Minggu, 23 Maret 2014

Friendzone: Chapter 4 (Rain Fall)

Title     : Friendzone
Author : Alferina
Genre  : ___________________________
Pairing : Skandar Keynes x Falerinna
Rated   : Teen
Length : Multichapter




**


Chapter Sebelumnya




Di tempat lain, Skandar dan Edward kini sedang berada dikediaman rumah Edward. Edward teringat dengan hari kemarin saat sahabat ibunya yang datang kerumahnya hanya ingin menitipkan sebuah map yang berisi berkas-berkas penting tentang Falerinna dan juga sedikit biografi hidup tentang Falerinna. Entah mengapa, Edward pun bingung kenapa ibu Falerinna menitipkan barang-barang privacy itu kepada ibunya? Mungkin memang menurut ibu Falerinna, hanya ibunya yang dapat menjaga rahasia terbesar milik anaknya.


“Menurutmu, apa yang dimaksud ibu Falerinna selama ini?” Tanya Skandar tiba-tiba kepada Edward yang sibuk mencari map tersebut.
“Entahlah. Kupikir, hanya ibuku yang dapat menjaga rahasia terbesar Falerinna.”
“Rahasia? Tetapi Falerinna tidak pernah memberitahuku tentang rahasianya.”
“Mungkin Falerinna belum sepenuhnya percaya kepadamu.”


Sejenak Skandar terdiam, memandang Edward dengan penuh tanda tanya. Skandar merasa, Edward ini sudah tahu sepenuhnya tahu mengenai Falerinna. Ini bisa menjadi pertemanan yang sulit jika memang Edward sangat mengetahui betul sosok Falerinna.

Skandar pun mencoba untuk tenang, mencoba untuk menyimpan beberapa pertanyaan singkat yang ingin ia lontarkan kepada Edward. Mungkin ini baru hanya perasaannya saja.


“Ini dia! Ketemu mapnya!” ucap Edward kegirangan setelah ia mendapatkan map yang telah dicarinya
“Bukalah map itu. Aku penasaran dengan isi-isinya.”
“Baiklah.. Akan kubuka.”
Edward pun segera meraih tali yang terikat di map tersebut dan mulai membukanya secara perlahan.

“Banyak sekali berkas-berkasnya. Kau mau lihat yang mana?”
“Yang terpenting sajalah. Jangan semuanya.”

“Tunggu! Ini kan selembar kertas diary Falerinna. Ini tulisan tangan asli Falerinna. Kertas ini sudah lama sekali. Kalau tidak salah semenjak tanggal 5 September 2009.”
“Bagaimana kau tahu itu selembar kerta diary Falerinna?”
“Umm, aku hanya mengetahuinya saja. Kau mau lihat atau tidak? Ini yang paling penting menurutku.”
“Baiklah. Akan aku baca.”


Skandar pun meraih kertas itu, membukanya dan membacanya secara teliti dan detail.



Diary,
5 September 2009

Hari ini hari yang cukup menyenangkan. Di hari ini aku bisa melihat senyum seseorang yang aku suka. Entah kenapa, secara tiba-tiba aku bisa membuatnya tertawa walaupun kupikir tidak ada hal lucu hari ini.
Michael..
Ya, itulah nama seseorang yang kini sedang kusukai. Kau tahu? Dia adalah sahabat terbaik yang pernah kumiliki. Dia selalu setia, perhatian dan menepati janjinya. Aku cukup bahagia bisa mengenalnya. Michael adalah inspirasi hidupku. Dia adalah yang terpenting di dalam hidupku setelah kepergian ayahku. Walaupun sebentar lagi kami berpisah, setidaknya aku masih bisa merasakan suaranya. Esok adalah hari kepindahannya dari Inggris. Dia akan pindah ke New York untuk melanjutkan sekolahnya. Benar-benar buruk untukku. Tetapi, bagaimanapun juga. Aku akan tetap berusaha akan berkomunikasi dengannya. Sampai benar-benar aku bisa mencari pengganti dirinya.

Tertanda,
Falerinna



“Kupikir Michael adalah orang yang sangat berarti untuk Falerinna.”
“Eh? Maksudmu Skand?”
“Dia bilang hanya Michael satu-satunya orang yang berharga didalam hidupnya. Karena Michael pindah ke New York, dia akan tetap terus berusaha mengubunginya sampai dia benar-benar bisa mencari pengganti Michael.”
“Dan menurutku kaulah penggantinya Skand..”







