Author : Alferina
Genre : _________________
Pairing : Skandar Keynes x Falerinna
Rated : Teen
Length : Multichapter
**
Chapter Sebelumnya
“Fal.. Pulanglah. Ini semakin tidak baik”
Kulihat, Falerinna terkejut mendengar suara yang ia dengar secara tiba-tiba. Ia menolehkan wajahnya kepadaku. Melihatku dengan tatapan tidak percaya, dan mulai diam terpaku tanpa ada sedikit jawaban yang terjawab. Aku pun mendekati dirinya, berusaha mencoba mengembalikannya kedalam pelukanku. Tapi, dengan sigap. Ia melarangku.
“Stop Skand! Jangan pernah mendekat lagi! Cukup hanya segini jarak yang kita punya”
“Pulanglah. Jangan sakiti dirimu”
“Apa pedulimu Skand? Pergilah dari sini!”
“Tidak. Aku tidak akan pergi sebelum kau pulang”
“Bisakah kau menghentikan ide konyolmu itu? Itu membuatku geli”
“Dan bisakah kau menghentikan perilaku bodohmu ini? Itu membuatku terbunuh”
“Terbunuh? Kupikir kau salah tanggap Skand. Seharusnya aku yang terbunuh karena sudah dipermainkan olehmu!”
“Pulanglah. Lupakan masalah itu”
“Lupakan? Never!”
“Listen. I just do not want you to mean like a little child. Can you forget the problem for a while and go home to your house? Think about your condition”
“I never thought that you would be as understanding it to me”
“I know. Go home. And the rest”
“Leave me alone, then I'll be home soon. I do not want to see your face here too long. I have not fully trust you again”
“Well if it's what you want”
**
Aku pun meninggalkannya. Kali ini untuk kedua kalinya ia memintaku untuk pergi. Sakit rasanya mendengarkan kata-katanya bahwa ia tidak ingin melihat wajahku berlama-lama. Well, jika memang itu yang dia inginkan. Maka akan aku turuti. Jika itu memang membuatnya lebih baik.
Chapter Selanjutnya
Michael Point of View’s
New York sama sekali tidaklah indah. Kota ini buruk seperti yang pernah kubayangkan sebelumnya. Tiada hal yang bisa membuatku senang dari kota ini. Lebih baik aku tinggal di London daripada harus tinggal di kota menjijikkan seperti ini.
Musim di kota ini sedang musim salju. Yaah, walaupun saat ini bukanlah bulan Desember tetapi entah mengapa musim salju datang begitu saja tanpa alasan. Ketika datangnya musim ini, sejenak aku mengingat seseorang di dalam pikiranku. Tentunya dia adalah seorang wanita yang baik dan cantik penuh perhatian. Senyumannya amat manis dan suaranya pun amat merdu. Aku sangat merindukannya kali ini. Bagaimana keadaannya sekarang? Apakah ia baik? Oh tentu saja. Setiap Minggu ia kan selalu mengirimiku surat, tentunya aku akan selalu tahu mengenai kondisinya.
Tetapi Minggu ini sepertinya ada yang aneh dengannya. Sepertinya dia sedang menghadapi masalah yang cukup berat. Bisa dibayangkan betapa rumitnya pasti ia menjalankannya. Aku tahu dia bukanlah wanita yang tegar seperti wanita yang lain, dan bahkan aku pun tahu dia bukanlah wanita yang penyabar, dia selalu penuh emosi, selalu lelah dengan hidupnya yang suram akhir-akhir ini. Dia perlu seseorang, pengganti diriku tepatnya untuk membantunya agar dia bisa menjadi dirinya yang seutuhnya.
Falerinna, setidaknya kau harus bersabar dengan semuanya. Semuanya juga pasti akan indah pada waktunya. Sangat indah bahkan tanpa kau sadari. Kau harus percaya pada takdirmu. Aku disini, tetap untukmu. Tetapi kau juga harus mempunyai seseorang disana untuk menjagamu dan memahamimu. Seburuk-buruknya orang itu menyakiti perasaanmu, dia pasti akan menjadi yang terbaik kedua setelahku. Persahabatan tidak selamanya indah, itu juga perlu perjuangan yang tegar untuk menghadapinya. Aku yakin kau akan selamanya bisa menjadi yang nomor satu untuk siapapun yang telah mengenalimu. Kuyakini itu ..
