waktu untuk sendiri. Berikanlah waktu itu kepadanya”
“Jika itu memang yang terbaik. Maka akan kuberikan waktu itu.”
**
Flahsback Words
Skandar: “Jika ini hidupku. Aku tidak akan menerimanya sampai kapanpun. Aku tetap tidak terima dengan takdirku yang seperti ini. Jika aku menjadi Tuhan, akan kubuat semua yang ada di dunia ini karena cinta. Karena menurutku, cintalah yang memperindah segalanya.”
Falerinna: “Aku tidak pernah membiarkan orang-orang disekitaku melihatku dengan terpesona. Aku hanya ingin mereka bahagia karena aku, dan tersenyum karena aku. Aku sama sekali tidak ingin membiarkan Edward dan Skandar jatuh cinta kepadaku. Aku hanya… Memerdulikan mereka”
Edward: “Aku tahu semua masalah ini. Aku tidak akan pernah punya keinginan untuk kembali pada Falerinna. Aku tahu itu hanya memperburuk keadaannya. Skandar yang dia inginkan. Bukan aku. Bukan teman masa kecilnya. Sejauh apapun kau melupakanku Falerinna, dan sejauh apapun kau membenciku. Hatiku tetap berteguh mengenang semuanya.”
**
Dan mungkin semua yang sedang ada di dalam perjalan menuju New York ini, mengenang semua masa lalu mereka. Masa lalu dimana mereka sama sekali tidak pernah berpikir kedepan untuk memberika yang terbaik bagi orang-orang yang mereka cintai. Ini memang sebuah persahabatan yang rumit. Antara Skandar, Falerinna, Edward, Michael, dan Jenny. Persahabatan ini tidak akan pernah berujung atau bertengah kepada kebahagiaan. Mungkin beberapa orang harus menerima resiko terburuknya. Mengakhiri semua kisahnya dengan mengucapkan Selamat Tinggal. Atau mungkin, mengakhiri semuanya tanpa apapun dan tanpa meninggalkan apapun. Takdirlah yang menentukan. Dan mereka, bukanlah seorang yang mempercayai adanya takdir.
**
To be Continued~
Friendzone: Chapter 6 (Go To New York)
Title : Friendzone
Author : Alferina
Genre : _______________________
Pairing : Skandar Keynes x Falerinna
Rated : Teen
Length : Multichapter
Chapter Sebelumnya
Michael Point of View’s
Aku mengerjapkan mataku berkali-kali. Segenap agak silau karena cahaya matahari yang cukup menulusuk indera penglihatanku. Tubuhku terasa pegal..Mungkin ini di akibatkan tidur di bangku keras ini.
SREEK SREEK.
Seett. Aku menoleh kearah dapur. Mencoba untuk mendengar suara yang barusan kudengar dengan pasti.
SREEK SREEK
Ups. Suara itu semakin terdengar. Oh no. Tidak lagi.
Aku pun beranjak berdiri dari bangku keras tersebut, dan bersiap-siap menodongkan senapanku. Berharap peluruku masih tersisa walaupun sedikit.
Aku berjalan perlahan menuju ambang pintu dapur. Mengumpat di belakang dinding sebentar dan mulai melihat keadaan dapur dengan kepalaku dengan gerakan slow motion.
Setelah melihat ada apa di dapur. Sedetik, aku menjatuhkan senapanku dan mulai jalan malas mendekati seseorang yang ada didalamnya.
“Julianaa.. Apa yang kau lakukan disini?” tanyaku sambil menepuk pundaknya
“Michael. Kau tersadar? Syukurlah” ucap Juliana kegirangan dan setelah itu memelukku
“Darimana kau tahu aku disini?”
“Semalam aku mendengar suara tembakan. Dan aku pun keluar dari rumah. Dan aku melihatmu sedang lari ketakutan menuju hutan ini. Dengan sigap aku langsung menyusulmu ke tempat ini”
“Kau menyusulku? Kau tidak apa-apa kan? Tidak ada yang terluka?”
“Apa maksudmu? Tentu saja aku baik. Kan aku sendirian sejak semalam”
“Dimana mereka?”
“Mereka? Mereka siapa?”
“Human masked Ju.. Manusia bertopeng”
“Kau menggigau ya? Tidak ada siapa-siapa disini selain kita berdua”
“Tidak ada siapa-siapa? Kau yakin?”
“One hundred persen. I’m sure Michael”
Aku pun terdiam. Menyadari hal-hal semalam yang terjadi. Bukankah semalam itu kejadian yang nyata? Aku benar-benar merasakannya.
Manusia bertopeng, suara tembakan, aku terjatuh, dan aku menendang kaki manusia bertopeng itu.
Apa yang telah terjadi sebenarnya? Apa aku hanya berkhayal? Tidak, tidak mungkin! Itu kenyataan. Aku merasakannya, aku melihatnya, dan bahkan aku mendengarnya..
Chapter Selanjutnya
Falerinna Point of View’s
3 hari sudah kulewatkan tanpa apapun. Selama 3 hari ini, aku hanya bisa diam dikamarku, memikirkan cara Julie membantu menyelesaikan masalahku, dan memikirkan sekolahku.
New York bukanlah kota yang dekat dengan London, dan New York bukanlah kota dimana dengan 1 jam perjalanan kita bisa sampai kesana. New York adalah kota yang sangat jauh, ramai, dan dipenuhi oleh orang-orang tak suka bersosialisasi macam Michael. Yah, aku tahu Michael itu semacam orang yang bersifat penyendiri, dia tidak suka bergaul dengan orang yang sembarangan. Tetapi Michael juga memiliki hubungan batin yang kuat, perhatiannya kekal, dan pedulinya pun sesama manusia sungguh beradab. Michael seperti Skandar. Hanya saja bedanya Skandar lebih labil dibandingkan Michael. Skandar itu orang yang baik, perhatian, penyayang, penyabar, dan pintar. Dia cukup bisa mengenal semua orang tanpa harus lebih dekat dengan orang tersebut. Well, itu mungkin cara terbaik yang dilakukan Skandar agar dia tidak disebut-sebut sebagai laki-laki yang cuek.
**
Kini jam sudah menunjukkan waktu sore hari dan bahkan aku masih belum menyepakati cara Julie. Apa benar aku harus ke NY? Bertemu dengan Michael? Melupakan Skandar, hanya karena masalah kecil ini? Itu memang seperti cara yang sangat konyol dan bahkan tidak masuk di akal. Walaupun Juliean berniat untuk membantuku tetapi setidaknya dia harus bisa mengerti perasaanku disaat aku bertemu kembali dengan cinta pertamaku. Itu sangat tidak manusiawi –menurutku-.
Kuputuskan hari ini aku memang harus terbang ke NY. Mungkin jadwal terbangku akan terambil saat malam hari, karena sore ini, 1 jam yang lalu pesawat internasional kota London sudah berangkat menuju NY. Kalau begitu aku harus menghubungi Julie sekarang juga.
Akupun meraih ponselku yang terletak di meja kecil dan segara menghubungi nomor ponsel Julie.
“Hallo, Ju.. Aku sudah memutuskan keputusannya” aku membuka mulutku untuk memulai pembicaraan, dan sepertinya Julie mengerti betul dengan apa yang akan aku jawab dengan keputusannya itu.
“Ya, tentu kita akan segera pergi ke NY sekarang juga.”
“Iya hari ini. Aku lebih baik segera menyelesaikan masalahku daripada harus menahan batin berat seperti ini.”
