Minggu, 23 Maret 2014

Friendzone: Chapter 8 (Mysterious Building)

Title     : Friendzone
Author : Alferina
Genre  : ___________________
Pairing : Skandar Keynes x Falerinna
Rated   : Teen
Length : Multichapter






**



Chapter Sebelumnya


Skandar menitikkan air mata. Dia rasa, dia sekarang benar-benar kesepian. Benar-benar merasa kehilangan. Dengan foto itu, semua berhasil membuatnya menjadi sunyi. Edward pun merasa iba. Ia juga tak tega melihat temannya terpuruk kesedihan dan kesepian. Edward mengerti betul perasaan Skandar sebagaimana dulu Edward meninggalkan Falerinna juga. Itu memang sulit, tetapi sesulit apapun itu kita merasakannya, suatu saat kita bisa melupakannya.



“Andaikan kau tahu Skand. Aku juga memiliki hal yang sama persis dengan dirimu. Aku cukup mengenali Falerinna dahulu, dan aku pun juga merasa nyaman bila ada didekatnya. Dia membuatku jatuh cinta kepadanya, tetapi aku selalu berusaha untuk menyingkirkan perasaan itu. Aku tahu aku salah mencintainya, maka dari itu aku meninggalkannya, aku melupakannya. Tidak ada alasan lain untuk Falerinna selain itu. Aku meninggalkannya karena itu. Dan kau tahu bagaimana aku merasakannya? Itu seperti aku terjun kebawah jurang dan tertutusuk semua benda-benda tajam yang berada di bawahnya. Aku sepertimu dulu. Tetapi aku tetap berteguh diri untuk melupakannya dan meninggalkannya, semuanya tak akan bisa berjalan lancar jika aku tetap menjadi temannya. Dia termasuk yang terindah juga untukku.”

Ucap Edward dalam hatinya, masih dengan menatap Skandar yang menangis. Lalu Edward pun membukakan tangannya, dan membawa Skandar ke dalam pelukannya. Memeluk Skandar dengan penuh percaya diri untuk tetap bertahan dalam masalah ini. Edward yakin Falerinna juga akan membutuh Skandar suatu saat. Edward tahu Skandarlah yang Falerinna butuhkan, bukan dirinya. Semua masalalu yang Edward punyai harus dirahasiakan. Ia tidak ingin hati temannya terluka. Ia tidak mau bahwa sebenarnya dulu, Edward juga mencintai Falerinna.

“Aku hanya tidak mau Falerinna menjadi milik orang lain Ed. Aku hanya ingin Falerinna untukku, untuk masa depanku selanjutnya. Dia telah membiarkanku jatuh cinta kepadanya, maka dari itu ia harus bertanggu jawab sepenuhnya.” Ucap Skandar dalam bekapan Edward. Ia masih menangis mendalam. Tersedu-sedu. Memang sepertinya Skandar tidak bisa pergi menjauh dari Falerinna.
“Falerinna tidak akan meninggalkanmu Skand. Percayalah. Dia juga mencintaimu. Sekarang, dia hanya saja membutuhkan waktu untuk sendiri. Berikanlah waktu itu kepadanya”
“Jika itu memang yang terbaik. Maka akan kuberikan waktu itu.”

**

Dan mungkin semua yang sedang ada di dalam perjalan menuju New York ini, mengenang semua masa lalu mereka. Masa lalu dimana mereka sama sekali tidak pernah berpikir ke depan untuk memberikan yang terbaik bagi orang-orang yang mereka cintai. Ini memang sebuah persahabatan yang rumit. Antara Skandar, Falerinna, Edward, Michael, dan Jenny. Persahabatan ini tidak akan pernah berujung atau bertengah kepada kebahagiaan. Mungkin beberapa orang harus menerima resiko terburuknya. Mengakhiri semua kisahnya dengan mengucapkan Selamat Tinggal. Atau mungkin, mengakhiri semuanya tanpa apapun dan tanpa meninggalkan apapun. Takdirlah yang menentukan. Dan mereka, bukanlah seorang yang mempercayai adanya takdir.




