Author : Alferina
Genre : ______________________
Pairing : Skandar Keynes x Falerinna
Rated : Teen
Length : Multichapter
**
Chapter Sebelumnya
Skandar Point of View’s
Kini aku sudah berada di bandara bersama Edward. Akhirnya hari ini aku bisa pergi ke New York untuk menyelesaikan persahabatan ini. Well, sepertinya Edward terpaksa menemaniku ke New York.Dia terpaksa harus cuti kuliah selama 2 Minggu hanya untuk menemaniku. Memang benar-benar teman yang setia untukku.
Sebenarnya terpaksa kita harus datang lebih awal, kita sebenarnya ingin mengambil jadwal terbang jam 3 sore tadi, tetapi karena kita terlambat datang akhirnya kita terpaksa mengambil jadwal terbang jam 7 malam. Well, hanya untuk menunggu beberapa jam itu tidak apa-apa kan?Sekali kali lah bersabar..
“Skand, bagaimana dengan Lily?” tiba-tiba Edward bertanya kepadaku yang terlihat sedang memerhatikanku secara penasaran.
“Tenang saja Ed, dia akan aman bersama tanteku.” Jawabku secara santai dan menatap kembali mata Edward yang sedari tadi melihatku secara intens
“Baguslah. Kukira adikmu itu akan merengek minta ikut.”
“Tadinya begitu, tetapi setelah kubujuk akhirnya dia mengerti.”
“Apa yang kau katakan kepada adikmu itu? Jika sekarang kau akan pergi ke New York”
“Aku tidak perlu berkata apapun Ed. Dia sudah mengetahuinya dari awal. Kau lupa kalau Lily itu punya indra ke 6?”
“Hmm, sepertinya aku lupa dengan kenyataan itu”
“Kau kan memang pelupa Ed. Bahkan dengan teman masa kecilmu saja kau lupa.”
“Tidak kok. Aku tidak pelupa.. Aku tahu siapa teman masa kecilku”
“Oh ya? Siapa namanya?”
“Namanya adalah Fal…-“
“Hah? Falerinna maksudmu?!” sontak aku terkejut mendengar Edward menyebutkan nama depannya “Fal”.. Ya, nama panggilan itu kan seharusnya ditujukan kepada Falerinna, kenapa dia menyebutkannya? Apa benar Edward adalah teman masa kecil Falerinna? Tetapi kenapa Falerinna tidak bercerita kepadaku? Kenapa semua orang membohongiku? Aku seperti di permainkan.
“Tidak Skand.. Dengarkan aku dulu. Teman masa kecilku itu bukan Falerinna melainkan.. Umm, mm.. Yaa namanya .. Sudahlah lupakan Skand. Jangan membahas tentang masa lalu. Kau tahu aku ini bukan orang yang suka memflashback?”
“Baiklah. Aku akan mengerti. Tetapi jika kau membohongiku, aku tidak akan memaafkanmu Ed.”
“Ya, ya, ya.. Terserah kau sajalah.”
**
Falerinna Point of View’s
“Ju.. Berapa jam lagi kita akan segera terbang?”
“1 jam lagi Fal. Kenapa?”
“Tidak.. Aku hanya bertanya saja”
Kami pun duduk di sebuah kursi panjang dekat loker pemesanan tiket. Aku pun melihat ke kiri dan ke kanan, semuanya sama. Banyak orang disini. Mungkin mereka juga ingin pergi ke suatu tempat. Tempat yang baik untuknya, tempat dimana mereka bisa beristirahat dan senang-senang. Tidak sepertiku, yang pergi ke suatu tempat hanya untuk mengingat masa laluku. Sepertinya hidupku ini penuh dengan kesengsaraan ya. Berbeda dengan semua makhluk hidup yang ada dimuka bumi. Tetapi mungkin, ini adalah cara Tuhan satu-satunya untuk menunjukkan sampai dimana ketahanan imanku.