“Okay baiklah. Aku akan bersiap-siap dan meminta izin kepada ibuku.”
“Ya, ok. Sampai jumpa di bandara”
Setelah berbincang, aku menutup ponselku dan bergegas pergi menuju lemari pakaianku. Mengambil koper di bawah ranjangku dan memasukkan beberapa pakaian yang dibutuhkan saja.
Dan setelah semuanya siap, aku segera mandi, meminta izin, dan langsung pergi menuju ke bandara. Kuyakini semoga aku bisa mencari alasan yang tepat untuk perjalanan ini
**
Skandar Point of View’s
Kini aku sudah berada di bandara bersama Edward. Akhirnya hari ini aku bisa pergi ke New York untuk menyelesaikan persahabatan ini. Well, sepertinya Edward terpaksa menemaniku ke New York.Dia terpaksa harus cuti kuliah selama 2 Minggu hanya untuk menemaniku. Memang benar-benar teman yang setia untukku.
Sebenarnya terpaksa kita harus datang lebih awal, kita sebenarnya ingin mengambil jadwal terbang jam 3 sore tadi, tetapi karena kita terlambat datang akhirnya kita terpaksa mengambil jadwal terbang jam 7 malam. Well, hanya untuk menunggu beberapa jam itu tidak apa-apa kan? Sekali kali lah bersabar..
“Skand, bagaimana dengan Lily?” tiba-tiba Edward bertanya kepadaku yang terlihat sedang memerhatikanku secara penasaran.
“Tenang saja Ed, dia akan aman bersama tanteku.” Jawabku secara santai dan menatap kembali mata Edward yang sedari tadi melihatku secara intens
“Baguslah. Kukira adikmu itu akan merengek minta ikut.”
“Tadinya begitu, tetapi setelah kubujuk akhirnya dia mengerti.”
“Apa yang kau katakan kepada adikmu itu? Jika sekarang kau akan pergi ke New York”
“Aku tidak perlu berkata apapun Ed. Dia sudah mengetahuinya dari awal. Kau lupa kalau Lily itu punya indra ke 6?”
“Hmm, sepertinya aku lupa dengan kenyataan itu”
“Kau kan memang pelupa Ed. Bahkan dengan teman masa kecilmu saja kau lupa.”
“Tidak kok. Aku tidak pelupa.. Aku tahu siapa teman masa kecilku”
“Oh ya? Siapa namanya?”
“Namanya adalah Fal…-“
“Hah? Falerinna maksudmu?!” sontak aku terkejut mendengar Edward menyebutkan nama depannya “Fal”.. Ya, nama panggilan itu kan seharusnya ditujukan kepada Falerinna, kenapa dia menyebutkannya? Apa benar Edward adalah teman masa kecil Falerinna? Tetapi kenapa Falerinna tidak bercerita kepadaku? Kenapa semua orang membohongiku? Aku seperti di permainkan.
“Tidak Skand.. Dengarkan aku dulu. Teman masa kecilku itu bukan Falerinna melainkan.. Umm, mm.. Yaa namanya .. Sudahlah lupakan Skand. Jangan membahas tentang masa lalu. Kau tahu aku ini bukan orang yang suka memflashback?”
“Baiklah. Aku akan mengerti. Tetapi jika kau membohongiku, aku tidak akan memaafkanmu Ed.”
“Ya, ya, ya.. Terserah kau sajalah.”
**
Falerinna Point of View’s
“Ju.. Berapa jam lagi kita akan segera terbang?”
“1 jam lagi Fal. Kenapa?”
“Tidak.. Aku hanya bertanya saja”
Kami pun duduk di sebuah kursi panjang dekat loker pemesanan tiket. Aku pun melihat ke kiri dan ke kanan, semuanya sama. Banyak orang disini. Mungkin mereka juga ingin pergi ke suatu tempat. Tempat yang baik untuknya, tempat dimana mereka bisa beristirahat dan senang-senang. Tidak sepertiku, yang pergi ke suatu tempat hanya untuk mengingat masa laluku. Sepertinya hidupku ini penuh dengan kesengsaraan ya. Berbeda dengan semua makhluk hidup yang ada di muka bumi. Tetapi mungkin, ini adalah cara Tuhan satu-satunya untuk menunjukkan sampai dimana ketahanan imanku.
Pandanganku terus beralih kepada semua orang yang ada dibandara ini. Hmm, sepertinya.. Semua orang disini tidak ada yang kukenal.. Memangiya kan, lagipula siapa yang mau kenal dengan orang macam aku ini? Orang yang selalu terjebak dalam cobaan.
**
Author Point of View’s
Iris mata Falerinna pun masih menggidik ke sekitarnya, ia masih memperhatikan sosok sosok semua orang yang ada disini. Sungguh, ia sama sekali tidak tertarik dengan semua orang yang ada disini, kecuali … Satu orang yang dia lihat secara tidak sengaja
“Skandar?? Edward?? Apa yang mereka lakukan disini? Mereka ingin pergi kemana? Dan waitt!! Skandar bersama Edward? Darimana Skandar kenal dengan Edward, dan bukankah Edward itu teman masa laluku? Kenapa mereka bisa bersama?
Oh Tuhan.. Ini semakin memburuk. Ini seperti semacam… Ohh noo. Hell”
**
To be continued
Author : Alferina
Genre : _______________________
Pairing : Skandar Keynes x Falerinna
Rated : Teen
Length : Multichapter
**
Michael Point of View’s
Aku mengerjapkan mataku berkali-kali. Segenap agak silau karena cahaya matahari yang cukup menulusuk indera penglihatanku. Tubuhku terasa pegal..Mungkin ini di akibatkan tidur di bangku keras ini.
SREEK SREEK.
Seett. Aku menoleh kearah dapur. Mencoba untuk mendengar suara yang barusan kudengar dengan pasti.
SREEK SREEK
Ups. Suara itu semakin terdengar. Oh no. Tidak lagi.
Aku pun beranjak berdiri dari bangku keras tersebut, dan bersiap-siap menodongkan senapanku. Berharap peluruku masih tersisa walaupun sedikit.
Aku berjalan perlahan menuju ambang pintu dapur. Mengumpat di belakang dinding sebentar dan mulai melihat keadaan dapur dengan kepalaku dengan gerakan slow motion.
Setelah melihat ada apa di dapur. Sedetik, aku menjatuhkan senapanku dan mulai jalan malas mendekati seseorang yang ada didalamnya.
“Julianaa.. Apa yang kau lakukan disini?” tanyaku sambil menepuk pundaknya
“Michael. Kau tersadar? Syukurlah” ucap Juliana kegirangan dan setelah itu memelukku
“Darimana kau tahu aku disini?”
“Semalam aku mendengar suara tembakan. Dan aku pun keluar dari rumah. Dan aku melihatmu sedang lari ketakutan menuju hutan ini. Dengan sigap aku langsung menyusulmu ke tempat ini”
“Kau menyusulku? Kau tidak apa-apa kan? Tidak ada yang terluka?”
“Apa maksudmu? Tentu saja aku baik. Kan aku sendirian sejak semalam”
“Dimana mereka?”
“Mereka? Mereka siapa?”
“Human masked Ju.. Manusia bertopeng”
“Kau menggigau ya? Tidak ada siapa-siapa disini selain kita berdua”
“Tidak ada siapa-siapa? Kau yakin?”