**



Chapter Selanjutnya



Author Point of View’s


Falerinna pun membukakan kedua matanya yang agak sipit. Kepalanya masih pusing ditambah dengan badan yang merasa pegal-pegal. Ia merasakan empuk ditubuhnya menadahkan tubuhnya. Kepalanya terasa ada yang mengganjal begitupun dengan tubuh bagian atasnya.

“Dimana aku? Sepertinya aku tidak berada di dalam pesawat lagi.” Ucap Falerinna dengan suara kecilnya. Ia menoleh ke kiri dan ke kanan tak ada satupun yang ia lihat kecuali hanya seberkas cahaya yang terpantul dari luar jendela. Ia menggeserkan selimut tebal yang menutupi keseluruhan tubuhnya dan mulai meranjak turun dari tempat tidur singlenya. Ia berjalan menuju pintu, memegang knop pintu dan berniat ingin membukanya. Tetapi seketika niatnya terhenti ketika ia mendengar suara yang tak asing dari luar pintu.


“Apa kau yakin Ju? Apakah Falerinna baik-baik saja?” 
“Tentu. Dia sedang tidur. Kumohon bantulah ia agar melupakan lelaki persetan itu.”
“Tentu. Aku akan berusaha Julie. Tidak akan pernah aku biarkan Falerinna terjebak seperti itu.”



Falerinna terdiam mematung. Sejenak otaknya berpikir. “Julie? Dengan siapa dia bicara? Kenapa dia menyebut namaku? Dan siapakah lelaki persetan itu?”

Pertanyaan pun segera melanda perasaan Falerinna secara bertubi-tubi. Ia sama sekali tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Semuanya terlihat misteri serta aneh. Semua sahabat maupun kerabatnya sama-sama menimbulkan aura kemistisan masing-masing yang tidak pernah Falerinna ketahui. Falerinna segera terpikir. Dengan adanya dia di New York ini dia yakin semua akan bertambah buruk. Bagi dirinya maupun orang lain. “Untuk apa aku jauh-jauh ke sini hanya untuk masalah seperti ini? Bodoh bukan? Sangat bodoh!”



**



“Skand.. Kau kenapa?” Ed bersuara di telinga Skandar. Mengalihkan pandangan Skandar yang sedari tadi tertuju pada satu bangunan yang sudah lusuh dan tua atau mungkin sama sekali tidak terpakai.
“Kau lihat bangunan itu Ed?” Skandar pun menunjukkan jari telunjuknya kea rah bangungan tersebut.
“Iya, kenapa? Ada yang salah dengan bangunan itu?”
“Tidak. Hanya saja aku mendengar sesuatu dari dalam sana.”
“Oh ayolah Skand. Jangan terlalu banyak berhalusinasi. Jangan seperti adikmu.”
“Aku serius Ed. Aku tidak pernah berbohong.”
“Lalu. Apa maumu?”
“Kita masuk kesana bagaimana?”
“What? Are you kidding Skand? That’s impossible!”
“No, no Edward. That’s possible for me. Ooh, come on..”
“Aku sama sekali tidak mengerti dengan pikiranmu Skand. Terserah kau sajalah. Aku akan menurut saja.”
“Nah, itu baru sahabatku…”



**


Juliean pun masuk ke kamar dan langsung duduk di sofa kuning panjang yang terletak menghadap ke luar jendela. Julie tersenyum memandang Falerinna sedangkan Falerinna hanya duduk di atas ranjang sambil membaca novel kesukaannya.

“Fal.. Kita harus bersiap-siap sekarang!”

“Kemana? Aku sedang sibuk. Maaf”
“Ayolah Fal. Jangen cemberut seperti itu. Aku tahu kau butuh refreshing.. Makanya aku ingin mengajakmu kesebuah tempat dimana kau pasti akan suka.”
“Kau tidak terlalu tahu kota New York Julie.. Jangan sok tahu.”
“Aku tahu kok. Ayolah aku yakin kau pasti suka..”
“Argh, baiklah baiklah.”



