Minggu, 23 Maret 2014

Friendzone: Chapter 2





Title     : Friendzone
Author : Alferina
Genre  : _________________________
Pairing : Skandar Keynes x Falerinna
Rated   : Teen
Length : Multichapter


**




Chapter Sebelumnya..


Flashback 3 years ago


 “Ayolah Fal. Kau harus mempunyai semangat hidup. Jangan selalu temurung seperti itu. jadilah yang periang.. Adaaku disini untuk menemani kegembiraanmu.”
“Diamlah Skand. Aku hanya perlu waktu sendiri. Aku bisa menyelesaikan semua masalah ini sendirian.”
“Kau yakin? Kalau begitu.. Coba lihat aku..” lalu, Falerinna pun menolehkan wajahnya menuju \Skandar. Dan seketika, Falerinna pun tersenyum manis melihat kelakuan sahabatnya itu. Dan Skandar juga hanya bisa memberikan raihan tangan kepada Falerinna.
“Kau siap?” tanya Skandar
“Siap untuk apa?”
“Dansa pertama kita J”
“Kau bisa berdansa memangnya?”
“Aku ini rajanya dansa Fal.. Jangan khawatir..” kemudian, Falerinna pun menganggukkan kepala dan mulai mengikuti gerakan Skandar yang sangat lihai. Dengan posisi tubuh yang lumayan dekat, Skandar hanya bisa menatap wajah Falerinna yang sedari tadi menunduk tanpa melihat kedirinya. Bisa dilihat, Falerinna pun seperti gugup dan bergemetar. Karena merasakan, Skandar pun terkekeh kecil.
“Kau gugup Fal?”
“Eh? Hmm, tidak kok.”
“Jujurlah. Aku bisa merasakanmu.”
“Kalau kau meraskannya, berarti kau sudah tahu jawabannya J”


“Ini adalah pertama kalinya aku berdekatan dengan Fal. Ternyata, tubuhnya mudah untuk merasakan hal yang baru. Tangannya halus dan lembut.Tatapan matanya sendu. Senyumannya manis, seperti Fal yang dahulu. Rambutnya yang wangi bak semerbak membuatku semakin nyaman berada di dekatnya. Perlahan, mungkin aku mulai merasakan perasaan yang berbeda. Bahwa aku “menyukainya” Skandar



“Skand.. Aku tidak sepenuhnya yakin dengan perasaan ini”
“Perasaan apa?”
“Kau tahu? Semenjak kita menjadi sahabat. Semenjak kamu selalu memberikan yang terbaik untukku. Aku merasa nyaman didekatmu. Aku selalu merindukanmu walaupun aku tak tahu apa penyebabnya. Aku merasa seakan, aku mulai-“
“Sssstt.. Sudah. Hentikan. Aku mengerti apa yang kamu katakan. Tapi, tidak sekarang waktunya untuk meneruskan”


“Mungkin dia benar. Ini bukan waktunya yang tepat untuk berkata hal seperti itu. Tapi andaikan dia tahu yang sebenarnya.. Itu akan mengejutkan” Falerinna


**

Kini, malam pun terlihat seperti malam yang biasa. Tetapi, malam ini adalah malam yang tidak biasa untuk Falerinna. Falerinna teringat dengan kata-kata yang telah diucapkan Skandar tadi sore. Ia merasa, Skandar tidak terlalu serius menanggapi seluruh perasaannya. Tetapi sejenak,ia berpikir kembali. Ia memang tidak seharusnya berbicara seperti itu karena ia sadar mereka hanya berstatus sahabat. Tidak lebih ataupun yang lain. Tidak ada yang berbeda dengan apa yang pernah dilihatnya dulu. Tapi mungkin, masa depan bisa merubahnya menjadi yang tidak kita kira.


Love can touch us one time
And last for a life time
And never let go til’we’re gone
Love was when I love you
One true time I hold you
In my life we’ll always
Go on..”


**

“Jauh.. Dekat.. Dimanapun kau berada. Aku yakin, kau tidak akan pergi menjauh dariku. Karena aku masih punya keyakinan disini. Untuk menjagamu, melindungimu, menyayangimu, dan mencintaimu. Itu hakku..” –Falerinna

“Ini tidak sama persis dengan apa yang kau bayangkan. Maafkan aku, jika memang aku berubah dan maafkan aku juga jika aku berlaku tidak senonoh kepadamu. Aku pergi darimu untuk sementara. Percayalah. Aku tidak akan bisa hidup tanpa kamu..” –Skandar



**


Chapter Selanjutnya..




