Minggu, 23 Maret 2014

Friendzone: Chapter 3

Title     : Friendzone
Author : Alferina
Genre  : ___________________
Pairing : Skandar Keynes x Falerinna
Rated   : Teen
Length : Multichapter


**

Chapter Sebelumnya


Aku pun memberanikan diri untuk menghampirinya, ingin menanyakan keadaannya dan meminta penjelasannya tentang dia tidak memberitahu kondisinya kepadaku.


“Fal? Kamu ngapain disini? Kenapa nggak ke sekolah?”
“Eh. Skandar.. Tidak Skand, aku absent hari ini. Kamu sendiri kenapa nggak ke sekolah?”
“Aku ingin menghampirimu, mau menanyakan keadaanmu. Aku lihat kondisimu tidak sebaik seperti biasanya. Kamu sakit?”
“Tidak Skand, aku tidak sakit. Hanya saja mungkin aku kurang istirahat. Sudahlah, jangan terlalu mengkhawatirkan diriku. Aku bukan siapa-siapa kamu.”

Bukan siapa-siapa aku? Bukannya aku sahabatnya? Ini memang aneh..

“Aku kan sahabatmu Fal. Kenapa kamu bisa bilang bahwa aku bukan siapa-siapa kamu?”
“Kupikir kita tidak akan bisa bersahabat lagi”
“Kenapa? Aku kurang sempurna untukmu? Begitu?”
“Tidak Skand.. Kupikir aku bukan sahabat yang baik untukmu. Aku tidaklah cocok untukmu. Jenny lah yang pantas untuk menjadi sahabatmu yang sesungguhnya.”
“Tidak seperti itu lah Fal. Kamu cemburu denganku dan Jenny, huh?”
“Tidak. Aku tidak cemburu. Aku senang..”
“Jangan berbohong! Aku bisa melihatnya dari matamu!”
“Jika kamu bisa melihat, tentunya kamu tahu apa yang aku rasakan saat ini.”

Aku terdiam, terpaku memandang matanya. Tatapannya sendu, seakan-akan dia menginginkan sebuah harapan yang besar. Bibirnya membentuk sebuah senyuman kecil. Rambutnya yang panjang terurai mulai berterbangan dikarenakan angin yang berhembus cukup kencang. Iris matanya yang berwarna coklat cukup indah. Oh Tuhan, apa yang sudah ku lakukan? Apa aku menyakiti gadis ini? Tidak, aku pasti salah..

“Aku sama sekali tidak tahu apa yang kamu rasakan Fal. Tapi aku mohon jangan putuskan persahabatan kita. Aku masih menyayangimu.”
“Aku cukup menghargai apa yang selama ini telah kamu lakukan untukku Skandar. Tetapi mungkin, kita memang harus mengakhirinya sekarang. Aku ingin sendiri. Aku ingin hidupku yang murni. Aku ingin mencari kebahagiaan sendiri. Aku berterima kasih karena kamu telah menjadi sahabat penghiburku selama ini.”
“Kenapa kamu ini mudah putus asa Fal? Apa kamu tidak membutuhkan seorang sahabat yang benar-benar mengerti keadaanmu? Apa kamu tidak membutuhkan seorang sahabat yang bisa membuatmu tersenyum? Aku khawatir terhadapmu.”

“Aku ini cukup bisa untuk mengontrol semuanya. Bahkan perasaanku sendiri. Aku mengerti perasaanmu. Bukankah itu yang kamu inginkan? Aku membaca pikiranmu, dan kamu ingin aku menghargai perasaanmu karena kamu mencintai Jenny daripada aku. Sekarang, aku sudah menghargainya. Bukankah itu sudah lebih dari cukup untuk menjadi sahabat yang pengertian?”
“Tapi tidak diakhiri dengan permutusan sahabat Fal. Kumohon, berikan aku kesempatan untuk menjadi yang terbaik untukmu.”
“Tidak bisa Skandar. Keputusanku sudah bulat. Terima kasih atas semuanya. Aku bangga pernah menjadi sahabatmu. Terima kasih. Aku harus pergi..”


**


Sudah. Kupikir aku sudah kehilangan orang yang aku sukai kali ini. Sungguh aku menyesal dengan apa yang sudah kuputuskan. Tapi aku juga harus tetap bisa bersabar. Aku pasti akan bisa mendapatkan Falerinna kembali. Falerinna orang yang mudah untuk dibujuk, aku paham benar dengan sifatnya.

Ya, suatu saat nanti aku akan kembali membawa Falerinna menjadi sahabatku. Aku janji. Aku akan memulainya secara perlahan..