**
Seketika, ketika aku sedang memikirkan seorang sahabat lamaku, ponselku berdering. Menandakan ada yang menghubungiku.
Siapa yang menelfonku malam-malam begini? Tidak tahukan bahwa ini sudah saatnya istirahat?
Aku pun mengambil ponselku dari kantung celanaku, membaca nama yang tertera di layar dan segenap cukup terkejut dengan siapa yang menghubungiku.
Tommy? Oh God! Sepertinya aku tahu apa alasan Tommy menghubungiku malam-malam begini.
“Hallo? Tom? Ada apa?” aku pun memulai percakapannya dengan santai. Kukira, tidak akan ada yang penting dalam percakapan kali ini. Tetapi sepertinya, nada suara Tommy cukup bisa membuatku tegang.
“Michael.. Aku butuh bantuanmu. Apakah kau siap?”
“Tentu Tom. Apa itu?”
“Seperti biasa.. Jalankan tugasmu”
“Apakah dia sedang dalam bahaya Tom? Jika tidak terlalu, aku tidak akan datang. Aku sedang malas malam ini”
“Lebih baik, cobalah check keadaannya. Baru kau bisa membaca situasinya”
“Hmm, baiklah”
Aku pun segera bergegas menuju ke ruang parkir di belakang rumahku. Masuk ke dalam porscheku dan menyalakannya lalu menancap gas dengan kecepatan penuh menuju rumah kediaman keluarga Simpson. Seperti yang dikatakan Tommy, aku harus segera kesana dan membaca situasinya.
Jujur, aku malas selalu terlibat dengan hal-hal yang seperti ini. Ini seperti menyulitkan kehidupanku. Yaah, tetapi harus bagaimana lagi? Toh, hanya inilah pilihanku. Mungkin hanya ini cara terbaik yang aku lakukan untuk belajar. Belajar untuk menyelamatkan dan melindungi seseorang dari macam bahaya yang mengincar.
**
Beberapa menit selanjutnya, aku telah sampai pada depan gerbang rumah keluarga Simpson. Disana kelihatannya aman, tidak ada bahaya ataupun ancaman yang datang. Hmm, well sepertinya kali ini Tommy hanya ingin mengerjaiku.
Aku pun sejenak diam duduk di kursi kemudi. Mencoba untuk menunggu sesuatu keadaan yang tidak kuharapkan –tentunya-.
30 menit ku lewati dan disana sama sekali tidak ada masalah yang muncul. Heh, ini nih yang dinamakan pengerjaan. Tommy sengaja menyuruhku kesini hanya untuk membuat pekerjaan kepadaku. Apakah ia tidak kasihan padaku? Aku mengantuk sekarang, dan kurasa aku butuh tidur yang cukup lama.
Karena aku juga perlu sedikit was was, aku pun memutuskan untuk tidur di Porsche putihku ini, dan sedikit berkeliling ke sekitar rumah Simpson untuk memastikan keadaan.
Aku pun keluar dari porscheku, menutup pintu, dan menguncinya lalu memasang alarm. Kemudian, aku mulai melangkahkan kakiku dengan langkah yang santai dan satu tanganku berada di dalam kantung jaket kulitku. Jika kalian bertanya apa yang sedang aku pegang di jaket kulitku ini.. Tunggulah sampai bahaya datang kepadaku, baru kalian akan tahu benda apa yang aku pegangi saat ini.
Aku sekarang sudah berada di belakang rumah keluarga Simpson. Berdiri di hadapan pohon pinus besar dan menge-check situasi dengan melihat kesisi kiri dan kanan. Tatapan mataku tak lepas jauh dari satu titik dimana ada sesuatu bergerak tepat di kursi kayu panjang dekat taman rumah keluarga Simpson. Aku pun mulai sibuk mencari tempat dimana aku harus bersembunyi untuk memperhatikan sang target. Otakku pun seketika menunjukkan bahwa aku harus bersembunyi dibalik pohon pinus dihadapanku sekarang. Dengan sigap aku segera melompatkan diriku kebelakang pohon pinus dan langsung memerhatikan sang target.
Kulihat target itu sedang duduk diam, dan sedang melihat kesekitar. Mungkin dia hanya ingin memastikan kondisi saat ini aman (?) Hmm, penuh kecurigaan perasaanku saat ini. Aku pun terus mengalihkan pandanganku terhadap sosok yang berada di kursi itu. Dan semakin lama semakin kuperhatikan, sosok itu bergerak semakin banyak. Sosok itu menimbulkan semakin banyak pergerakan. Ah, siapa dia? Apa yang dia lakukan di malam hari seperti ini? Apa dia ada niat buruk? Ohh Michael, lupakanlah pikiranmu itu.