**


NGEEEKK…

Pintu bangunan itu pun terbuka. Langsung menimbulkan aura keanehan dalam diri kedua lelaki ini. Di dalam bangunan ini terlihat beberapa tangga yang sudah berjamur dan kotor, meja-meja kecil yang berserakan dan kertas-kertas lusuh nan kuning yang bertebaran ketika Skandar membuka bangunan tersebut.

Seketika bayangan hitam lewat di belakang kedua lelaki itu. Skandar dan Edward pun segera menolehkan wajah mereka ke belakang namun tidak terlihat apa-apa disana. Skandar bergemetar, Edward merinding. Mereka masing-masing mempunyai perasaan yang berbeda tentang bangunan ini. Semenjak mereka masuk kebangunan ini tidak ada satu kata patah pun yang keluar dari mulut mereka. Mereka hanya diam menyaksikan betapa sangat tuanya bangunan ini.



**



Julie dan Falerinna berjalan di atas trotoar yang menunjukkan jalan ke arah selatan Spring Street. Mereka berdua berjalan sembari membawa sebuah sapu tangan kecil yang tergenggam di tangan mereka masing-masing. Falerinna dengan rambut panjang hitamnya yang halus tampak manis dengan sorotan matanya yang indah menelusuk. Sedangkan Juliean, ia tampak simple dengan rambut bobnya yang tebal.


Ketika mereka ingin menyebrangi sebuah jalan, Falerinna tiba-tiba melihat sebuah bangunan yang tak ia asingi dalam hidupnya. Bangunan itu besar, tua, kotor, tak layak di pakai, dan berjamur.


Masuklah kesana gadis manis. Kau pasti menyukai tempat itu. Itu tempat yang seru untukmu. Ayolah,j angan ragu-ragu.


Falerinna tersontak kaget. Ia menoleh ke belakang tiada seorang pun disana melainkan Julie. Falerinna pun mencubit Julie.

“Aww, kau ini apa-apaan sih Fal? Sakit tahu..”
“Kau jangan suka menggodaku yaa.. Aku tidak suka!”
“Aku tidak menggodamu Fal. Aku sedari tadi sedang memperhatikan jalan. Kau ini kenapa sih?”
“Jangan bohong Julie..”
“Demi Tuhan Falerinna. Aku tidak menggodamu. Lagian siapa sih yang mau menggoda cewek judes kayak kamu..”
“Whateva~”


Falerinna pun kembali menatap bangunan itu. Dia penasaran dengan apa yang ada di dalamnya. Pikirannya tetap tertuju dengan suara yang barusan ia dengar sejara jelas di dalam benaknya. Seluruh rasa penasaran serta ragu benar-benar membuat Falerinna bingung apakah ia harus masuk ke dalam bangunan itu dan melihat apa yang ada di sana? Tetapi bangunan itu misterius. Akan berbahaya jika ia masuk sendirian. Lagi pula itu bukan tempat yang baik untuk dirinya.


Masuklah gadis manis, kau akan kehilangan sesuatu yang berharga jika kau tidak memasuki bangunan itu.I ngat! Nyawamu berada di bangunan itu!



**



Skandar dan Edward semakin dalam memasuki bangunan itu. Mereka berpisah, menelusuri sesuatu yang tidak penting dan di anggap ini hanya sebagai hiburan. Skandar pergi ke tangga yang sebelah kiri sedangkan Edward pergi ketangga yang sebelah kanan.



Skandar berjalan perlahan menuju ke atas. Suara sepatunya terdengar berdengung di ruangan itu. Skandar tetap berusaha menstabilitasikan perasaan takutnya. Tetap berniat ingin melangkah maju untuk mengetahui sejarah dari bangunan ini. Iris matanya yang cokelat tidak pernah lepas dari sebuah pandangan yang tidak asing untuknya. Ia terus mendaki anak tangga tersebut yang sampai akhirnya dia sampai di puncak anak tangga yang terakhir.