“One hundred persen. I’m sure Michael”
Aku pun terdiam. Menyadari hal-hal semalam yang terjadi. Bukankah semalam itu kejadian yang nyata? Aku benar-benar merasakannya.
Manusia bertopeng, suara tembakan, aku terjatuh, dan aku menendang kaki manusia bertopeng itu.
Apa yang telah terjadi sebenarnya? Apa aku hanya berkhayal? Tidak, tidak mungkin! Itu kenyataan. Aku merasakannya, aku melihatnya, dan bahkan aku mendengarnya..
Chapter Selanjutnya
Falerinna Point of View’s
3 hari sudah kulewatkan tanpa apapun. Selama 3 hari ini, aku hanya bisa diam dikamarku, memikirkan cara Julie membantu menyelesaikan masalahku, dan memikirkan sekolahku.
New York bukanlah kota yang dekat dengan London, dan New York bukanlah kota dimana dengan 1 jam perjalanan kita bisa sampai kesana. New York adalah kota yang sangat jauh, ramai, dan dipenuhi oleh orang-orang tak suka bersosialisasi macam Michael. Yah, aku tahu Michael itu semacam orang yang bersifat penyendiri, dia tidak suka bergaul dengan orang yang sembarangan. Tetapi Michael juga memiliki hubungan batin yang kuat, perhatiannya kekal, dan pedulinya pun sesama manusia sungguh beradab. Michael seperti Skandar. Hanya saja bedanya Skandar lebih labil dibandingkan Michael. Skandar itu orang yang baik, perhatian, penyayang, penyabar, dan pintar. Dia cukup bisa mengenal semua orang tanpa harus lebih dekat dengan orang tersebut. Well, itu mungkin cara terbaik yang dilakukan Skandar agar dia tidak disebut-sebut sebagai laki-laki yang cuek.
**
Kini jam sudah menunjukkan waktu sore hari dan bahkan aku masih belum menyepakati cara Julie. Apa benar aku harus ke NY? Bertemu dengan Michael? Melupakan Skandar, hanya karena masalah kecil ini? Itu memang seperti cara yang sangat konyol dan bahkan tidak masuk di akal. Walaupun Juliean berniat untuk membantuku tetapi setidaknya dia harus bisa mengerti perasaanku disaat aku bertemu kembali dengan cinta pertamaku. Itu sangat tidak manusiawi –menurutku-.
Kuputuskan hari ini aku memang harus terbang ke NY. Mungkin jadwal terbangku akan terambil saat malam hari, karena sore ini, 1 jam yang lalu pesawat internasional kota London sudah berangkat menuju NY. Kalau begitu aku harus menghubungi Julie sekarang juga.
Akupun meraih ponselku yang terletak di meja kecil dan segara menghubungi nomor ponsel Julie.
“Hallo, Ju.. Aku sudah memutuskan keputusannya” aku membuka mulutku untuk memulai pembicaraan, dan sepertinya Julie mengerti betul dengan apa yang akan aku jawab dengan keputusannya itu.
“Ya, tentu kita akan segera pergi ke NY sekarang juga.”
“Iya hari ini. Aku lebih baik segera menyelesaikan masalahku daripada harus menahan batin berat seperti ini.”
“Okay baiklah. Aku akan bersiap-siap dan meminta izin kepada ibuku.”
“Ya, ok. Sampai jumpa di bandara”
Setelah berbincang, aku menutup ponselku dan bergegas pergi menuju lemari pakaianku. Mengambil koper di bawah ranjangku dan memasukkan beberapa pakaian yang dibutuhkan saja.
Dan setelah semuanya siap, aku segera mandi, meminta izin, dan langsung pergi menuju ke bandara. Kuyakini semoga aku bisa mencari alasan yang tepat untuk perjalanan ini
**
Skandar Point of View’s
Kini aku sudah berada di bandara bersama Edward. Akhirnya hari ini aku bisa pergi ke New York untuk menyelesaikan persahabatan ini. Well, sepertinya Edward terpaksa menemaniku ke New York.Dia terpaksa harus cuti kuliah selama 2 Minggu hanya untuk menemaniku. Memang benar-benar teman yang setia untukku.
Sebenarnya terpaksa kita harus datang lebih awal, kita sebenarnya ingin mengambil jadwal terbang jam 3 sore tadi, tetapi karena kita terlambat datang akhirnya kita terpaksa mengambil jadwal terbang jam 7 malam. Well, hanya untuk menunggu beberapa jam itu tidak apa-apa kan? Sekali kali lah bersabar..
“Skand, bagaimana dengan Lily?” tiba-tiba Edward bertanya kepadaku yang terlihat sedang memerhatikanku secara penasaran.
“Tenang saja Ed, dia akan aman bersama tanteku.” Jawabku secara santai dan menatap kembali mata Edward yang sedari tadi melihatku secara intens
“Baguslah. Kukira adikmu itu akan merengek minta ikut.”
“Tadinya begitu, tetapi setelah kubujuk akhirnya dia mengerti.”
“Apa yang kau katakan kepada adikmu itu? Jika sekarang kau akan pergi ke New York”
“Aku tidak perlu berkata apapun Ed. Dia sudah mengetahuinya dari awal. Kau lupa kalau Lily itu punya indra ke 6?”
“Hmm, sepertinya aku lupa dengan kenyataan itu”
“Kau kan memang pelupa Ed. Bahkan dengan teman masa kecilmu saja kau lupa.”
“Tidak kok. Aku tidak pelupa.. Aku tahu siapa teman masa kecilku”
“Oh ya? Siapa namanya?”
“Namanya adalah Fal…-“
“Hah? Falerinna maksudmu?!” sontak aku terkejut mendengar Edward menyebutkan nama depannya “Fal”.. Ya, nama panggilan itu kan seharusnya ditujukan kepada Falerinna, kenapa dia menyebutkannya? Apa benar Edward adalah teman masa kecil Falerinna? Tetapi kenapa Falerinna tidak bercerita kepadaku? Kenapa semua orang membohongiku? Aku seperti di permainkan.
“Tidak Skand.. Dengarkan aku dulu. Teman masa kecilku itu bukan Falerinna melainkan.. Umm, mm.. Yaa namanya .. Sudahlah lupakan Skand. Jangan membahas tentang masa lalu. Kau tahu aku ini bukan orang yang suka memflashback?”
“Baiklah. Aku akan mengerti. Tetapi jika kau membohongiku, aku tidak akan memaafkanmu Ed.”
“Ya, ya, ya.. Terserah kau sajalah.”
**
Falerinna Point of View’s
“Ju.. Berapa jam lagi kita akan segera terbang?”
“1 jam lagi Fal. Kenapa?”
“Tidak.. Aku hanya bertanya saja”
Kami pun duduk di sebuah kursi panjang dekat loker pemesanan tiket. Aku pun melihat ke kiri dan ke kanan, semuanya sama. Banyak orang disini. Mungkin mereka juga ingin pergi ke suatu tempat. Tempat yang baik untuknya, tempat dimana mereka bisa beristirahat dan senang-senang. Tidak sepertiku, yang pergi ke suatu tempat hanya untuk mengingat masa laluku. Sepertinya hidupku ini penuh dengan kesengsaraan ya. Berbeda dengan semua makhluk hidup yang ada di muka bumi. Tetapi mungkin, ini adalah cara Tuhan satu-satunya untuk menunjukkan sampai dimana ketahanan imanku.
Pandanganku terus beralih kepada semua orang yang ada dibandara ini. Hmm, sepertinya.. Semua orang disini tidak ada yang kukenal.. Memangiya kan, lagipula siapa yang mau kenal dengan orang macam aku ini? Orang yang selalu terjebak dalam cobaan.