Chapter Selanjutnya





“Ed. Aku tahu Falerinna sekarang sangat kehilangan orang yang disayanginya. Tetapi ini semua bukan berarti akulah pengganti seorang Michael. Buktinya, aku menyakiti hatinya”
“Kau menyakitinya karena kau masih belum bisa memahami perasaanya. Cobalah pahami apa yang dia rasakan selama ini terhadapmu. Pastinya dia akan menganggapmu seperti Michael”
“Aku ini Skandar bukan Michael. Jelas aku berbeda”
“Pantas saja kau Skandar. Aku tahu sosok Skandar adalah sosok dimana ia tidak pernah tahu dimana letak kesalahannya sendiri”



Skandar terdiam. Mencerna kata-kata yang baru saja diucapkan Edward.
Pantas saja kau Skandar. Aku tahu sosok Skandar adalah sosok dimana ia tidak pernah tahu dimana letak kesalahannya sendiri

Skandar pun kembali menatap selembar kertas tersebut. Kembali membacanya, dan berusaha mencari ide-ide sebanyak-banyaknya agar dia dapat kembali mempersatukan persahabatannya dengan Falerinna. Ia tahu ini bukanlah ide yang baik, tapi menurut Skandar hanya inilah ide satu-satunya yang paling baik diantara yang telah dipikirkannya.


“Baiklah Ed, aku menyerah. Aku mengakui kelemahan diriku. Sebagai gantinya, aku telah menemukan beberapa ide cemerlang yang melantas di otakku. Maukah kau ikut menemaniku dalam membantu menyelesaikan masalah ini?”
“Apapun untuk temanku aku akan berusaha tetap bersamamu. Apa idemu?”
“Kupikir, kita harus menemukan seseorang yang bernama Michael?”

“What? Mencari Michael? Kau gila Skand! Dia di New York, sedangkan kita di Inggris. Tidak perlu berlebihan seperti itu jika kau memang ingin kembali bersama Falerinna.”
“Menurutku hanya ini ide satu-satunya yang paling baik. Kupikir hanya Michael yang bisa meluluhkan hatinya Falerinna.”
“Skand.. Aku butuh waktu untuk mempertimbangkan ide konyolmu itu”



**



“Fal. Dengarkan aku!” kini Juliean terlihat cukup muak dengan perilaku Falerinna. Sedari tadi hanya menangis, menangis, dan menangis yang dilakukan Falerinna. Apa sih gunanya menangis? Buatlah dirimu tenang Fal, jangan selalu terpuruk. Hanya gara-gara laki-laki tak punya perasaan kau menjadi pendiam begini. Ini memang harus diselesaikan secepat mungkin!

“Apa Jul? Bisakah kau tenang? Aku butuh waktu!” dan sekarang Falerinna yang kembali membentak Juliean dengan cukup kerasnya. Falerinna mulai merasa terganggu dengan adanya Julie disini. Tapi apa daya, Falerinna memang sangat membutuhkan Julie untuk membantunya memperbaiki hatinya.
“Fal, aku mempunyai cara untukmu agar kamu bisa bangkit lagi dari masalah ini”
“Apa? Apa caramu?”
“Temuilah Michael. Hanya dia satu-satunya yang bisa membuatmu kembali seperti dulu”
“Ha? Michael? Tidak, aku tidak mau bertemu dengannya”

“Kenapa? Bukankah kau merindukannya? Ayolah Fal, hanya sebentar. Hanya untuk menghilangkan lukamu itu. Percayalah..”
“Aku butuh waktu untuk memikirkannya kembali.”



**


Sore ini masih sama seperti sore kemarin yang ada dilingkungan kota London. Masyarakat yang mulai kembali istirahat dari aktifitasnya, burung-burung merpati yang beterbangan di tengah taman, anak-anak kecil yang bermain dengan cerianya, masih menjadi ciri khas kota London tersendiri.
Saat ini di dalam detik yang masih berjalan disetiap waktunya, Falerinna memandang lurus sebuah pohon besar yang ada di hadapannya. Iris matanya yang berwarna cokelat tidak pernah kabur dari sebuah titik pandangnya saat ini. Pikirannya tertuju kepada 2 orang yang selama ini sudah membuat hidupnya istimewa.