Pandanganku terus beralih kepada semua orang yang ada dibandara ini. Hmm, sepertinya.. Semua orang disini tidak ada yang kukenal.. Memang iya kan, lagipula siapa yangmau kenal dengan orang macam aku ini? Orang yang selalu terjebak dalam cobaan.
**
Author Point of View’s
Iris mata Falerinna pun masih menggidik ke sekitarnya, ia masih memperhatikan sosok sosok semua orang yang ada disini. Sungguh, ia sama sekali tidak tertarik dengan semua orang yang ada disini, kecuali … Satu orang yang dia lihat secara tidak sengaja
“Skandar?? Edward?? Apa yang mereka lakukan disini? Mereka ingin pergi kemana? Dan waitt!! Skandar bersama Edward? Darimana Skandar kenal dengan Edward, dan bukankah Edward itu teman masa laluku? Kenapa mereka bisa bersama?
Oh Tuhan.. Ini semakin memburuk. Ini seperti semacam… Ohh noo. Hell”
Chapter Selanjutnya
Falerinna Point of View’s
Aku masih tidak percaya dengan apa yang kulihat. Ini terlalu mustahil untuk dipercaya. Mereka ingin pergi kemana? Ke New York? Atau ke kota lain? Apa aku harus mencari tahu? Apa aku harus mengikuti mereka? Tidak, tidak.. Itu ide terburuk. Biarkan saja mereka pergi. Toh, mereka sekarang bukan siapa-siapa lagi. Apalagi Edward. Aku membencinya. Dia melupakanku, dia meninggalkanku. Kukira Edward akan menjadi teman masa kecilku yang bahagia tetapi tidak. Itu jauh dari semua perkiraanku.
Waktu yang tersisa tinggal 30 menit lagi. Dan selanjutnya, aku beserta Juliean harus segera terbang menuju NY.
Kondisi malam ini di bandara Kennedy, cuaca cukup dingin menulusuk. Padahal di rumahku cuaca sedang panas.
Kulihat, Juliean sedang duduk disampingku, memegang ponselnya dan sedang senyum-senyum sendiri. Mungkin dia sedang berkomunikasi dengan pacarnya (?)
Pesawat Internasional London, Inggris akan segera berangkat menuju New York dalam waktu 15 menit lagi. Diharapkan untuk para penumpang segera masuk ke dalam pesawat dan duduk dikursinya masing-masing. Terima kasih
“Julie., kita harus segera naik ke pesawat sekarang. Ini perintah” ucapku kepada Juliean dan segera beranjak berdiri lalu mengambil dan membawa koper-koperku.
“Baiklah Fal. Apa kau sudah siap?”
“Sepertinya begitu. Ayo”
Kami berdua pun berjalan melewati beberapa loker dan masuk ke dalam sebuah ruangan yang besar. Di mana setelah ruangan itu terdapat banyak pesawat yang banyak dan cukup besar. Seumur hidupku aku sama sekali belum pernah menaiki pesawat. Dan kurasa ini adalah pengalaman pertama dimana aku naik pesawat dan pergi ke luar kota. Yah, walaupun tujuanku hanya untuk sebuah masalah yang sangat sangat membuatku depresi.
Setelah aku dan Juliean menemukan tempat duduk kami, kami pun segera duduk dan bersandar di kursi tersebut. Beristirahat dan meregangkan semua otot-otot kami yang pegal karena harus menunggu 1 jam lebih untuk naik kepesawat ini. Aku sengaja memilih untuk duduk di kursi paling pojok dekat jendela, karena agar aku dapat bisa melihat pemandangan malam hari di atas langit sembari terbang. Membayangkan hal itu seperti aku memang terbang tanpa kendaraan, melainkan dengan sayap. Tahukah kalian betapa sangat ingin aku memiliki sayap untuk terbang dan melarikan diri kemanapun sesukaku agar aku bebas dari semua orang yang membenciku(?) Ya, itulah harapanku. Pergi terbang, memiliki sayap tanpa harus repot jalan kesana kemari untuk menunggu kendaraan.