**



“Ini memang keputusanku untuk mengakhiri persahabatan kita. Menurutku, aku bukanlah yang terbaik lagi untukmu. Aku hanya membawa keburukan untukmu. Ini hidupku, aku harus bisa menjalaninya secara alami. Aku tidak butuh lagi senyumanmu, yang aku butuhkan sekarang hanya kesabaran yang kuat dalam menjalani semua permasalahanku.” –Falerinna



“Aku tidak akan pernah membiarkanmu pergi begitu saja dari hidupku. Kamu adalah sahabat yang sangat aku hargai. Jadi, aku berjanji akan membawamu kembali ke tali persahabatan ini. Percayalah.” – Skandar






Chapter Selanjutnya






Falerinna Point of View’s


Hari ini adalah hari dimana pertama kalinya aku memutuskan persahabatanku dengan Skandar. Entah kenapa, aku merasa jengah sekarang bila berada di dekatnya. Aku merasa, aku tidak membutuhkan Skandar lagi. Kupikir, Skandar sudah cukup membuat hidupku bahagia kemarin-kemarin. Harapan yang kuharapkan selama ini berbalik kenyataan. Kukira, Skandar akan cukup bisa menerima semua apa yang akan kukatakan tetapi tidak. Aku cukup mengetahui tentang dirimu Skand. Dan itu sudah sangat lebih dari cukup untuk mengenalmu lebih jauh. Aku tidak mau merepotkan kehidupanmu yang damai. Aku hanya bisa merepotkanmu, aku hanya bisa membuatmu capai, dan bahkan aku hanya bisa membuatmu sengsara. Seharusnya aku tahu dari awal bahwa aku bukanlah sahabat yang baik untukmu. Aku yang terburuk untukmu. Maafkan aku. Jujur, aku tidak mau mengakhiri semuanya, hanya saja. Hatiku merasa aku harus melakukannya.

Siang ini aku berencana untuk mengunjungi teman lamaku Juliean. Dia cukup bisa membuatku lebih baik. Hanya dia pengganti Skandar disaat Skandar tidak ada untukku. Mungkin aku memang harus banyak meminta sarannya. Hanya itu cara terbaik agar aku bisa melupakan Skandar.




Author Point of View’s


“Hallo, Ed? Bisa kau kerumahku sekarang? Aku membutuhkanmu..” ucap Skandar pada ponselnya yang kini ia genggam di tangan kanannya dan ia tempelkan pada telinganya.
“Of course now. Please.. I need your help.”
“Okay, I’ll wait you..”


Setelah ponselnya ditutup Skandar pun mempersiapkan diri untuk bertemu dengan kerabat dekatnya –Edward- yang akan datang kerumahnya. Sebenarnya Skandar tahu ia tidak perlu melakukan hal ini, tentu saja ia bisa melakukannya sendiri tanpa bantuan temannya tetapi mungkin untuk masalah ini, Skandar benar-benar butuh komentar tentang putusnya persahabatannya sendiri dengan Falerinna.

“I never thought I would be this stupid. I do not believe that Falerinna do it, but I will try to return him to me. I promise”


**


Beberapa menit kemudian, bel rumah Skandar pun berbunyi, menandakan datangnya seorang tamu. Skandar pun bergegas berjalan mendekat ke pintu depan rumahnya dan membukanya dengan senang hati. Skandar sudah tahu bahwa tamu yang akan datang kerumahnya adalah Edward. Ya, Skandar menyakini hal itu.

“Hi Edward. How are you? Long time no see. You increasingly looking only. Haha” sapa Skandar dengan leluconnya. Edward pun hanya terkekeh kecil sembari menggelengkan kepalanya.
“Sudahlah Skand, hentikan. Langsung to the point saja. Kau mau apa?”
“Okay, masuklah dulu. Duduklah di sofa itu dan aku akan mengambilkan air minum sebentar.”

Edward pun menuruti apa perkataan Skandar. Edward melangkah ke sofa yang ditunjuk Skandar, Edward pun duduk dan menunggu Skandar yang sedang mengambilkan minuman untuknya.