Author Point of View’s


Saat malam telah tiba, saat Falerinna masih memikirkan ucapan Skandar, Falerinna masih berpikir keras untuk mengungkapkannya. Skandar memang benar, ini bukanlah waktu yang tepat untuk bicara yang sebenarnya. Itu butuh waktu. Tidak semudah yang dipikirkan untuk menerima jawaban yang sebenarnya. Sahabat.. Ya, Falerinna sadar. Kini mereka hanya sahabat. Tidak lebih. Tidak pernah beranggapan akan berhubungan lebih. Itu terlalu berharap. Mungkin perasaannya kali ini hanya sebuah jebakan untuknya.

“Aku tahu apa yang aku rasakan. Tapi itu sangat menyakitkan jika aku membiarkannya terpendam di hati. Tetapi jika sebaliknya, aku tidak akan tahu apa yang akan aku rasakan dan terima. Resiko sudah tepat di depan mata, dan aku tidak tahu siap atau tidak akan menghadapinya.”

Menutup mata dan berdoa yang terbaik untuk dirinya sendiri. Ya, itulah yang Falerinna lakukan sekarang. Malam sudah larut tapi itu tidak mengganggu Falerinna untuk memikirkan apa yang akan dia lakukan selanjutnya.

Di meja kecilnya, terdapat seluler miliknya dan sebuah foto masa kecilnya. Sejenak ia mendengar bahwa selulernya bergetar.. Bertandakan bahwa ada yang mengiriminya sebuah pesan. Dan itu berasalkan dari sahabat lamanya. Jenny..


Jenny
Hai Fal. Bagaimana kabarmu? Baik? Kuharap begitu
Aku hanya ingin memberikan kabar kepadamu dan sebuah informasi. Kamu kenal Skandar kan? Hehe iya pastinya. Dia sahabatmu kan?Pasti kamu tahu dong kalau dia suka denganku. Tadi dia bicara seperti itu kepadaku, dan aku sangat senang. Ternyata selama ini dia memiliki perasaan yang sama denganku. Subhanallah, nggak nyangka aku Fal.. Pokoknya besok kamu harus ke kelasku yaa, aku mau menunjukkan sesuatu sama kamu. Okay? Aku tunggu. Terimakasih telah membaca. Maaf mengganggu waktumu


Seketika, Falerinna menangis. Ia merasa dipermainkan. Ia tidak menyangka bahwa Skandar yang ia harap-harapkan selama ini telah berbalik kenyataan. Hatinya kini sakit, tidak bisa dipungkiri lagi dengan sebuah kata-kata. Ia hanya menangis dan menangis. Tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Rasanya besok ia tidak mau datang ke sekolah. Rasanya besok iatidak mau bertemu dengan Jenny, dan rasanya besok ia tidak mau berkata apa-apa lagi dengan Skandar. Falerinna ingin menyendiri, hilang dari semua yang baru saja diketahuinya. Hidupnya terasa sial. Tidak seberuntung apa yang baru saja diterima oleh Jenny.

Falerinna membaringkan tubuhnya di ranjang, memeluk boneka kesayangannya dan menggenggam sebuah benda kecil yang pernah diberikan Skandar kepadanya. Kini ia rapuh dan remuk. Tidak sesenang kemarin. Batinnya tersiksa sebagaimana yang ia rasakan setelah kehilangan ayahnya untuk selamanya. Pada saat ini, Falerinna hanya berharap ayahnya ada, untuk memeluknya yang sedang menangis, menyemangatinya dalam kesedihan, dan membuatnya tersenyum dikala hancur. Ia rasa hidup ini tidak seadil yang Tuhan berikan. Ia rasa ia tidak di anugerahi sama sekali kegembiraan. Yang ia rasa hanyalah kegelapan dan kesunyian hidup. Tidak ada canda tawa yang ia terima dari siapapun. Itu sakit, lebih sakit daripada yang sebelumnya ia rasakan.


“Ayah.. Aku ingin ayah ada disini. Melihat aku menangis hanya karena mendengar sebuah hal yang sederhana. Ayah, aku ingin ayah tahu betapa hancurnya aku sekarang ini. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan.Tidak ada yang bisa menyembuhkan rasa sakit hatiku selain ayah. Ayah, kenapa ayah tega meninggalkanku pergi selamanya? Apa ayah tidak kasihan melihatku sendiri disini? Didalam hidupku yang gelap dan sunyi tanpa ada satu orang yang memberikan senyuman? Andaikan ayah bisa melihatku sekarang, tolong peluklah aku. Hapuskanlah air mataku. Kumohon.. Hanya ayah yang bisa melakukannya, hanya ayah yang bisa menyembuhkanku apa pun rasanya itu. Disini aku sendirian, menangis, tanpa ada seorang pun yang tahu. Jika aku diberi kesempatan untuk apayang akan aku lakukan selanjutnya.. Aku ingin menyusul ayah kealam sana. Menemani ayah dalam kesendirian..”