I’ll spread my wings and learn how to fly
I’ll do what it takes til’ I touch the sky and I’ll
Make a wish, take a chance, make a change, and breakaway..
**
Author Point of View’s
“Kau tahu, bagaimana rasanya kehilangan orang yang kita cintai?” tiba-tiba Skandar bersuara, memandang ke luar jendela, melihat awan-awan dan sembari memegang ponsel.
“Ya, aku tahu. Itu menyakitkan” jawab Edward tetapi pandangannya tetap lurus menuju ke sebuah majalah yang kini sedang ia baca
“Dan kau tahu bagaimana aku menghadapinya?”
“Skand.. Aku tahu ini rumit. Terima saja. Kita akan segera menyelesaikannya.”
“Ed. Aku ingin kau mendengarku, okay? Aku ingin melampiaskan semuanya”
“Baiklah.. Terserah kau.”
Skandar pun merubah posisinya. Menghadap Edward. Menatap iris mata coklat Edward dan mengambil sebuah selembar foto yang ada di kantung jaketnya. Skandar menatap foto itu mendalam, dan memejamkan mata. Merasakan dulu indahnya semua kejadian yang ia lewatkan bersama Falerinna. Ia tersadar, semua sudah berlalu. Ia tersadar, semua hanyalah kenangan. Skandar tersenyum lebar tetap dengan matanya yang terpejam. Tangan kanannya mendekap sebuah foto dengan lembut, dan mungkin sekarang Skandar merasakan ia mulai kembali ke masa lalunya bersama Falerinna. Edward pun hanya melihat kelakuan temannya itu. Edward tidak mengerti dengan apa yang Skandar lakukan sekarang. Edward hanya bisa diam, memandang Skandar tanpa berbicara.
“Aku melihat senyumannya” ucap Skandar “Itu indah. Dia tertawa bahagia bersamaku. Dia memegang tanganku, dan dia duduk disampingku. Menatapku dengan tatapan sendunya untuk mendengarkan aku bercerita. Rambutnya terkulai panjang, senyumnya masih menempel di wajahnya. Disitu aku mulai merasakan bahwa aku jatuh cinta kepadanya. Disana aku bisa nyaman bersamanya. Untuk menemaninya, untuk menjaganya, untuk memeluknya, dan untuk membuatnya cerah. Saat itu adalah saat terindah pertama yang ku alami. Tak pernah aku sangka atau menyakini bahwa kini aku tidak akan bisa melewatkan masa-masa itu lagi. Itu langka dalam hidupku. Sulit untuk mencari perempuan yang seperti dia. Pengertian dan selalu tahu apa yang kuinginkan. Dia segalanya, dia terindah, dia terbaik yang kumiliki. Satu-satunya harta kedua teristimewa yang pernah aku genggam dihatiku dan takkan pernah pergi selamanya. Aku tahu Tuhan akan selalu tersenyum untukku dan untuknya hanya untuk melihatnya bahagia. Kami berdua selalu meyakini hal itu sejauh apapun semua yang telah ditakdirkan.”
Skandar menitikkan air mata. Dia rasa, dia sekarang benar-benar kesepian. Benar-benar merasa kehilangan. Dengan foto itu, semua berhasil membuatnya menjadi sunyi. Edward pun merasa iba. Ia juga tak tega melihat temannya terpuruk kesedihan dan kesepian. Edward mengerti betul perasaan Skandar sebagaimana dulu Edward meninggalkan Falerinna juga. Itu memang sulit, tetapi sesulit apapun itu kita merasakannya, suatu saat kita bisa melupakannya.