“Ini minumanmu.” Ucap Skandar tiba-tiba mengejutkan Edward yang sibuk dengan ponselnya, lalu menyuruhnya untuk meletakkannya di atas meja.
“Jadi, apa masalahmu hari ini Skand? Tidak biasanya kau mendapati masalah seperti ini”
“Begini, tadi pagi aku baru saja bertemu dengan sahabatku Falerinna. Tadi aku berniat untuk berangkat sekolah bareng bersamanya, tetapi setelah aku menghampirinya dan menanyakan kondisinya, dia malah mengakhiri persahabatan kita.”
“Falerinna? Sepertinya aku tidak asing dengan nama itu? Dia gadis yang memiliki rambut panjang, mata cokelat, dan agak pendiam kan?”
“Iya, itu dia. Darimana kau tahu ciri-cirinya? Kau pernah mengenalnya?”
“Kemarin aku pernah menemuinya dirumahku. Ternyata, ibuku dan ibunya bersahabat dekat. Dan kemarin dia cukup manis dan cantik. Kenapa kamu tidak pernah memberitahuku bahwa kamu bersahabat dengannya dulu?”
“Hei kau tahu kan betapa sibuknya aku sekarang ini, jadi maklumi saja jika aku tidak pernah memberikan kabar kepadamu.”
“Baiklah, aku mengerti itu. Lalu, apa yang kamu inginkan saat ini?”
“Aku hanya ingin Falerinna kembali menjadi sahabatku. Aku tidak ingin kehilangan dia. Dia terlalu berharga untukku tinggalkan”
“Kau menyukainya?”
“Tentu, ehh—maksudku.. Yaa, tidak. Begitulah”
“Jujurlah, jika kau menyukainya, buatlah dia bahagia sehingga dia mau kembali menjadi sahabatmu”“Kenyataannya berbeda. Aku memang menyukai Falerinna, tapi aku lebih mencintai Jenny.”
“Jenny? Kau mencintainya? Astaga, kamu masih saja mencintai wanita itu. Wanita itu tidak baik untukmu Skand.”
“Ok, aku tahu aku bodoh. But I can not forget it. She was my first love.”
“I know. But Falerinna more worthy of you than Jenny”
“I don’t have a choice again..”

“Tidak.Tentu saja kau punya. Hanya dirimu saja yang terlalu baik menerima Jenny kembali. Ayolah, buatlah Falerinna kembali menjadi dirinya sendiri. Yakinkan dia bahwa kini kau benar-benar ingin selalu bersamanya.”
“Falerinna sepertinya tidak lagi membukakan pintu maaf kepadaku.”
“Kau harus percaya dengan dirimu sendiri Skand. Kau pintar, tentu saja dan pastinya banyak ide yang menggempul di otakmu. Pergunakanlah idemu itu. Aku yakin kau bisa..”



**


Juliean Place


“Fal, aku mengerti perasaanmu sekarang ini. Tapi, kamu sudah memutuskannya. Lupakanlah Skandar.”

Falerinna hanya diam. Dia menutup mulutnya rapat-rapat. Ia mencoba untuk kembali tenggelam dalam memori ingatannya bersama Skandar. Juliean benar, ia harus melupakan Skandar. Skandar bukanlah bagian dari hidupnya lagi. Skandar kini hanya orang lain. Hanya teman biasa.
Tetapi sejauh apapun Falerinna untuk mengusahakan apa yang telah dikatakan Juliean, tetap Falerinna tidak tega meninggalkan Skandar. Falerinna memiliki perasaan yang mengganjal di hatinya. Seluruh batinnya tidak sepenuhnya memutuskan persahabatannya. Ia tahu ia salah, ia tahu ia bodoh dalam bertindak, tapi apakah ia cukup pintar untuk menahan perasaannya yang kini telah hancur? Hancur berkeping-keping seperti layaknya cermin yang pecah dikarenakan dentaman yang keras? Dirinya tahu, ia sudah tidak kuat lagi menahan semua cobaan yang datang bertubi-tubi. Kehilangan ayahnya, kehilangan sahabatnya, kehilangan cinta terindahnya, dan bahkan kehilangan sahabat yang selalu dibangga-banggakannya itu sudah cukup merupakan cobaan terberat dalam hidup yangia rasakan. Betapa bersyukurnya Falerinna saat ini karena ia masih bisa diberkahi teman saran yang setia seperti Juliean.

Kini Falerinna mulai bisa merasakan segalanya, perlahan ia memejamkan matanya, dan sedetik kemudian, air matanya jatuh membasahi pipinya yang lembut. Ia merasa sesak. Baru kali ini ia menangis hanya karena permasalahan cinta. Tapi setidaknya, ia tidak menangis langsung dihadapan cintanya yang hilang tersebut.


“Hey Fal.. Jangan menangis. Aku tahu rumit menjalankannya, tapi kumohon. Kamu harus punya rasa terbesar di dalam hatimu. Tepat dijantungmu. Disini masih ada aku. Tersenyumlah, maka itu akan membuatmu lebih baik.”
“Julie.. Aku hanya merasa bersalah. Itu saja. Aku hanya ingin meminta maaf. Tetapi aku juga ingin kembali menjadi sahabatnya”
“Jika kamu labil seperti ini, mengapa kamu memutuskan keputusan seperti itu, huh?”
“Aku hanya terbawa emosiku. Percayalah, aku tidak bermaksud benar-benar ingin meninggalkannya.”
“Kalau begitu. Minta maaflah. Aku yakin Skandar masih mengharapkanmu untuk kembali.”
“Aku tidak sepenuhnya yakin Skandar akan memaafkanku setulus hatinya. Aku cukup mengerti dengan sifat Skandar. Dan Skandar bukanlah orang yang mudah memberikan maaf kepada seseorang yang telah menyakitinya.”
“Bagaimana jika aku membantumu menyelesaikan masalah ini? Aku tahu caranya..”