45 menit kemudian aku mendengar seseorang berjalan mendekatiku. Aku menoleh kebelakang, dan aku tidak mendapati siapapun. Aku pun berbalik kearah depanku. Dan apa yang aku dapati? Sosok itu telah menghilang! Oh God.. Aku tahu apa yang terjadi hari ini. Tolong buatku tenang, tenang, dan tetap tenang. Lalu, aku memejamkan mataku berusaha rileks dan mengatur detak jatungku agar kembali berdetak secara normal. Dan seketika aku membuka mata, seseorang dari belakang mendekapku. Menyeretku dengan kasar dan terlihat ditangan kanannya ia memegang sebuah senapan tembak. Ia mencoba untuk membuatku kehabisan nafas, dan dengan kasar dia membanting tubuhku ke tanah dan menyodorkan senapannya ke kepalaku.
“Keluarkan senjatamu atau kau akan mati ditanganku!” teriak seseorang itu yang memakai topeng. Ia mengancamku. Aku pun menuruti kata-katanya. Aku mengeluarkan senapanku dan menaruhnya di atas tanah.
“Apa yang kau lakukan di rumah ini, huh?” tanyaku kepadanya dengan nada cukup emosi tetapi tetap masih pada posisi terbaring diatas tanah.
“Seharusnya aku yang bertanya kenapa kau disini bodoh!”
“Dasar manusia topeng tak tahu diri kau!”
Dengan segera aku pun menendang kakinya dan sempat membuatnya terjatuh. Aku berusaha bangkit, mengambil senapanku kembali dan memasukkan beberapa peluru. Aku menyodorkan senapanku ke arahnya dan ia pun hanya angkat tangan. Dia melepaskan senapannya. Dan matanya segenap melirik-lirik kearah ke kanan dan ke kiri.
“Sayangnya kau datang sendirian yaa..”
Setelah ia mengatakan itu, seseorang bertopeng yang lainnya datang lagi dan mulai menyerbuku dengan senapan-senapan yang mereka pegang. Mereka menembakkanku dengan serbu. 1 tembakan, 2 tembakan, dan bahkan 3 tembakan datang kepadaku secara bersamaan. Bagaimana ini? Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Tanpa pikir panjang, aku lari dari tempat itu. Berusaha mencari tempat yang lebih aman. Sembari berlari aku pun menembakkan senapanku kepada manusia bertopeng itu. Ada beberapa yang kena lalu kemudian mati. Entahlah, sepertinya aku mulai kehabisan peluru saat ini.
Suara tembakan pun semakin banyak kudengar, dan aku memutuskan untuk berlari semakin jauh. Berusaha untuk menyelamatkan diriku dari serangan semua manusia bertopeng ini. Siapa mereka? Mengapa mereka bertopeng? Apakah mereka organisasi baru? Umm, aku harus mencari tahu.
Segenap beberapa menit kemudian, aku telah memasuki kawasan hutan. Dihutan ini sungguh gelap dan sama sekali tidak ada penerangan. Aku bahkan tidak cukup bisa menjangkau apapun dari sini secara dekat. Dan kurasa, sepertinya disini aku harus bersembunyi dari gerombolan manusia bertopeng tersebut.
Aku pun mulai menghampiri gubuk lusuh yang letaknya tidak jauh dari sini, mungkin beberapa meter. Aku kesana, dan mulai menaiki undakan tangga dan memasukinya. Disana kebetulan ada cahaya lampu yang cukup bisa menerangi keadaan kondisi gubuk ini. Sepertinya ini sudah lama tidak ditinggali sehingga semuanya berdebu. Dinding-dinding yang retak, lantai yang berjamur, lampu kuning yang agak suram.. Ya, gubuk ini seperti ratusan tahun tidak pernah di singgahi. Well, tidak terlalu masalah untukku. Yang terpenting aku bisa dapat berlindung disini dengan aman.
**
Skandar Point of View’s
Aku berjalan bolak balik di kamarku. Menunggu jawaban dari Edward apa yang akan ia putuskan dengan ideku. Tolong cepatlah Ed, aku tidak punya waktu banyak untuk menunggu.
KREK!
Seseorang tiba-tiba membuka pinta kamarku dan aku sedetik cukup terkejut.