**



Skandar Point of View’s



“Aku yakin saat ini. Jenny yang aku suka.. Bukan Falerinna. Maafkan aku jika aku menyakiti hati Falerinna. Jujur, aku juga menyukainya tetapi hatiku lebih memilih Jenny. Apa aku salah? Menahan ucapan Falerinna dan akhirnya aku malah memutuskan untuk lebih memilih Jenny daripadanya? Menyesal sedikit.. Tetapi inilah pilihanku.”


Esok, aku akan bicara sejujurnya kepada Falerinna tentang apa yang sudah kuputuskan. Dia harus menerimanya, dia tidak bisa memaksakan perasaanku. Aku harus bisa menyakinkan dia bahwa bukan hanya aku yang bisa disukainya. Suatu saat nanti akan ada pengganti diriku yang bisa menenangkannya di kala ia bingung. Aku hanya sahabat, tidak berhak untuk berkata lebih atau berperilaku lebih. Aku hanya melaksakan tugasku sebgaimana tugas seorang sahabat menjaga sahabatnya sendiri.

Aku hanya bisa berharap
“Tetaplah menjadi sahabatku yg selalu mensupportku menjadi pemenang, dan senantiasa mengingatkanku disaat aku lalai.”

Aku menghargai usaha apa saja yang pernah Falerinna lakukan kepadaku, tetapi aku juga ingin Falerinna bisa menghargai perasaanku saat ini. Aku memang menyukai Falerinna, tetapi aku lebih mencintai Jenny daripadanya. Sekali lagi maafkan aku jika memang aku bukan yang baik buat dirinya, yang selalu menyakitinya dalam batin. Aku tahu aku bukanlah sahabat yang terbaik untuk dirinya dan aku bukanlah sahabat yang bermanfaat untuknya, tapi aku termasuk sahabat penghiburnya dikala dia sedih dan tenggelam dalam memori ingatannya bersama dengan ayahnya. Aku mengerti dia. Dan aku bisa merasakannya walaupun jarak kita jauh.

“Lapangkanlah dadamu Fal, ini bukanlah berarti kita berpisah. Kita masih bersahabat. Jangan pernah kamu menganggap ini adalah akhir dari persahabatan kita. Tidak.. Ini bukan akhir. Persahabatan kita selamanya. Aku menyayangimu sebagai sahabatku. Kita memiliki kehidupan dan takdir masing-masing. Jadi, percaya saja dengan apa yang kamu alami. Tidak selamanya kamu akan seperti ini. Percaya kepadaku.”


**


Saat di perjalan keesokan paginya, entah kenapa aku gugup untuk bertemu dengan Falerinna. Aku merasa, aku tidak siap untuk membicarakan yang ingin aku bicarakan. Aku tidak tega melihatnya menangis di depanku. Aku tidak tega melihat dia harus sakit dan kondisinya semakin melemah karen aku. Kurasa, hari ini bukanlah waktu yang tepat untuk membicarakannya.


Aku pun membuka pintu rumahku dan bersiap untuk memulai aktifitas pagi ini. Di kota London ini, musim sedang musim semi.. Jadi, aku sedikit memakai pakaian yang cukup hangat.
Aku mulai melangkahkan kaki menuju tempat tujuanku. Dengan berjalan kaki aku cukup bisa merefreshingkan diriku sendiri. Melihat-lihat lingkungan sekitar sembari mensapa tetangga-tetanggaku. Pagi ini cukup bersahabat menurutku. Semua orang yang ku kenal mulai berinteraksi dengan lingkungan secara baik, begitupun juga dengan keluargaku. Aku cukup sengan dengan awal pagi yang aku jalani.

Di tengah perjalanan, sekilas aku melihat Falerinna dengan seseorang. Bisa kulihat, disana sepertinya Falerinna sedang tidak bersemangat. Dia kelihatan sakit, tidak seperti biasanya yang kulihat. Ya Tuhan, aku mulai khawatir sekarang dengan dirinya.
Falerinna juga tidak berpenampilan seperti biasanya hari ini, sekarang dia sedikit lebih tertutup dengan pakaiannya. Dan dia memakai kupluk kepala. Hmm, aneh. Kenapa dia? Apakah dia sakit? Jika memang dia sakit, kenapa dia tidak memberi tahuku? Bukankah aku ini orang pertama yang selalu tahu menahu tentang kondisinya? Ini mulai aneh..


Aku pun memberanikan diri untuk menghampirinya, ingin menanyakan keadaannya dan meminta penjelasannya tentang dia tidak memberitahu kondisinya kepadaku.


