Minggu, 23 Maret 2014

Friendzone: Chapter 9 (Never Wanna Let U Go)

Title     : Friendzone
Author : Alferina
Genre  : ______________
Pairing : Skandar Keynes x Falerinna
Rated   : Teen
Length : Multichapter





**



Chapter Sebelumnya



Skandar menutup mata, mencoba melupakan sesosok itu. Membayangkan wajah Falerinna yang cantik –menurutnya-. Skandar tersenyum, dan ketika ia membuka mata.. Sesosok wajah yang hancur dilumuri dengan darah berada dihadapannya dan matanya yang tercongkel keluar secara perlahan.

“AAAAHHH!” Skandar pun berteriak dan langsung berlari kembali menuruni anak tangga.
“EDWARD! EDWARD! Dimana kau! Kurasa kita harus kembali! EDWARD!” Skandar terengah-engah, memanggil Edward tetapi tanpa ada jawaban.
“EDWARD! Kumohon! Kita harus keluar dari tempat ini..!!” tetap tidak ada jawaban. Skandar hampir takut setengah mati hari ini. Dia benar-benar menyesal telah masuk ke bangunan ini, dan sekarang ia sendirian. Tak tahu harus kemana dan Edward pun entah pergi kemana. Skandar terdiam. Berlutut dilantai dan meninjukan kepalan tangannya ke lantai.

“Kau bodoh Skand! Tak seharusnya kau disini! Kau memang bodoh!”

Skandar meremas rambutnya dan terduduk di lantai. Tubuhnya melemas dan ia tidak tahu harus bagaimana. Ia ingin menaiki tangga yang tadi dinaikkan tangga oleh Edward, namun di tangga tersebut. Sesosok kepala buntung sudah menghalanginya.


“Aku tidak tahu harus bagaimana sekarang…”


Nyawamu di tempat ini. Jika kau ingin keluar, lawanlah kami. Kau sudah menjadi budak kami lelaki persetan!


“Aku tidak peduli siapa kamu! Aku tidak takut denganmu!”


Kau hanya lelaki kecil yang tidak memiliki apa-apa selain rasa takut. Nyalimu kecil. Tak dapat sanggup melawan kami semua.


“Maumu apa huh? Membunuhku? Bunuh saja! Aku tidak akan takut!”


Ooh tidak, tidak. Kami tidak akan membunuhmu. Tetapi.. Kami akan membunuh seseorang yang kau cinta…
Falerinna.. Ya, dialah yang harus kami bunuh. Kau tidak pantas berada dihadapan Tuhan. Hanya dialah yang pantas. Jangan kau relakan nyawamu untuknya, karena jika kau begitu.. Akan ku sayat Falerinna dan ku ambil jantungnya lalu ku makan. Jangan pernah sekali-kali.


Skandar pun menangis. Kali ini memang bukan nyawanya yang terancam, namun seseorang yang dicintainyalah yang terancam.

Ia berpikir. Lebih baik ia yang mati daripada harus Falerinna yang mati. Dunia ini sama saja seperti neraka jika dia tidak bertemu Falerinna. Lebih baik dia sendiri masuk neraka tetapi bisa merasakan kebahagiaan Falerinna.


“Semua hal yang ku alami tidak yang lebih buruk, melainkan kehilangan Falerinna.” –Skandar



**




Chapter Selanjutnya




Juliean masih sibuk dengan pandangannya yang tertuju ke arah jalan untuk menyeberang. Sedangkan Falerinna, ia tetap memerhatikan bangunan yang tua bak lusuh itu. Dia memang sangat ingin memasuki bangunan itu, apalagi dengan adanya suara yang aneh yang mulai muncul dipikirannya. Entah apa mungkin yang merasuki pikirannya sehingga ia sendiri tidak focus. Yang jelas, ia sangat ingin memasuki bangunan tersebut.

Segenap detik Falerinna menoleh ke arah Julie. Untuk memastikan apakah Julie masih sibuk dengan memerhatikan jalan atau tidak. Setelah memastikan ternyata Julie masih terpaku dengan pandangannya yang sama sekali tidak pernah lepas dari sang jalan. “Ini waktu yang tepat!” ucap Falerinna dan setelah itu ia segera pergi berlari meninggalkan Julie seorang diri dan pergi ke bangunan itu.

Falerinna terus berlari secepat mungkin yang sampai akhirnya ia sampai pada gerbang yang besar berwarna hitam bak tinggi. Kabut-kabut gelap berwarna keabuan mulai menggempul di bangunan itu, membuat pandangan Falerinna sedikit terhalang. Dan dengan perasaan yang ragu-ragu, perlahan-lahan ia mulai memegang gerbang tersebut dan mulai menariknya dengan sekuat tenaga. “Arggh, susah sekali untuk membuka gerbang ini.” Ucap Falerinna dengan segenap usaha yang telah ia usahakan.