**
Author Point of View’s
Iris mata Falerinna pun masih menggidik ke sekitarnya, ia masih memperhatikan sosok sosok semua orang yang ada disini. Sungguh, ia sama sekali tidak tertarik dengan semua orang yang ada disini, kecuali … Satu orang yang dia lihat secara tidak sengaja
“Skandar?? Edward?? Apa yang mereka lakukan disini? Mereka ingin pergi kemana? Dan waitt!! Skandar bersama Edward? Darimana Skandar kenal dengan Edward, dan bukankah Edward itu teman masa laluku? Kenapa mereka bisa bersama?
Oh Tuhan.. Ini semakin memburuk. Ini seperti semacam… Ohh noo. Hell”
**
To be continued
Friendzone: Chapter 5 (Human Masked)
Title : Friendzone
Author : Alferina
Genre : _________________
Pairing : Skandar Keynes x Falerinna
Rated : Teen
Length : Multichapter
Chapter Sebelumnya
“Fal.. Pulanglah. Ini semakin tidak baik”
Kulihat, Falerinna terkejut mendengar suara yang ia dengar secara tiba-tiba. Ia menolehkan wajahnya kepadaku. Melihatku dengan tatapan tidak percaya, dan mulai diam terpaku tanpa ada sedikit jawaban yang terjawab. Aku pun mendekati dirinya, berusaha mencoba mengembalikannya kedalam pelukanku. Tapi, dengan sigap. Ia melarangku.
“Stop Skand! Jangan pernah mendekat lagi! Cukup hanya segini jarak yang kita punya”
“Pulanglah. Jangan sakiti dirimu”
“Apa pedulimu Skand? Pergilah dari sini!”
“Tidak. Aku tidak akan pergi sebelum kau pulang”
“Bisakah kau menghentikan ide konyolmu itu? Itu membuatku geli”
“Dan bisakah kau menghentikan perilaku bodohmu ini? Itu membuatku terbunuh”
“Terbunuh? Kupikir kau salah tanggap Skand. Seharusnya aku yang terbunuh karena sudah dipermainkan olehmu!”
“Pulanglah. Lupakan masalah itu”
“Lupakan? Never!”
“Listen. I just do not want you to mean like a little child. Can you forget the problem for a while and go home to your house? Think about your condition”
“I never thought that you would be as understanding it to me”
“I know. Go home. And the rest”
“Leave me alone, then I'll be home soon. I do not want to see your face here too long. I have not fully trust you again”
“Well if it's what you want”
**
Aku pun meninggalkannya. Kali ini untuk kedua kalinya ia memintaku untuk pergi. Sakit rasanya mendengarkan kata-katanya bahwa ia tidak ingin melihat wajahku berlama-lama. Well, jika memang itu yang dia inginkan. Maka akan aku turuti. Jika itu memang membuatnya lebih baik.
Chapter Selanjutnya
Michael Point of View’s
New York sama sekali tidaklah indah. Kota ini buruk seperti yang pernah kubayangkan sebelumnya. Tiada hal yang bisa membuatku senang dari kota ini. Lebih baik aku tinggal di London daripada harus tinggal di kota menjijikkan seperti ini.
Musim di kota ini sedang musim salju. Yaah, walaupun saat ini bukanlah bulan Desember tetapi entah mengapa musim salju datang begitu saja tanpa alasan. Ketika datangnya musim ini, sejenak aku mengingat seseorang di dalam pikiranku. Tentunya dia adalah seorang wanita yang baik dan cantik penuh perhatian. Senyumannya amat manis dan suaranya pun amat merdu. Aku sangat merindukannya kali ini. Bagaimana keadaannya sekarang? Apakah ia baik? Oh tentu saja. Setiap Minggu ia kan selalu mengirimiku surat, tentunya aku akan selalu tahu mengenai kondisinya.
Tetapi Minggu ini sepertinya ada yang aneh dengannya. Sepertinya dia sedang menghadapi masalah yang cukup berat. Bisa dibayangkan betapa rumitnya pasti ia menjalankannya. Aku tahu dia bukanlah wanita yang tegar seperti wanita yang lain, dan bahkan aku pun tahu dia bukanlah wanita yang penyabar, dia selalu penuh emosi, selalu lelah dengan hidupnya yang suram akhir-akhir ini. Dia perlu seseorang, pengganti diriku tepatnya untuk membantunya agar dia bisa menjadi dirinya yang seutuhnya.
Falerinna, setidaknya kau harus bersabar dengan semuanya. Semuanya juga pasti akan indah pada waktunya. Sangat indah bahkan tanpa kau sadari. Kau harus percaya pada takdirmu. Aku disini, tetap untukmu. Tetapi kau juga harus mempunyai seseorang disana untuk menjagamu dan memahamimu. Seburuk-buruknya orang itu menyakiti perasaanmu, dia pasti akan menjadi yang terbaik kedua setelahku. Persahabatan tidak selamanya indah, itu juga perlu perjuangan yang tegar untuk menghadapinya. Aku yakin kau akan selamanya bisa menjadi yang nomor satu untuk siapapun yang telah mengenalimu. Kuyakini itu ..
**
Seketika, ketika aku sedang memikirkan seorang sahabat lamaku, ponselku berdering. Menandakan ada yang menghubungiku.
Siapa yang menelfonku malam-malam begini? Tidak tahukan bahwa ini sudah saatnya istirahat?
Aku pun mengambil ponselku dari kantung celanaku, membaca nama yang tertera di layar dan segenap cukup terkejut dengan siapa yang menghubungiku.
Tommy? Oh God! Sepertinya aku tahu apa alasan Tommy menghubungiku malam-malam begini.
“Hallo? Tom? Ada apa?” aku pun memulai percakapannya dengan santai. Kukira, tidak akan ada yang penting dalam percakapan kali ini. Tetapi sepertinya, nada suara Tommy cukup bisa membuatku tegang.
“Michael.. Aku butuh bantuanmu. Apakah kau siap?”
“Tentu Tom. Apa itu?”
“Seperti biasa.. Jalankan tugasmu”
“Apakah dia sedang dalam bahaya Tom? Jika tidak terlalu, aku tidak akan datang. Aku sedang malas malam ini”
“Lebih baik, cobalah check keadaannya. Baru kau bisa membaca situasinya”
“Hmm, baiklah”
Aku pun segera bergegas menuju ke ruang parkir di belakang rumahku. Masuk ke dalam porscheku dan menyalakannya lalu menancap gas dengan kecepatan penuh menuju rumah kediaman keluarga Simpson. Seperti yang dikatakan Tommy, aku harus segera kesana dan membaca situasinya.
Jujur, aku malas selalu terlibat dengan hal-hal yang seperti ini. Ini seperti menyulitkan kehidupanku. Yaah, tetapi harus bagaimana lagi? Toh, hanya inilah pilihanku. Mungkin hanya ini cara terbaik yang aku lakukan untuk belajar. Belajar untuk menyelamatkan dan melindungi seseorang dari macam bahaya yang mengincar.
**
Beberapa menit selanjutnya, aku telah sampai pada depan gerbang rumah keluarga Simpson. Disana kelihatannya aman, tidak ada bahaya ataupun ancaman yang datang. Hmm, well sepertinya kali ini Tommy hanya ingin mengerjaiku.