“Fal? Kamu ngapain disini? Kenapa nggak ke sekolah?”
“Eh. Skandar.. Tidak Skand, aku absent hari ini. Kamu sendiri kenapa nggak ke sekolah?”
“Aku ingin menghampirimu, mau menanyakan keadaanmu. Aku lihat kondisimu tidak sebaik seperti biasanya. Kamu sakit?”
“Tidak Skand, aku tidak sakit. Hanya saja mungkin aku kurang istirahat. Sudahlah, jangan terlalu mengkhawatirkan diriku. Aku bukan siapa-siapa kamu.”

Bukan siapa-siapa aku? Bukannya aku sahabatnya? Ini memang aneh..

“Aku kan sahabatmu Fal. Kenapa kamu bisa bilang bahwa aku bukan siapa-siapa kamu?”
“Kupikir kita tidak akan bisa bersahabat lagi”
“Kenapa? Aku kurang sempurna untukmu? Begitu?”
“Tidak Skand.. Kupikir aku bukan sahabat yang baik untukmu. Aku tidaklah cocok untukmu. Jenny lah yang pantas untuk menjadi sahabatmu yang sesungguhnya.”
“Tidak seperti itu lah Fal. Kamu cemburu denganku dan Jenny, huh?”
“Tidak. Aku tidak cemburu. Aku senang..”
“Jangan berbohong! Aku bisa melihatnya dari matamu!”
“Jika kamu bisa melihat, tentunya kamu tahu apa yang aku rasakan saat ini.”

Aku terdiam, terpaku memandang matanya. Tatapannya sendu, seakan-akan dia menginginkan sebuah harapan yang besar. Bibirnya membentuk sebuah senyuman kecil. Rambutnya yang panjang terurai mulai berterbangan dikarenakan angin yang berhembus cukup kencang. Iris matanya yang berwarna coklat cukup indah. Oh Tuhan, apa yang sudah ku lakukan? Apa aku menyakiti gadis ini? Tidak, aku pasti salah..

“Aku sama sekali tidak tahu apa yang kamu rasakan Fal. Tapi aku mohon jangan putuskan persahabatan kita. Aku masih menyayangimu.”
“Aku cukup menghargai apa yang selama ini telah kamu lakukan untukku Skandar. Tetapi mungkin, kita memang harus mengakhirinya sekarang. Aku ingin sendiri. Aku ingin hidupku yang murni. Aku ingin mencari kebahagiaan sendiri. Aku berterima kasih karena kamu telah menjadi sahabat penghiburku selama ini.”
“Kenapa kamu ini mudah putus asa Fal? Apa kamu tidak membutuhkan seorang sahabat yang benar-benar mengerti keadaanmu? Apa kamu tidak membutuhkan seorang sahabat yang bisa membuatmu tersenyum? Aku khawatir terhadapmu.”
“Aku ini cukup bisa untuk mengontrol semuanya. Bahkan perasaanku sendiri. Aku mengerti perasaanmu. Bukankah itu yang kamu inginkan? Aku membaca pikiranmu, dan kamu ingin aku menghargai perasaanmu karena kamu mencintai Jenny daripada aku. Sekarang, aku sudah menghargainya. Bukankah itu sudah lebih dari cukup untuk menjadi sahabat yang pengertian?”
“Tapi tidak diakhiri dengan permutusan sahabat Fal. Kumohon, berikan aku kesempatan untuk menjadi yang terbaik untukmu.”
“Tidak bisa Skandar. Keputusanku sudah bulat. Terima kasih atas semuanya. Aku bangga pernah menjadi sahabatmu. Terima kasih. Aku harus pergi..”


**


Sudah. Kupikir aku sudah kehilangan orang yang aku sukai kali ini. Sungguh aku menyesal dengan apa yang sudah kuputuskan. Tapi aku juga harus tetap bisa bersabar. Aku pasti akan bisa mendapatkan Falerinna kembali. Falerinna orang yang mudah untuk dibujuk, aku paham benar dengan sifatnya.

Ya, suatu saat nanti aku akan kembali membawa Falerinna menjadi sahabatku. Aku janji. Aku akan memulainya secara perlahan..”


**



“Ini memang keputusanku untuk mengakhiri persahabatan kita. Menurutku, aku bukanlah yang terbaik lagi untukmu. Aku hanya membawa keburukan untukmu. Ini hidupku, aku harus bisa menjalaninya secara alami. Aku tidak butuh lagi senyumanmu, yang aku butuhkan sekarang hanya kesabaran yang kuat dalam menjalani semua permasalahanku.” – Falerinna



“Aku tidak akan pernah membiarkanmu pergi begitu saja dari hidupku. Kamu adalah sahabat yang sangat aku hargai. Jadi, aku berjanji akan membawamu kembali ke tali persahabatan ini. Percayalah.” – Skandar


Tidak ada komentar:

Posting Komentar