Mundurlah gadis manis. Aku akan membukakan gerbang itu.


Dengan hati-hati, Falerinna pun mengikuti perintah itu. Ia memundurkan langkahnya sebanyak 5 langkah dan melihat sang gerbang besar terbuka dengan sendirinya yang sedikit menimbulkan suara decitan yang mekikikan telinga. Falerinna tidak terkejut. Dia hanya cukup kagum dengan semua permainan ini. Dia sama sekali tidak takut ataupun merasa risih untuk ada disini. Toh, ini kemauan dirinya jadi, apapun masalahnya ia harus terima dengan mental yang kuat. Ia tahu ini tidak akan seburuk yang dipikirkan. Mungkin hanya dengan mendengarkan suara-suara aneh itu, ia bisa memecahkan semuanya.




**



Skandar terbangun. Matanya mengerjap beberapa kali, dan ia rasa tubuhnya pegal-pegal karena harus terbaring beberapa jam di lantai tak layak injak ini. Rambutnya yang hitam berantakan bagaimana singa yang tak dijinakkan. Bajunya terlipat-lipat tak beraturan bagaikan seorang peminta yang tersesat. Dan tatapan matanya pun juga terlihat sayu. Tidak seperti biasanya yang selalu ceria dengan hari apapun. Namun, wajah tampannya tidak pernah hilang dari jati dirinya. Walaupun seperti itu, wajahnya yang tampan nan manis tidak akan pernah luput dari apapun bagaimanapun kondisinya. *Authornya lagi sarap. Maklumin*

Ia tersadar kembali. Dia belum kembali ke hotel tempatnya menginap, melainkan dia masih disini. Di tempat yang sangat dia benci. Dia bangun dan menapakkan kakinya lagi. Mulai teringat –lagi— tentang kerabatnya–Edward—yang tak tahu kemana perginya. Dan kini, Skandar pun mulai melanjutkan perjalanannya lagi untuk menemukan Edward. Skandar datang ke anak tangga yang di sebelah kanan. Teringat disanalah dia dan Edward berpisah untuk menelusuri bangunan bodoh ini. Dengan pendirian yang teguh, Skandar menaiki anak tangga tersebut. Sepatunya tak lagi berdengung entah mengapa. Suasana di bangunan ini pun tampak semuanya berubah. Hingga Skandar ingin mencapai di puncak. Dia melihat sebuah ruangan yang sangat indah, bersih, dan rapi. Ruangan itu memang seperti sebuah ruangan baru yang selalu dibersihkan. Atap-atap yang tadinya penuh dengan sarang laba-laba kini sudah bersih bening dengan cat putih dan gambar-gambar awan. Lantai yang sudah berlumut kini sudah bersih dengan keramik yang indah bermotif batik. Dan dinding-dindingnya pun sangat bersih dengan warna dengan cat yang seperti pelangi. “Ruangan itu indah,” ucap Skandar dan ketika Skandar telah berada tepat di tengah ruangan itu dia melihat …………….





**





Falerinna terus menelusuri jalan bangunan itu. Falerinna selalu mengikuti kemana dia akan pergi sesuai dengan kemuan hatinya. Dan kini, dia telah sampai pada didepan sebuah pintu yang panjang tak terlalu lebar dengan knop yang dililitkan dengan tali raffia. “Ini tempat apa? Apa ditempat ini ada sesuatu?” Tanya Falerinna dalam hatinya. Dia mendekatkan telinganya hingga menempel dengan daun pintu dan mendengar suara alunan musik yang klasik memenuhi tempat itu. Dahi Falerinna berkerut, tampak aneh dengan bangunan ini. Bangunan yang tadinya kelihatan mengerikan dan misterius, sekarang setelah dia berada dilantai 3 bangunan itu, dia mendengar alunan musik klasik yang romantis. Yang entah siapa yang memutarkannya.

Tangannya pun mulai memegang knop pintu dan membuka daun pintu secara perlahan. Kepala Falerinna merunduk, melihat lantai yang sekarang tidak lagi buruk seperti yang lain. Cahaya yang lumayan terang dan aroma suasana yang nyaman tercium di indera penciumannya. Perlahan, dia mulai mendongakkan kepala dan langsung memasangkan wajah menganga ketika melihat apa yang ia lihat. Ruangan yang sama persis dengan kamarnya dulu waktu dia tinggal di Buckingham. Semuanya secara detail tak ada yang berbeda. Dia merasa dia kembali ke masa kecilnya. Dan sama sekali tak menyangka dengan hal yang baru saja dilihatnya.