Michael & Skandar..
Merekalah yang saat ini Falerinna pikirkan. Disaat-saat waktu yang masih terbilang sempit, Falerinna malah memikirkan laki-laki yang sudah pergi dari hidupnya. Well, memang tidak semudah yang dipikirkan untuk tetap bertahan dari kesedihan. Ia mengerti dengan kondisinya, bahkan amat mengerti. Ia tahu ini belum akhir dari hidupnya. Tapi ia juga harus tahu kapan harus berhenti dalam masa lalunya.

Seketika, Falerinna ingat dengan kata-kata yang pernah diucapkan Michael di taman ini. Falerinna ingat, saat dirinya masih terbilang anak-anak dan sama sekali belum mengerti apa-apa tentang cinta, Michael secara tiba-tiba datang ke kehidupannya yang labil. Dengan senyumannya yang terpampang di wajahnya, Falerinna ingat betul bagaimana dengan fasih Michael mengucapkan sesuatu janji yang tidak akan pernah terlupakan oleh Falerinna. Ya, walaupun Falerinna tahu janji itu hanyalah janji biasa.



Fal, andaikan ini bisa menjadi hari terindah yang kita punya aku akan sangat menghargainya. Begitupun aku yang juga menghargai dirimu. Kamu istimewa untukku Fal. Kau adalah perempuan pertama yang berhasil membuatku mengerti tentang segalanya. Dengan senyumanmu aku yakin kamu tidak akan pernah meninggalkanku. Jika aku punya salah satu saksi disini, aku akan berjanji padamu.
“Kita bersama, akan selalu bersama. Kita tidak akan pernah melewatkan sedikit waktupun yang berharga. Kita selalu memanfaatkannya bersama-sama. Dan disini, aku berjanji. Pada saat waktu yang tepat dan bahkan benar-benar tepat. Aku akan kembali seutuhnya kepadamu. Aku tidak pernah meninggalkanmu seumur hidupku. Karena dijantungku, akan selalu ada namamu yang terindah. You are my first love my Fal”


“Dan jika kau benar-benar menepati janjimu itu Michael.. Aku berharap kau ada disini bersamaku. Memelukku dan menghapus air mataku dikarenakan janji masa lalumu itu”


Falerinna pun menunduk, menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Tubuhnya bergemetar, dan angin pun mulai berubah rasanya. Suara gemuruh dari langit-langit atas mulai terdengar.
Satu detik, dua detik, tiga detik, empat detik, dan lima detik kemudian..Hujan pun turun dengan lebatnya. Membasahi tanah dan Falerinna di taman ini. Dikursi kayu yang panjang ini, Falerinna tetap duduk terdiam dengan tangisannya.

“Aku tidak akan peduli betapa derasnya hujan ini. Dan bahkan aku tidak akan peduli aku akan sakit separah mungkin. Aku kecewa dengan semua yang terjadi! Aku sudah cukup terjebak dengan yang namanya persahabatan. Apa ini tidak membunuhku, huh? Skandar! Aku harap kamu bisa menggantikan Michael. Tapi apa nyatanya? Kau merusak semua harapanku! Kau jauh dari yang kukira. Aku hanya ingin menutupi luka lamaku. Ditinggalkan oleh orang yang sangat aku sukai. Tapi itu tidak berhasil. Bisakah didunia ini, di bumi ini, di Negara ini, dan di kota ini, ada orang yang benar-benar tulus menganggapku ada? Ya Tuhan aku tahu ini rumit, tapi mudahkanlah. Aku belum bisa sepenuhnya melewati semua ini. Semua ini terlalu sakit! Dan kau tahu Tuhan? Aku ini hanya orang yang lemah! Aku hanya tidak bisa disakiti! Kumohon Tuhan.. Buatlah semuanya indah kembali.. Aku rindu kehidupanku yang dahulu.”

Falerinna pun jatuh ke tanah, lututnya lemas. Ia merunduk, mendalami tangisannya yang semakin lama semakin menjadi. Ia tahu ini buruk, tapi setidaknya ia sudah bisa meluapkan semuanya. Ia menyesal dengan hal kemarin. Walaupun penyesalan ini dibilang “terlambat”.
Hujan semakin deras, dan angin pun mulai semakin berhembus dengan amat kencang bagaikan badai.
Tubuh Falerinna seakan membeku saat ini. Ia kedinginan, ia butuh kehangatan. Tetapi ia sadar kehangatannya sedang tidak bersamanya saat ini. Mencoba untuk sabar, itu ternyata tidaklah mudah. Waktu terasa lama berjalan jika perasaan itu datang kembali. Falerinna lelah karena setiap hari yang ia keluarkan hanyalah air mata. Bukan semangat ataupun keceriaan. Kebahagiaan hilang. Hilang segenap dari dirinya yang berubah. Berubah dikarenakan kehilangan kesenangan yang terhambat.