“Andaikan kau tahu Skand. Aku juga memiliki hal yang sama persis dengan dirimu. Aku cukup mengenali Falerinna dahulu, dan akupun juga merasa nyaman bila ada didekatnya. Dia membuatku jatuh cinta kepadanya, tetapi aku selalu berusaha untuk menyingkirkan perasaan itu. Aku tahu aku salah mencintainya, maka dari itu aku meninggalkannya, aku melupakannya. Tidak ada alasan lain untuk Falerinna selain itu. Aku meninggalkannya karena itu. Dan kau tahu bagaimana aku merasakannya? Itu seperti aku terjun kebawah jurang dan tertutusuk semua benda-benda tajam yang berada di bawahnya. Aku sepertimu dulu. Tetapi aku tetap berteguh diri untuk melupakannya dan meninggalkannya, semuanya tak akan bisa berjalan lancar jika aku tetap menjadi temannya. Dia termasuk yang terindah juga untukku.”
Ucap Edward dalam hatinya, masih dengan menatap Skandar yang menangis. Lalu Edward pun membukakan tangannya, dan membawa Skandar ke dalam pelukannya. Memeluk Skandar dengan penuh percaya diri untuk tetap bertahan dalam masalah ini. Edward yakin Falerinna juga akan membutuh Skandar suatu saat. Edward tahu Skandarlah yang Falerinna butuhkan, bukan dirinya. Semua masalalu yang Edward punyai harus dirahasiakan. Ia tidak ingin hati temannya terluka. Ia tidak mau bahwa sebenarnya dulu, Edward juga mencintai Falerinna.
“Aku hanya tidak mau Falerinna menjadi milik orang lain Ed. Aku hanya ingin Falerinna untukku, untuk masa depanku selanjutnya. Dia telah membiarkanku jatuh cinta kepadanya, maka dari itu ia harus bertanggu jawab sepenuhnya.” Ucap Skandar dalam bekapan Edward. Ia masih menangis mendalam. Tersedu-sedu. Memang sepertinya Skandar tidak bisa pergi menjauh dari Falerinna.
“Falerinna tidak akan meninggalkanmu Skand. Percayalah. Dia juga mencintaimu. Sekarang, dia hanya saja membutuhkan waktu untuk sendiri. Berikanlah waktu itu kepadanya”
“Jika itu memang yang terbaik. Maka akan kuberikan waktu itu.”
**
Flahsback Words
Skandar: “Jika ini hidupku. Aku tidak akan menerimanya sampai kapanpun. Aku tetap tidak terima dengan takdirku yang seperti ini. Jika aku menjadi Tuhan, akan kubuat semua yang ada di dunia ini karena cinta. Karena menurutku, cintalah yang memperindah segalanya.”
Falerinna: “Aku tidak pernah membiarkan orang-orang disekitaku melihatku dengan terpesona. Aku hanya ingin mereka bahagia karena aku, dan tersenyum karena aku. Aku sama sekali tidak ingin membiarkan Edward dan Skandar jatuh cinta kepadaku. Aku hanya… Memerdulikan mereka”
Edward: “Aku tahu semua masalah ini. Aku tidak akan pernah punya keinginan untuk kembali pada Falerinna. Aku tahu itu hanya memperburuk keadaannya. Skandar yang dia inginkan. Bukan aku. Bukan teman masa kecilnya. Sejauh apapun kau melupakanku Falerinna, dan sejauh apapun kau membenciku. Hatiku tetap berteguh mengenang semuanya.”
**
Dan mungkin semua yang sedang ada di dalam perjalan menuju New York ini, mengenang semua masa lalu mereka. Masa lalu dimana mereka sama sekali tidak pernah berpikir kedepan untuk memberika yang terbaik bagi orang-orang yang mereka cintai. Ini memang sebuah persahabatan yang rumit. Antara Skandar, Falerinna, Edward, Michael, dan Jenny. Persahabatan ini tidak akan pernah berujung atau bertengah kepada kebahagiaan. Mungkin beberapa orang harus menerima resiko terburuknya. Mengakhiri semua kisahnya dengan mengucapkan Selamat Tinggal. Atau mungkin, mengakhiri semuanya tanpa apapun dan tanpa meninggalkan apapun. Takdirlah yang menentukan. Dan mereka, bukanlah seorang yang mempercayai adanya takdir.
**
To be Continued~

Tidak ada komentar:
Posting Komentar