Author : Alferina
Genre : _______________________
Pairing : Skandar Keynes x Falerinna
Rated : Teen
Length : Multichapter
**
Michael Point of View’s
Aku mengerjapkan mataku berkali-kali. Segenap agak silau karena cahaya matahari yang cukup menulusuk indera penglihatanku. Tubuhku terasa pegal..Mungkin ini di akibatkan tidur di bangku keras ini.
SREEK SREEK.
Seett. Aku menoleh kearah dapur. Mencoba untuk mendengar suara yang barusan kudengar dengan pasti.
SREEK SREEK
Ups. Suara itu semakin terdengar. Oh no. Tidak lagi.
Aku pun beranjak berdiri dari bangku keras tersebut, dan bersiap-siap menodongkan senapanku. Berharap peluruku masih tersisa walaupun sedikit.
Aku berjalan perlahan menuju ambang pintu dapur. Mengumpat di belakang dinding sebentar dan mulai melihat keadaan dapur dengan kepalaku dengan gerakan slow motion.
Setelah melihat ada apa di dapur. Sedetik, aku menjatuhkan senapanku dan mulai jalan malas mendekati seseorang yang ada didalamnya.
“Julianaa.. Apa yang kau lakukan disini?” tanyaku sambil menepuk pundaknya
“Michael. Kau tersadar? Syukurlah” ucap Juliana kegirangan dan setelah itu memelukku
“Darimana kau tahu aku disini?”
“Semalam aku mendengar suara tembakan. Dan aku pun keluar dari rumah. Dan aku melihatmu sedang lari ketakutan menuju hutan ini. Dengan sigap aku langsung menyusulmu ke tempat ini”
“Kau menyusulku? Kau tidak apa-apa kan? Tidak ada yang terluka?”
“Apa maksudmu? Tentu saja aku baik. Kan aku sendirian sejak semalam”
“Dimana mereka?”
“Mereka? Mereka siapa?”
“Human masked Ju.. Manusia bertopeng”
“Kau menggigau ya? Tidak ada siapa-siapa disini selain kita berdua”
“Tidak ada siapa-siapa? Kau yakin?”
“One hundred persen. I’m sure Michael”
Aku pun terdiam. Menyadari hal-hal semalam yang terjadi. Bukankah semalam itu kejadian yang nyata? Aku benar-benar merasakannya.
Manusia bertopeng, suara tembakan, aku terjatuh, dan aku menendang kaki manusia bertopeng itu.
Apa yang telah terjadi sebenarnya? Apa aku hanya berkhayal? Tidak, tidak mungkin! Itu kenyataan. Aku merasakannya, aku melihatnya, dan bahkan aku mendengarnya..
Chapter Selanjutnya
Falerinna Point of View’s
3 hari sudah kulewatkan tanpa apapun. Selama 3 hari ini, aku hanya bisa diam dikamarku, memikirkan cara Julie membantu menyelesaikan masalahku, dan memikirkan sekolahku.
New York bukanlah kota yang dekat dengan London, dan New York bukanlah kota dimana dengan 1 jam perjalanan kita bisa sampai kesana. New York adalah kota yang sangat jauh, ramai, dan dipenuhi oleh orang-orang tak suka bersosialisasi macam Michael. Yah, aku tahu Michael itu semacam orang yang bersifat penyendiri, dia tidak suka bergaul dengan orang yang sembarangan. Tetapi Michael juga memiliki hubungan batin yang kuat, perhatiannya kekal, dan pedulinya pun sesama manusia sungguh beradab. Michael seperti Skandar. Hanya saja bedanya Skandar lebih labil dibandingkan Michael. Skandar itu orang yang baik, perhatian, penyayang, penyabar, dan pintar. Dia cukup bisa mengenal semua orang tanpa harus lebih dekat dengan orang tersebut. Well, itu mungkin cara terbaik yang dilakukan Skandar agar dia tidak disebut-sebut sebagai laki-laki yang cuek.
**
Kini jam sudah menunjukkan waktu sore hari dan bahkan aku masih belum menyepakati cara Julie. Apa benar aku harus ke NY? Bertemu dengan Michael? Melupakan Skandar, hanya karena masalah kecil ini? Itu memang seperti cara yang sangat konyol dan bahkan tidak masuk di akal. Walaupun Juliean berniat untuk membantuku tetapi setidaknya dia harus bisa mengerti perasaanku disaat aku bertemu kembali dengan cinta pertamaku. Itu sangat tidak manusiawi –menurutku-.
Kuputuskan hari ini aku memang harus terbang ke NY. Mungkin jadwal terbangku akan terambil saat malam hari, karena sore ini, 1 jam yang lalu pesawat internasional kota London sudah berangkat menuju NY. Kalau begitu aku harus menghubungi Julie sekarang juga.
Akupun meraih ponselku yang terletak di meja kecil dan segara menghubungi nomor ponsel Julie.
“Hallo, Ju.. Aku sudah memutuskan keputusannya” aku membuka mulutku untuk memulai pembicaraan, dan sepertinya Julie mengerti betul dengan apa yang akan aku jawab dengan keputusannya itu.
“Ya, tentu kita akan segera pergi ke NY sekarang juga.”
“Iya hari ini. Aku lebih baik segera menyelesaikan masalahku daripada harus menahan batin berat seperti ini.”