**


Skandar Point of View’s


Aku disini, ya berada disini. Melihatnya duduk sendirian ditaman yang mulai sepi ini. Apakah Falerinna sudah gila? Saat ini sedang hujan dan kenapa ia tetap di kursi itu?
Kudengar ia berteriak. Ia berkata ia menyesal dengan semuanya. Dan bahkan iapun menyesal denganku. Fal, aku tahu telah apa yang aku perbuat. Tapi kumohon jangan sakiti dirimu. Itu seakan membunuhku. Kembalilah Fal, pulanglah. Kau harus istirahat. Jangan mempersulit keadaanmu. Jika kau ingin kehidupanmu kembali, sadarkanlah dirimu. Jangan sepenuhnya meratapi kesedihan. Aku mencintaimu Fal. Ya, kali ini aku tersadar. Sore ini aku merasakan. Bahwa cinta yang sesungguhnya untukku adalah kau. Aku mencintaimu, bukan mencintai Jenny.

Kumohon Fal. Bangkitlah dari kursi itu, menjauhlah dari tempat itu. Pulanglah. Please, for me..

Sepertinya percuma aku memohonnya untuk pulang. Aku berbicara sendiri, tidak berbicara bersamanya. Disini aku hanya bisa melihatnya dari kejauhan. Melihat apa yang sedang ia lakukan di taman yang gelap ini. Aku tahu ia depresi, dan aku tahu ia stress. Tapi bisakah ia hentikan hal bodoh itu? Setidaknya, ia juga harus memerhatikan dirinya. Ia sedang lemah, dan ia akan semakin lemah jika terus menerus seperti itu. Apa yang harus kulakukan sekarang? Menghampirinya? Membujuknya untuk pulang? Apakah aku bisa? Tidak, pasti dia mengabaikanku. Tapi bagaimana jika dia sakit? Terbaring di ranjang selama beberapa hari tanpa sadar? Tidak, ia tidak boleh tersakiti.


**


“Fal.. Pulanglah. Ini semakin tidak baik”

Kulihat, Falerinna terkejut mendengar suara yang ia dengar secara tiba-tiba. Ia menolehkan wajahnya kepadaku. Melihatku dengan tatapan tidak percaya, dan mulai diam terpaku tanpa ada sedikit jawaban yang terjawab. Aku pun mendekati dirinya, berusaha mencoba mengembalikannya kedalam pelukanku.Tapi, dengan sigap. Ia melarangku.

“Stop Skand! Jangan pernah mendekat lagi! Cukup hanya segini jarak yang kita punya”

“Pulanglah. Jangan sakiti dirimu”
“Apa pedulimu Skand? Pergilah dari sini!”
“Tidak. Aku tidak akan pergi sebelum kau pulang”
“Bisakah kau menghentikan ide konyolmu itu? Itu membuatku geli”
“Dan bisakah kau menghentikan perilaku bodohmu ini? Itu membuatku terbunuh”
“Terbunuh? Kupikir kau salah tanggap Skand. Seharusnya aku yang terbunuh karena sudah dipermainkan olehmu!”
“Pulanglah. Lupakan masalah itu”
“Lupakan? Never!”
“Listen. I just do not want you to mean like a little child. Can you forget the problem for a while and go home to your house? Think about your condition”
“I never thought that you would be as understanding it to me”
“I know. Go home. And the rest”
“Leave me alone, then I'll be home soon. I do not want to see your face here too long. I have not fully trust you again”
“Well if it's what you want”

**

Aku pun meninggalkannya. Kali ini untuk kedua kalinya ia memintaku untuk pergi. Sakit rasanya mendengarkan kata-katanya bahwa ia tidak ingin melihat wajahku berlama-lama. Well, jika memang itu yang dia inginkan. Maka akan aku turuti. Jika itu memang membuatnya lebih baik.



To be Continued~


Tidak ada komentar:

Posting Komentar