Aku pun sejenak diam duduk di kursi kemudi. Mencoba untuk menunggu sesuatu keadaan yang tidak kuharapkan –tentunya-.
30 menit ku lewati dan disana sama sekali tidak ada masalah yang muncul. Heh, ini nih yang dinamakan pengerjaan. Tommy sengaja menyuruhku kesini hanya untuk membuat pekerjaan kepadaku. Apakah ia tidak kasihan padaku? Aku mengantuk sekarang, dan kurasa aku butuh tidur yang cukup lama.
Karena aku juga perlu sedikit was was, aku pun memutuskan untuk tidur di Porsche putihku ini, dan sedikit berkeliling ke sekitar rumah Simpson untuk memastikan keadaan.
Aku pun keluar dari porscheku, menutup pintu, dan menguncinya lalu memasang alarm. Kemudian, aku mulai melangkahkan kakiku dengan langkah yang santai dan satu tanganku berada di dalam kantung jaket kulitku. Jika kalian bertanya apa yang sedang aku pegang di jaket kulitku ini.. Tunggulah sampai bahaya datang kepadaku, baru kalian akan tahu benda apa yang aku pegangi saat ini.
Aku sekarang sudah berada di belakang rumah keluarga Simpson. Berdiri di hadapan pohon pinus besar dan menge-check situasi dengan melihat kesisi kiri dan kanan. Tatapan mataku tak lepas jauh dari satu titik dimana ada sesuatu bergerak tepat di kursi kayu panjang dekat taman rumah keluarga Simpson. Aku pun mulai sibuk mencari tempat dimana aku harus bersembunyi untuk memperhatikan sang target. Otakku pun seketika menunjukkan bahwa aku harus bersembunyi dibalik pohon pinus dihadapanku sekarang. Dengan sigap aku segera melompatkan diriku kebelakang pohon pinus dan langsung memerhatikan sang target.
Kulihat target itu sedang duduk diam, dan sedang melihat kesekitar. Mungkin dia hanya ingin memastikan kondisi saat ini aman (?) Hmm, penuh kecurigaan perasaanku saat ini. Aku pun terus mengalihkan pandanganku terhadap sosok yang berada di kursi itu. Dan semakin lama semakin kuperhatikan, sosok itu bergerak semakin banyak. Sosok itu menimbulkan semakin banyak pergerakan. Ah, siapa dia? Apa yang dia lakukan di malam hari seperti ini? Apa dia ada niat buruk? Ohh Michael, lupakanlah pikiranmu itu.
45 menit kemudian aku mendengar seseorang berjalan mendekatiku. Aku menoleh kebelakang, dan aku tidak mendapati siapapun. Aku pun berbalik kearah depanku. Dan apa yang aku dapati? Sosok itu telah menghilang! Oh God.. Aku tahu apa yang terjadi hari ini. Tolong buatku tenang, tenang, dan tetap tenang. Lalu, aku memejamkan mataku berusaha rileks dan mengatur detak jatungku agar kembali berdetak secara normal. Dan seketika aku membuka mata, seseorang dari belakang mendekapku. Menyeretku dengan kasar dan terlihat ditangan kanannya ia memegang sebuah senapan tembak. Ia mencoba untuk membuatku kehabisan nafas, dan dengan kasar dia membanting tubuhku ke tanah dan menyodorkan senapannya ke kepalaku.
“Keluarkan senjatamu atau kau akan mati ditanganku!” teriak seseorang itu yang memakai topeng. Ia mengancamku. Aku pun menuruti kata-katanya. Aku mengeluarkan senapanku dan menaruhnya di atas tanah.
“Apa yang kau lakukan di rumah ini, huh?” tanyaku kepadanya dengan nada cukup emosi tetapi tetap masih pada posisi terbaring diatas tanah.
“Seharusnya aku yang bertanya kenapa kau disini bodoh!”
“Dasar manusia topeng tak tahu diri kau!”
Dengan segera aku pun menendang kakinya dan sempat membuatnya terjatuh. Aku berusaha bangkit, mengambil senapanku kembali dan memasukkan beberapa peluru. Aku menyodorkan senapanku ke arahnya dan ia pun hanya angkat tangan. Dia melepaskan senapannya. Dan matanya segenap melirik-lirik kearah ke kanan dan ke kiri.
“Sayangnya kau datang sendirian yaa..”
Setelah ia mengatakan itu, seseorang bertopeng yang lainnya datang lagi dan mulai menyerbuku dengan senapan-senapan yang mereka pegang. Mereka menembakkanku dengan serbu. 1 tembakan, 2 tembakan, dan bahkan 3 tembakan datang kepadaku secara bersamaan. Bagaimana ini? Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Tanpa pikir panjang, aku lari dari tempat itu. Berusaha mencari tempat yang lebih aman. Sembari berlari aku pun menembakkan senapanku kepada manusia bertopeng itu. Ada beberapa yang kena lalu kemudian mati. Entahlah, sepertinya aku mulai kehabisan peluru saat ini.
Suara tembakan pun semakin banyak kudengar, dan aku memutuskan untuk berlari semakin jauh. Berusaha untuk menyelamatkan diriku dari serangan semua manusia bertopeng ini. Siapa mereka? Mengapa mereka bertopeng? Apakah mereka organisasi baru? Umm, aku harus mencari tahu.
Segenap beberapa menit kemudian, aku telah memasuki kawasan hutan. Dihutan ini sungguh gelap dan sama sekali tidak ada penerangan. Aku bahkan tidak cukup bisa menjangkau apapun dari sini secara dekat. Dan kurasa, sepertinya disini aku harus bersembunyi dari gerombolan manusia bertopeng tersebut.
Aku pun mulai menghampiri gubuk lusuh yang letaknya tidak jauh dari sini, mungkin beberapa meter. Aku kesana, dan mulai menaiki undakan tangga dan memasukinya. Disana kebetulan ada cahaya lampu yang cukup bisa menerangi keadaan kondisi gubuk ini. Sepertinya ini sudah lama tidak ditinggali sehingga semuanya berdebu. Dinding-dinding yang retak, lantai yang berjamur, lampu kuning yang agak suram.. Ya, gubuk ini seperti ratusan tahun tidak pernah di singgahi. Well, tidak terlalu masalah untukku. Yang terpenting aku bisa dapat berlindung disini dengan aman.
**
Skandar Point of View’s
Aku berjalan bolak balik di kamarku. Menunggu jawaban dari Edward apa yang akan ia putuskan dengan ideku. Tolong cepatlah Ed, aku tidak punya waktu banyak untuk menunggu.
KREK!
Seseorang tiba-tiba membuka pinta kamarku dan aku sedetik cukup terkejut.
“Lily. Seharusnya kau mengetuk pintu dulu..” ucapku malas kepada adik terkecilku –Lily Keynes-
“Maaf kak. Aku hanya ingin disini bersama kakak. Boleh?”
“Tetapi bisakah lain kali kamu lebih sopan dari ini? Kakak tidak suka” balasku cuek dan mendekati Lily.
“Baiklah kak.” Jawab Lily dengan tampang kecewa dan memelukku kemudian.
“Mom and Dad hari ini akan pergi ke luar kota untuk mengunjungi kak Soumaya. Hanya 2 Minggu. Dan itu bisa dipastikan kakak dan aku tidak ikut serta dalam pengunjungan itu” ucap Lily yang memulai percakapannya.
“Lalu? Kenapa?”