“Okay baiklah. Aku akan bersiap-siap dan meminta izin kepada ibuku.”
“Ya, ok. Sampai jumpa di bandara”
Setelah berbincang, aku menutup ponselku dan bergegas pergi menuju lemari pakaianku. Mengambil koper di bawah ranjangku dan memasukkan beberapa pakaian yang dibutuhkan saja.
Dan setelah semuanya siap, aku segera mandi, meminta izin, dan langsung pergi menuju ke bandara. Kuyakini semoga aku bisa mencari alasan yang tepat untuk perjalanan ini
**
Skandar Point of View’s
Kini aku sudah berada di bandara bersama Edward. Akhirnya hari ini aku bisa pergi ke New York untuk menyelesaikan persahabatan ini. Well, sepertinya Edward terpaksa menemaniku ke New York.Dia terpaksa harus cuti kuliah selama 2 Minggu hanya untuk menemaniku. Memang benar-benar teman yang setia untukku.
Sebenarnya terpaksa kita harus datang lebih awal, kita sebenarnya ingin mengambil jadwal terbang jam 3 sore tadi, tetapi karena kita terlambat datang akhirnya kita terpaksa mengambil jadwal terbang jam 7 malam. Well, hanya untuk menunggu beberapa jam itu tidak apa-apa kan? Sekali kali lah bersabar..
“Skand, bagaimana dengan Lily?” tiba-tiba Edward bertanya kepadaku yang terlihat sedang memerhatikanku secara penasaran.
“Tenang saja Ed, dia akan aman bersama tanteku.” Jawabku secara santai dan menatap kembali mata Edward yang sedari tadi melihatku secara intens
“Baguslah. Kukira adikmu itu akan merengek minta ikut.”
“Tadinya begitu, tetapi setelah kubujuk akhirnya dia mengerti.”
“Apa yang kau katakan kepada adikmu itu? Jika sekarang kau akan pergi ke New York”
“Aku tidak perlu berkata apapun Ed. Dia sudah mengetahuinya dari awal. Kau lupa kalau Lily itu punya indra ke 6?”
“Hmm, sepertinya aku lupa dengan kenyataan itu”
“Kau kan memang pelupa Ed. Bahkan dengan teman masa kecilmu saja kau lupa.”
“Tidak kok. Aku tidak pelupa.. Aku tahu siapa teman masa kecilku”
“Oh ya? Siapa namanya?”
“Namanya adalah Fal…-“
“Hah? Falerinna maksudmu?!” sontak aku terkejut mendengar Edward menyebutkan nama depannya “Fal”.. Ya, nama panggilan itu kan seharusnya ditujukan kepada Falerinna, kenapa dia menyebutkannya? Apa benar Edward adalah teman masa kecil Falerinna? Tetapi kenapa Falerinna tidak bercerita kepadaku? Kenapa semua orang membohongiku? Aku seperti di permainkan.
“Tidak Skand.. Dengarkan aku dulu. Teman masa kecilku itu bukan Falerinna melainkan.. Umm, mm.. Yaa namanya .. Sudahlah lupakan Skand. Jangan membahas tentang masa lalu. Kau tahu aku ini bukan orang yang suka memflashback?”
“Baiklah. Aku akan mengerti. Tetapi jika kau membohongiku, aku tidak akan memaafkanmu Ed.”
“Ya, ya, ya.. Terserah kau sajalah.”
**
Falerinna Point of View’s
“Ju.. Berapa jam lagi kita akan segera terbang?”
“1 jam lagi Fal. Kenapa?”
“Tidak.. Aku hanya bertanya saja”
Kami pun duduk di sebuah kursi panjang dekat loker pemesanan tiket. Aku pun melihat ke kiri dan ke kanan, semuanya sama. Banyak orang disini. Mungkin mereka juga ingin pergi ke suatu tempat. Tempat yang baik untuknya, tempat dimana mereka bisa beristirahat dan senang-senang. Tidak sepertiku, yang pergi ke suatu tempat hanya untuk mengingat masa laluku. Sepertinya hidupku ini penuh dengan kesengsaraan ya. Berbeda dengan semua makhluk hidup yang ada di muka bumi. Tetapi mungkin, ini adalah cara Tuhan satu-satunya untuk menunjukkan sampai dimana ketahanan imanku.
Pandanganku terus beralih kepada semua orang yang ada dibandara ini. Hmm, sepertinya.. Semua orang disini tidak ada yang kukenal.. Memangiya kan, lagipula siapa yang mau kenal dengan orang macam aku ini? Orang yang selalu terjebak dalam cobaan.
**
Author Point of View’s
Iris mata Falerinna pun masih menggidik ke sekitarnya, ia masih memperhatikan sosok sosok semua orang yang ada disini. Sungguh, ia sama sekali tidak tertarik dengan semua orang yang ada disini, kecuali … Satu orang yang dia lihat secara tidak sengaja
“Skandar?? Edward?? Apa yang mereka lakukan disini? Mereka ingin pergi kemana? Dan waitt!! Skandar bersama Edward? Darimana Skandar kenal dengan Edward, dan bukankah Edward itu teman masa laluku? Kenapa mereka bisa bersama?
Oh Tuhan.. Ini semakin memburuk. Ini seperti semacam… Ohh noo. Hell”
**
To be continued

Tidak ada komentar:
Posting Komentar