Falerinna terus berjalan memasuki kamar tiruannya tersebut. Berjalan semakin dalam dan tak menghiraukan daun pintu yang tertutup dengan sendirinya. Alunan musik klasik yang ia sukainya adalah lagu favoritnya sendiri. Semua ini memang masa lalunya, dan tidak mengerti apa yang terjadi.
Namun, di tengah kamar tiruannnya, ia melihat seorang lelaki berbadan agak tinggi sedang berdiri terpaku tanpa bergerak. Rambutnya hitam dan memakai celana jeans serta baju yang –kalau tidak salah pernah Falerinna berikan kepada seseorang—Jika dilihat dari postur tubuh, lelaki itu mirip Skandar. Sang cinta matinya. Tetapi, Falerinna berpikir tidak mungkin Skandar ada di bangunan ini dan untuk apa juga jika benar itu Skandar? Dia tersesat? Bagaimana bisa?

Niat Falerinna yang ingin pergi meninggalkan lelaki itupun menjadi terhenti ketika sang lelaki tersebut memanggil namanya.

“Fal? Are you?” ucap lelaki itu dengan antusiasnya. Dengan secepat kilat Falerinna langsung kembali menolehkan wajahnya ke hadapan lelaki tersebut dan sangat terkejut melihatnya.
“Skandar? Do you? What, what are you doin’ here?” Tanya Falerinna tak kalah penasaran dan terkejut dengan raut wajah Skandar dan mulai menghampirinya.
“Yeah, It’s me. Skandar. Um, I dunno, mungkin aku terjebak disini.”
“Terjebak? Bagaimana bisa?”
“Entahlah, akupun juga kurang begitu bisa mendekskripsikannya. Bagaimana denganmu?”
“Aku juga Skand. Aku juga tak mengerti bagaimana aku bisa berada disini.”
“So, kita terjebak disini? Berdua saja?”
“Kupikir begitu..”
“Baiklah.”

Skandar mendekati Falerinna. Menatap iris mata Falerinna yang cokelat. Lalu memegang pinggang Falerinna erat-erat.

“Siap?”
“Untuk?”
“Dancing..”

Falerinna pun terkekeh kecil dan mengangguk dengan antusias. Falerinna segerap merangkul pundak Skandar, dan mendekatkan lagi wajahnya kewajah Skandar. Menempelkan ujung hidungnya dengan Skandar dan mulai tersenyum lebar. Perasaannya kini mulai kembali nyaman seperti kemarin-kemarin. Tentu indah karena adanya sang cinta matinya. Ia harap ia akan selalu bisa melewatkan semua kejadian ini bersama Skandar, namun mungkin permasalahan lah yang menjadi penghambatnya. Andai Skandar tahu bagaimana selama ini terpuruknya Falerinna saat Skandar pergi, mungkin Skandar akan melakukan hal yang akan diinginkan Falerinna.

“Kau tampak berantakan Skand. Apa yang telah kau lakukan?”
“Tidak ada. Yaa, tadi aku tidur sebentar di lantai dan mungkin inilah penyebabnya.”
“Oooh. Hehe, kau ini lucu ya..”
“Namanya juga Skandar J”
“Jangan mulai Skand..”

Iringan musik klasik itu bertambah dengan romantisnya. Suasana ketika berubah dengan suasana seperti di malam hari, yang diterangi cahaya bulan dan kerlap-kerlip bintang. Semua ini seperti pengaturan waktu acak. Kapanpun waktu akan bisa berubah, seiring mereka bersama.

“Kau tahu Fal? Aku sangat mencintaimu. From my heart.”
“Me too Skand. My love is just for you. Please, don’t go away again from me.”
“No, no. I will not do that. Believe me. I never wanna let you go. See my eyes.”
“Thank you.”
“Everything for you, sweetie. So, close your eyes. Let me kiss you and hug you.”

Falerinna pun menutup mata dan mulai merasakan ciuman Skandar yang telah datang ke wajahnya, serta pelukan hangat Skandar yang sangat Falerinna rindukan selama ini. Kasih sayang ini, Falerinna percaya tidak akan pernah terputus. Ia berjanji kepada dirinya sendiri. Sejauh apapun jarak yang dia miliki oleh Skandar. Seluruh kasih sayang, perhatian, cinta, dan peduli hanya tertuju kepada Skandar. Karena dia percaya jodoh bahkan takdir. Skandarnya hidup dan matinya.


**


“Tak akan pernah aku sesali lagi untuk memilikimu. Kau takdirku. Jadi, biarkanlah aku tetap bersamamu.” –Falerinna


**


To be continued


Tidak ada komentar:

Posting Komentar