“Aku hanya ingin ikut kak. Aku ingin jalan-jalan”
“Hey Lily. Biarkan mom and dad pergi berdua. Mungkin mereka tidak ingin menganggu waktu sekolahmu. Kan masih ada kakak disini?”
“Tetapi kan kakak tidak terlalu bisa sepenuhnya menjagaku”
“Kata siapa? Kakak bisa kok menjaga penuh kasih sayang adik kakak ini”
“Hmm.. Andaikan kakak bisa menepati janji kakak sebelum kakak pergi ke New York bersama Edward.”
“Eh? Kamu tahu darimana semua itu?”
“Hanya mengetahuinya saja kak. Tidak dari siapapun”
“Kakak juga pergi ke New York hanya sebentar Ly. Jangan khawatir”
“Tapi itu seperti 2 tahun bagiku. Lagian sih, kakak nyakitin Falerinna. Jadinya begini kan?”
“Hey hey. Sudah. Lebih baik kamu jangan ikut campur dengan masalah kakak. Biar kakak yang menyelesaikan semua masalah ini”
“Baiklah baiklah. Aku akan pergi ke kamar. Mau bermain gadget. Daah Mr.Keynes”
Aku pun terkekeh kecil dan mencium puncak kepala adikku sejenak.
” Jangan tidur malam-malam. Mimpi yang indah sweetie. I love you”
“Ya ya ya..” ucap Lily lalu segera itu pergi secepat kilat dari ambang pintu kamarku. Lily itu adik yang lucu menurutku. Ia cukup selalu membuatku terhibur jika aku sedang sedih. Ya, setidaknya .. Mungkin hanya dia salah satu dari keluargaku yang sangat mengertiku. Apapun alasannya, aku akan tetap menyayanginya.
**
Michael Point of View’s
Aku mengerjapkan mataku berkali-kali. Segenap agak silau karena cahaya matahari yang cukup menulusuk indera penglihatanku. Tubuhku terasa pegal.. Mungkin ini di akibatkan tidur di bangku keras ini.
SREEK SREEK.
Seett. Aku menoleh kearah dapur. Mencoba untuk mendengar suara yang barusan kudengar dengan pasti.
SREEK SREEK
Ups. Suara itu semakin terdengar. Oh no. Tidak lagi.
Aku pun beranjak berdiri dari bangku keras tersebut, dan bersiap-siap menodongkan senapanku. Berharap peluruku masih tersisa walaupun sedikit.
Aku berjalan perlahan menuju ambang pintu dapur. Mengumpat di belakang dinding sebentar dan mulai melihat keadaan dapur dengan kepalaku dengan gerakan slow motion.
Setelah melihat ada apa di dapur. Sedetik, aku menjatuhkan senapanku dan mulai jalan malas mendekati seseorang yang ada didalamnya.
“Julianaa.. Apa yang kau lakukan disini?” tanyaku sambil menepuk pundaknya
“Michael. Kau tersadar? Syukurlah” ucap Juliana kegirangan dan setelah itu memelukku
“Darimana kau tahu aku disini?”
“Semalam aku mendengar suara tembakan. Dan aku pun keluar dari rumah. Dan aku melihatmu sedang lari ketakutan menuju hutan ini. Dengan sigap aku langsung menyusulmu ke tempat ini”
“Kau menyusulku? Kau tidak apa-apa kan? Tidak ada yang terluka?”
“Apa maksudmu? Tentu saja aku baik. Kan aku sendirian sejak semalam”
“Dimana mereka?”
“Mereka? Mereka siapa?”
“Human masked Ju.. Manusia bertopeng”
“Kau menggigau ya? Tidak ada siapa-siapa disini selain kita berdua”
“Tidak ada siapa-siapa? Kau yakin?”
“One hundred persen. I’m sure Michael”
Aku pun terdiam. Menyadari hal-hal semalam yang terjadi. Bukankah semalam itu kejadian yang nyata? Aku benar-benar merasakannya.
Manusia bertopeng, suara tembakan, aku terjatuh, dan aku menendang kaki manusia bertopeng itu.
Apa yang telah terjadi sebenarnya? Apa aku hanya berkhayal? Tidak, tidak mungkin! Itu kenyataan. Aku merasakannya, aku melihatnya, dan bahkan aku mendengarnya..
**
To be Continued~
Author : Alferina
Genre : _________________
Pairing : Skandar Keynes x Falerinna
Rated : Teen
Length : Multichapter
**
Chapter Sebelumnya
“Fal.. Pulanglah. Ini semakin tidak baik”
Kulihat, Falerinna terkejut mendengar suara yang ia dengar secara tiba-tiba. Ia menolehkan wajahnya kepadaku. Melihatku dengan tatapan tidak percaya, dan mulai diam terpaku tanpa ada sedikit jawaban yang terjawab. Aku pun mendekati dirinya, berusaha mencoba mengembalikannya kedalam pelukanku. Tapi, dengan sigap. Ia melarangku.
“Stop Skand! Jangan pernah mendekat lagi! Cukup hanya segini jarak yang kita punya”
“Pulanglah. Jangan sakiti dirimu”
“Apa pedulimu Skand? Pergilah dari sini!”
“Tidak. Aku tidak akan pergi sebelum kau pulang”
“Bisakah kau menghentikan ide konyolmu itu? Itu membuatku geli”
“Dan bisakah kau menghentikan perilaku bodohmu ini? Itu membuatku terbunuh”
“Terbunuh? Kupikir kau salah tanggap Skand. Seharusnya aku yang terbunuh karena sudah dipermainkan olehmu!”
“Pulanglah. Lupakan masalah itu”
“Lupakan? Never!”
“Listen. I just do not want you to mean like a little child. Can you forget the problem for a while and go home to your house? Think about your condition”
“I never thought that you would be as understanding it to me”
“I know. Go home. And the rest”
“Leave me alone, then I'll be home soon. I do not want to see your face here too long. I have not fully trust you again”
“Well if it's what you want”
**
Aku pun meninggalkannya. Kali ini untuk kedua kalinya ia memintaku untuk pergi. Sakit rasanya mendengarkan kata-katanya bahwa ia tidak ingin melihat wajahku berlama-lama. Well, jika memang itu yang dia inginkan. Maka akan aku turuti. Jika itu memang membuatnya lebih baik.
Chapter Selanjutnya
Michael Point of View’s
New York sama sekali tidaklah indah. Kota ini buruk seperti yang pernah kubayangkan sebelumnya. Tiada hal yang bisa membuatku senang dari kota ini. Lebih baik aku tinggal di London daripada harus tinggal di kota menjijikkan seperti ini.
Musim di kota ini sedang musim salju. Yaah, walaupun saat ini bukanlah bulan Desember tetapi entah mengapa musim salju datang begitu saja tanpa alasan. Ketika datangnya musim ini, sejenak aku mengingat seseorang di dalam pikiranku. Tentunya dia adalah seorang wanita yang baik dan cantik penuh perhatian. Senyumannya amat manis dan suaranya pun amat merdu. Aku sangat merindukannya kali ini. Bagaimana keadaannya sekarang? Apakah ia baik? Oh tentu saja. Setiap Minggu ia kan selalu mengirimiku surat, tentunya aku akan selalu tahu mengenai kondisinya.
Tetapi Minggu ini sepertinya ada yang aneh dengannya. Sepertinya dia sedang menghadapi masalah yang cukup berat. Bisa dibayangkan betapa rumitnya pasti ia menjalankannya. Aku tahu dia bukanlah wanita yang tegar seperti wanita yang lain, dan bahkan aku pun tahu dia bukanlah wanita yang penyabar, dia selalu penuh emosi, selalu lelah dengan hidupnya yang suram akhir-akhir ini. Dia perlu seseorang, pengganti diriku tepatnya untuk membantunya agar dia bisa menjadi dirinya yang seutuhnya.