Di atas dia tidak melihat benda apapun. Itu hanya sebuah ruangan yang kosong. Tanpa beda sekecil apapun melainkan debu. Skandar melangkahkan kakinya ke dalam ruangan itu. Dia berjalan ke arah jendela, dan di kaca dia melihat sesosok lelaki tinggi besar nan seram berdiri dihadapannya dengan mata yang hilang dan muka yang rata. Skandar melangkah mundur. Memegang besi tangga dan menarik napas dalam dalam. Ia tahu ia terkejut, tapi ini bukan saatnya untuk berteriak. Dia masih harus melanjutnya penelusurannya mengenai bangunan ini.

Skandar menutup mata, mencoba melupakan sesosok itu. Membayangkan wajah Falerinna yang cantik –menurutnya-. Skandar tersenyum, dan ketika ia membuka mata.. Sesosok wajah yang hancur dilumuri dengan darah berada dihadapannya dan matanya yang tercongkel keluar secara perlahan.

“AAAAHHH!” Skandar pun berteriak dan langsung berlari kembali menuruni anak tangga.
“EDWARD! EDWARD! Dimana kau! Kurasa kita harus kembali! EDWARD!” Skandar terengah-engah, memanggil Edward tetapi tanpa ada jawaban.
“EDWARD! Kumohon! Kita harus keluar dari tempat ini..!!” tetap tidak ada jawaban. Skandar hampir takut setengah mati hari ini. Dia benar-benar menyesal telah masuk ke bangunan ini, dan sekarang ia sendirian. Tak tahu harus kemana dan Edward pun entah pergi kemana. Skandar terdiam. Berlutut dilantai dan meninjukan kepalan tangannya ke lantai.
“Kau bodoh Skand! Tak seharusnya kau disini! Kau memang bodoh!”

Skandar meremas rambutnya dan terduduk di lantai. Tubuhnya melemas dan ia tidak tahu harus bagaimana. Ia ingin menaiki tangga yang tadi dinaikkan tangga oleh Edward, namun di tangga tersebut. Sesosok kepala bunting sudah menghalanginya.


“Aku tidak tahu harus bagaimana sekarang…”


Nyawamu di tempat ini. Jika kau ingin keluar, lawanlah kami. Kau sudah menjadi budak kami lelaki persetan!


“Aku tidak peduli siapa kamu! Aku tidak takut denganmu!”


Kau hanya lelaki kecil yang tidak memiliki apa-apa selain rasa takut. Nyalimu kecil. Tak dapat sanggup melawan kami semua.


“Maumu apa huh? Membunuhku? Bunuh saja! Aku tidak akan takut!”


Ooh tidak, tidak. Kami tidak akan membunuhmu. Tetapi.. Kami akan membunuh seseorang yang kau cinta…
Falerinna.. Ya, dialah yang harus kami bunuh. Kau tidak pantas berada di hadapan Tuhan. Hanya dialah yang pantas. Jangan kau relakan nyawamu untuknya, karena jika kau begitu.. Akan ku sayat Falerinna dan ku ambil jantungnya lalu ku makan. Jangan pernah sekali-kali.


Skandar pun menangis. Kali ini memang bukan nyawanya yang terancam, namun seseorang yang dicintainyalah yang terancam.

Ia berpikir. Lebih baik ia yang mati daripada harus Falerinna yang mati. Dunia ini sama saja seperti neraka jika dia tidak bertemu Falerinna. Lebih baik dia sendiri masuk neraka tetapi bisa merasakan kebahagiaan Falerinna.


“Semua hal yang ku alami tiada yang lebih buruk, melainkan kehilangan Falerinna.” –Skandar



**



To be continued~


Tidak ada komentar:

Posting Komentar