**



Di tempat lain, Skandar dan Edward kini sedang berada dikediaman rumah Edward. Edward teringat dengan hari kemarin saat sahabat ibunya yang datang kerumahnya hanya ingin menitipkan sebuah map yang berisi berkas-berkas penting tentang Falerinna dan juga sedikit biografi hidup tentang Falerinna. Entah mengapa, Edward pun bingung kenapa ibu Falerinna menitipkan barang-barang privacy itu kepada ibunya? Mungkin memang menurut ibu Falerinna, hanya ibunya yang dapat menjaga rahasia terbesar milik anaknya.


“Menurutmu, apa yang dimaksud ibu Falerinna selama ini?” Tanya Skandar tiba-tiba kepada Edward yang sibuk mencari map tersebut.
“Entahlah. Kupikir, hanya ibuku yang dapat menjaga rahasia terbesar Falerinna.”
“Rahasia? Tetapi Falerinna tidak pernah memberitahuku tentang rahasinya.”
“Mungkin Falerinna belum sepenuhnya percaya kepadamu.”


Sejenak Skandar terdiam, memandang Edward dengan penuh tanda tanya. Skandar merasa, Edward ini sudah tahu sepenuhnya tahu mengenai Falerinna. Ini bisa menjadi pertemanan yang sulit jika memang Edward sangat mengetahui betul sosok Falerinna.

Skandar pun mencoba untuk tenang, mencoba untuk menyimpan beberapa pertanyaan singkat yang ingin ia lontarkan kepada Edward. Mungkin ini baru hanya perasaannya saja.


“Ini dia! Ketemu mapnya!” ucap Edward kegirangan setelah ia mendapatkan map yang telah dicarinya

“Bukalah map itu. Aku penasaran dengan isi-isinya.”
“Baiklah.. Akan kubuka.”
Edward pun segera meraih tali yang terikat di map tersebut dan mulai membukanya secara perlahan.
“Banyak sekali berkas-berkasnya. Kau mau lihat yang mana?”
“Yang terpenting sajalah. Jangan semuanya.”
“Tunggu! Ini kan selembar kertas diary Falerinna. Ini tulisan tangan asli Falerinna. Kertas ini sudah lama sekali. Kalau tidak salah semenjak tanggal 5 September 2009.”
“Bagaimana kau tahu itu selembar kerta diary Falerinna?”
“Umm, aku hanya mengetahuinya saja. Kau mau lihat atau tidak? Ini yang paling penting menurutku.”
“Baiklah. Akan aku baca.”


Skandar pun meraih kertas itu, membukanya dan membacanya secara teliti dan detail.



Diary,
5 September 2009

Hari ini hari yang cukup menyenangkan. Di hari ini aku bisa melihat senyum seseorang yang aku suka. Entah kenapa, secara tiba-tiba aku bisa membuatnya tertawa walaupun kupikir tidak ada hal lucu hari ini.
Michael..
Ya, itulah nama seseorang yang kini sedang kusukai. Kau tahu? Dia adalah sahabat terbaik yang pernah kumiliki. Dia selalu setia, perhatian dan menepati janjinya. Aku cukup bahagia bisa mengenalnya. Michael adalah inspirasi hidupku. Dia adalah yang terpenting di dalam hidupku setelah kepergian ayahku. Walaupun sebentar lagi kami berpisah, setidaknya aku masih bisa merasakan suaranya. Esok adalah hari kepindahannya dari Inggris. Dia akan pindah ke New York untuk melanjutkan sekolahnya. Benar-benar buruk untukku. Tetapi, bagaimanapun juga. Aku akan tetap berusaha akan berkomunikasi dengannya. Sampai benar-benar aku bisa mencari pengganti dirinya.

Tertanda,
Falerinna



“Kupikir Michael adalah orang yang sangat berarti untuk Falerinna.”
“Eh? Maksudmu Skand?”
“Dia bilang hanya Michael satu-satunya orang yang berharga didalam hidupnya. Karena Michael pindah ke New York, dia akan tetap terus berusaha mengubunginya sampai dia benar-benar bisa mencari pengganti Michael.”
“Dan menurutku kaulah penggantinya Skand..”


**



To be Continued~


Tidak ada komentar:

Posting Komentar