Falerinna, setidaknya kau harus bersabar dengan semuanya. Semuanya juga pasti akan indah pada waktunya. Sangat indah bahkan tanpa kau sadari. Kau harus percaya pada takdirmu. Aku disini, tetap untukmu. Tetapi kau juga harus mempunyai seseorang disana untuk menjagamu dan memahamimu. Seburuk-buruknya orang itu menyakiti perasaanmu, dia pasti akan menjadi yang terbaik kedua setelahku. Persahabatan tidak selamanya indah, itu juga perlu perjuangan yang tegar untuk menghadapinya. Aku yakin kau akan selamanya bisa menjadi yang nomor satu untuk siapapun yang telah mengenalimu. Kuyakini itu ..
**
Seketika, ketika aku sedang memikirkan seorang sahabat lamaku, ponselku berdering. Menandakan ada yang menghubungiku.
Siapa yang menelfonku malam-malam begini? Tidak tahukan bahwa ini sudah saatnya istirahat?
Aku pun mengambil ponselku dari kantung celanaku, membaca nama yang tertera di layar dan segenap cukup terkejut dengan siapa yang menghubungiku.
Tommy? Oh God! Sepertinya aku tahu apa alasan Tommy menghubungiku malam-malam begini.
“Hallo? Tom? Ada apa?” aku pun memulai percakapannya dengan santai. Kukira, tidak akan ada yang penting dalam percakapan kali ini. Tetapi sepertinya, nada suara Tommy cukup bisa membuatku tegang.
“Michael.. Aku butuh bantuanmu. Apakah kau siap?”
“Tentu Tom. Apa itu?”
“Seperti biasa.. Jalankan tugasmu”
“Apakah dia sedang dalam bahaya Tom? Jika tidak terlalu, aku tidak akan datang. Aku sedang malas malam ini”
“Lebih baik, cobalah check keadaannya. Baru kau bisa membaca situasinya”
“Hmm, baiklah”
Aku pun segera bergegas menuju ke ruang parkir di belakang rumahku. Masuk ke dalam porscheku dan menyalakannya lalu menancap gas dengan kecepatan penuh menuju rumah kediaman keluarga Simpson. Seperti yang dikatakan Tommy, aku harus segera kesana dan membaca situasinya.
Jujur, aku malas selalu terlibat dengan hal-hal yang seperti ini. Ini seperti menyulitkan kehidupanku. Yaah, tetapi harus bagaimana lagi? Toh, hanya inilah pilihanku. Mungkin hanya ini cara terbaik yang aku lakukan untuk belajar. Belajar untuk menyelamatkan dan melindungi seseorang dari macam bahaya yang mengincar.
**
Beberapa menit selanjutnya, aku telah sampai pada depan gerbang rumah keluarga Simpson. Disana kelihatannya aman, tidak ada bahaya ataupun ancaman yang datang. Hmm, well sepertinya kali ini Tommy hanya ingin mengerjaiku.
Aku pun sejenak diam duduk di kursi kemudi. Mencoba untuk menunggu sesuatu keadaan yang tidak kuharapkan –tentunya-.
30 menit ku lewati dan disana sama sekali tidak ada masalah yang muncul. Heh, ini nih yang dinamakan pengerjaan. Tommy sengaja menyuruhku kesini hanya untuk membuat pekerjaan kepadaku. Apakah ia tidak kasihan padaku? Aku mengantuk sekarang, dan kurasa aku butuh tidur yang cukup lama.
Karena aku juga perlu sedikit was was, aku pun memutuskan untuk tidur di Porsche putihku ini, dan sedikit berkeliling ke sekitar rumah Simpson untuk memastikan keadaan.
Aku pun keluar dari porscheku, menutup pintu, dan menguncinya lalu memasang alarm. Kemudian, aku mulai melangkahkan kakiku dengan langkah yang santai dan satu tanganku berada di dalam kantung jaket kulitku. Jika kalian bertanya apa yang sedang aku pegang di jaket kulitku ini.. Tunggulah sampai bahaya datang kepadaku, baru kalian akan tahu benda apa yang aku pegangi saat ini.
Aku sekarang sudah berada di belakang rumah keluarga Simpson. Berdiri di hadapan pohon pinus besar dan menge-check situasi dengan melihat kesisi kiri dan kanan. Tatapan mataku tak lepas jauh dari satu titik dimana ada sesuatu bergerak tepat di kursi kayu panjang dekat taman rumah keluarga Simpson. Aku pun mulai sibuk mencari tempat dimana aku harus bersembunyi untuk memperhatikan sang target. Otakku pun seketika menunjukkan bahwa aku harus bersembunyi dibalik pohon pinus dihadapanku sekarang. Dengan sigap aku segera melompatkan diriku kebelakang pohon pinus dan langsung memerhatikan sang target.
Kulihat target itu sedang duduk diam, dan sedang melihat kesekitar. Mungkin dia hanya ingin memastikan kondisi saat ini aman (?) Hmm, penuh kecurigaan perasaanku saat ini. Aku pun terus mengalihkan pandanganku terhadap sosok yang berada di kursi itu. Dan semakin lama semakin kuperhatikan, sosok itu bergerak semakin banyak. Sosok itu menimbulkan semakin banyak pergerakan. Ah, siapa dia? Apa yang dia lakukan di malam hari seperti ini? Apa dia ada niat buruk? Ohh Michael, lupakanlah pikiranmu itu.
45 menit kemudian aku mendengar seseorang berjalan mendekatiku. Aku menoleh kebelakang, dan aku tidak mendapati siapapun. Aku pun berbalik kearah depanku. Dan apa yang aku dapati? Sosok itu telah menghilang! Oh God.. Aku tahu apa yang terjadi hari ini. Tolong buatku tenang, tenang, dan tetap tenang. Lalu, aku memejamkan mataku berusaha rileks dan mengatur detak jatungku agar kembali berdetak secara normal. Dan seketika aku membuka mata, seseorang dari belakang mendekapku. Menyeretku dengan kasar dan terlihat ditangan kanannya ia memegang sebuah senapan tembak. Ia mencoba untuk membuatku kehabisan nafas, dan dengan kasar dia membanting tubuhku ke tanah dan menyodorkan senapannya ke kepalaku.
“Keluarkan senjatamu atau kau akan mati ditanganku!” teriak seseorang itu yang memakai topeng. Ia mengancamku. Aku pun menuruti kata-katanya. Aku mengeluarkan senapanku dan menaruhnya di atas tanah.
“Apa yang kau lakukan di rumah ini, huh?” tanyaku kepadanya dengan nada cukup emosi tetapi tetap masih pada posisi terbaring diatas tanah.
“Seharusnya aku yang bertanya kenapa kau disini bodoh!”
“Dasar manusia topeng tak tahu diri kau!”
Dengan segera aku pun menendang kakinya dan sempat membuatnya terjatuh. Aku berusaha bangkit, mengambil senapanku kembali dan memasukkan beberapa peluru. Aku menyodorkan senapanku ke arahnya dan ia pun hanya angkat tangan. Dia melepaskan senapannya. Dan matanya segenap melirik-lirik kearah ke kanan dan ke kiri.
“Sayangnya kau datang sendirian yaa..”
Setelah ia mengatakan itu, seseorang bertopeng yang lainnya datang lagi dan mulai menyerbuku dengan senapan-senapan yang mereka pegang. Mereka menembakkanku dengan serbu. 1 tembakan, 2 tembakan, dan bahkan 3 tembakan datang kepadaku secara bersamaan. Bagaimana ini? Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Tanpa pikir panjang, aku lari dari tempat itu. Berusaha mencari tempat yang lebih aman. Sembari berlari aku pun menembakkan senapanku kepada manusia bertopeng itu. Ada beberapa yang kena lalu kemudian mati. Entahlah, sepertinya aku mulai kehabisan peluru saat ini.
Suara tembakan pun semakin banyak kudengar, dan aku memutuskan untuk berlari semakin jauh. Berusaha untuk menyelamatkan diriku dari serangan semua manusia bertopeng ini. Siapa mereka? Mengapa mereka bertopeng? Apakah mereka organisasi baru? Umm, aku harus mencari tahu.
Segenap beberapa menit kemudian, aku telah memasuki kawasan hutan. Dihutan ini sungguh gelap dan sama sekali tidak ada penerangan. Aku bahkan tidak cukup bisa menjangkau apapun dari sini secara dekat. Dan kurasa, sepertinya disini aku harus bersembunyi dari gerombolan manusia bertopeng tersebut.
Aku pun mulai menghampiri gubuk lusuh yang letaknya tidak jauh dari sini, mungkin beberapa meter. Aku kesana, dan mulai menaiki undakan tangga dan memasukinya. Disana kebetulan ada cahaya lampu yang cukup bisa menerangi keadaan kondisi gubuk ini. Sepertinya ini sudah lama tidak ditinggali sehingga semuanya berdebu. Dinding-dinding yang retak, lantai yang berjamur, lampu kuning yang agak suram.. Ya, gubuk ini seperti ratusan tahun tidak pernah di singgahi. Well, tidak terlalu masalah untukku. Yang terpenting aku bisa dapat berlindung disini dengan aman.
**
Skandar Point of View’s
Aku berjalan bolak balik di kamarku. Menunggu jawaban dari Edward apa yang akan ia putuskan dengan ideku. Tolong cepatlah Ed, aku tidak punya waktu banyak untuk menunggu.
KREK!
Seseorang tiba-tiba membuka pinta kamarku dan aku sedetik cukup terkejut.
“Lily. Seharusnya kau mengetuk pintu dulu..” ucapku malas kepada adik terkecilku –Lily Keynes-
“Maaf kak. Aku hanya ingin disini bersama kakak. Boleh?”
“Tetapi bisakah lain kali kamu lebih sopan dari ini? Kakak tidak suka” balasku cuek dan mendekati Lily.
“Baiklah kak.” Jawab Lily dengan tampang kecewa dan memelukku kemudian.
“Mom and Dad hari ini akan pergi ke luar kota untuk mengunjungi kak Soumaya. Hanya 2 Minggu. Dan itu bisa dipastikan kakak dan aku tidak ikut serta dalam pengunjungan itu” ucap Lily yang memulai percakapannya.
“Lalu? Kenapa?”
“Aku hanya ingin ikut kak. Aku ingin jalan-jalan”
“Hey Lily. Biarkan mom and dad pergi berdua. Mungkin mereka tidak ingin menganggu waktu sekolahmu. Kan masih ada kakak disini?”
“Tetapi kan kakak tidak terlalu bisa sepenuhnya menjagaku”
“Kata siapa? Kakak bisa kok menjaga penuh kasih sayang adik kakak ini”
“Hmm.. Andaikan kakak bisa menepati janji kakak sebelum kakak pergi ke New York bersama Edward.”
“Eh? Kamu tahu darimana semua itu?”
“Hanya mengetahuinya saja kak. Tidak dari siapapun”
“Kakak juga pergi ke New York hanya sebentar Ly. Jangan khawatir”
“Tapi itu seperti 2 tahun bagiku. Lagian sih, kakak nyakitin Falerinna. Jadinya begini kan?”
“Hey hey. Sudah. Lebih baik kamu jangan ikut campur dengan masalah kakak. Biar kakak yang menyelesaikan semua masalah ini”
“Baiklah baiklah. Aku akan pergi ke kamar. Mau bermain gadget. Daah Mr.Keynes”
Aku pun terkekeh kecil dan mencium puncak kepala adikku sejenak.
” Jangan tidur malam-malam. Mimpi yang indah sweetie. I love you”
“Ya ya ya..” ucap Lily lalu segera itu pergi secepat kilat dari ambang pintu kamarku. Lily itu adik yang lucu menurutku. Ia cukup selalu membuatku terhibur jika aku sedang sedih. Ya, setidaknya .. Mungkin hanya dia salah satu dari keluargaku yang sangat mengertiku. Apapun alasannya, aku akan tetap menyayanginya.
**
Michael Point of View’s
Aku mengerjapkan mataku berkali-kali. Segenap agak silau karena cahaya matahari yang cukup menulusuk indera penglihatanku. Tubuhku terasa pegal.. Mungkin ini di akibatkan tidur di bangku keras ini.
SREEK SREEK.
Seett. Aku menoleh kearah dapur. Mencoba untuk mendengar suara yang barusan kudengar dengan pasti.
SREEK SREEK
Ups. Suara itu semakin terdengar. Oh no. Tidak lagi.
Aku pun beranjak berdiri dari bangku keras tersebut, dan bersiap-siap menodongkan senapanku. Berharap peluruku masih tersisa walaupun sedikit.
Aku berjalan perlahan menuju ambang pintu dapur. Mengumpat di belakang dinding sebentar dan mulai melihat keadaan dapur dengan kepalaku dengan gerakan slow motion.
Setelah melihat ada apa di dapur. Sedetik, aku menjatuhkan senapanku dan mulai jalan malas mendekati seseorang yang ada didalamnya.
“Julianaa.. Apa yang kau lakukan disini?” tanyaku sambil menepuk pundaknya
“Michael. Kau tersadar? Syukurlah” ucap Juliana kegirangan dan setelah itu memelukku
“Darimana kau tahu aku disini?”
“Semalam aku mendengar suara tembakan. Dan aku pun keluar dari rumah. Dan aku melihatmu sedang lari ketakutan menuju hutan ini. Dengan sigap aku langsung menyusulmu ke tempat ini”
“Kau menyusulku? Kau tidak apa-apa kan? Tidak ada yang terluka?”
“Apa maksudmu? Tentu saja aku baik. Kan aku sendirian sejak semalam”
“Dimana mereka?”
“Mereka? Mereka siapa?”
“Human masked Ju.. Manusia bertopeng”
“Kau menggigau ya? Tidak ada siapa-siapa disini selain kita berdua”
“Tidak ada siapa-siapa? Kau yakin?”
“One hundred persen. I’m sure Michael”
Aku pun terdiam. Menyadari hal-hal semalam yang terjadi. Bukankah semalam itu kejadian yang nyata? Aku benar-benar merasakannya.
Manusia bertopeng, suara tembakan, aku terjatuh, dan aku menendang kaki manusia bertopeng itu.
Apa yang telah terjadi sebenarnya? Apa aku hanya berkhayal? Tidak, tidak mungkin! Itu kenyataan. Aku merasakannya, aku melihatnya, dan bahkan aku mendengarnya..
**
To be Continued~
Langganan:
Komentar (Atom)