“Lily. Seharusnya kau mengetuk pintu dulu..” ucapku malas kepada adik terkecilku –Lily Keynes-
“Maaf kak. Aku hanya ingin disini bersama kakak. Boleh?”
“Tetapi bisakah lain kali kamu lebih sopan dari ini? Kakak tidak suka” balasku cuek dan mendekati Lily.
“Baiklah kak.” Jawab Lily dengan tampang kecewa dan memelukku kemudian.
“Mom and Dad hari ini akan pergi ke luar kota untuk mengunjungi kak Soumaya. Hanya 2 Minggu. Dan itu bisa dipastikan kakak dan aku tidak ikut serta dalam pengunjungan itu” ucap Lily yang memulai percakapannya.
“Lalu? Kenapa?”
“Aku hanya ingin ikut kak. Aku ingin jalan-jalan”
“Hey Lily. Biarkan mom and dad pergi berdua. Mungkin mereka tidak ingin menganggu waktu sekolahmu. Kan masih ada kakak disini?”
“Tetapi kan kakak tidak terlalu bisa sepenuhnya menjagaku”
“Kata siapa? Kakak bisa kok menjaga penuh kasih sayang adik kakak ini”
“Hmm.. Andaikan kakak bisa menepati janji kakak sebelum kakak pergi ke New York bersama Edward.”
“Eh? Kamu tahu darimana semua itu?”
“Hanya mengetahuinya saja kak. Tidak dari siapapun”
“Kakak juga pergi ke New York hanya sebentar Ly. Jangan khawatir”
“Tapi itu seperti 2 tahun bagiku. Lagian sih, kakak nyakitin Falerinna. Jadinya begini kan?”
“Hey hey. Sudah. Lebih baik kamu jangan ikut campur dengan masalah kakak. Biar kakak yang menyelesaikan semua masalah ini”
“Baiklah baiklah. Aku akan pergi ke kamar. Mau bermain gadget. Daah Mr.Keynes”
Aku pun terkekeh kecil dan mencium puncak kepala adikku sejenak.
” Jangan tidur malam-malam. Mimpi yang indah sweetie. I love you”
“Ya ya ya..” ucap Lily lalu segera itu pergi secepat kilat dari ambang pintu kamarku. Lily itu adik yang lucu menurutku. Ia cukup selalu membuatku terhibur jika aku sedang sedih. Ya, setidaknya .. Mungkin hanya dia salah satu dari keluargaku yang sangat mengertiku. Apapun alasannya, aku akan tetap menyayanginya.
**
Michael Point of View’s
Aku mengerjapkan mataku berkali-kali. Segenap agak silau karena cahaya matahari yang cukup menulusuk indera penglihatanku. Tubuhku terasa pegal.. Mungkin ini di akibatkan tidur di bangku keras ini.
SREEK SREEK.
Seett. Aku menoleh kearah dapur. Mencoba untuk mendengar suara yang barusan kudengar dengan pasti.
SREEK SREEK
Ups. Suara itu semakin terdengar. Oh no. Tidak lagi.
Aku pun beranjak berdiri dari bangku keras tersebut, dan bersiap-siap menodongkan senapanku. Berharap peluruku masih tersisa walaupun sedikit.
Aku berjalan perlahan menuju ambang pintu dapur. Mengumpat di belakang dinding sebentar dan mulai melihat keadaan dapur dengan kepalaku dengan gerakan slow motion.
Setelah melihat ada apa di dapur. Sedetik, aku menjatuhkan senapanku dan mulai jalan malas mendekati seseorang yang ada didalamnya.
“Julianaa.. Apa yang kau lakukan disini?” tanyaku sambil menepuk pundaknya
“Michael. Kau tersadar? Syukurlah” ucap Juliana kegirangan dan setelah itu memelukku
“Darimana kau tahu aku disini?”
“Semalam aku mendengar suara tembakan. Dan aku pun keluar dari rumah. Dan aku melihatmu sedang lari ketakutan menuju hutan ini. Dengan sigap aku langsung menyusulmu ke tempat ini”
“Kau menyusulku? Kau tidak apa-apa kan? Tidak ada yang terluka?”
“Apa maksudmu? Tentu saja aku baik. Kan aku sendirian sejak semalam”
“Dimana mereka?”
“Mereka? Mereka siapa?”
“Human masked Ju.. Manusia bertopeng”
“Kau menggigau ya? Tidak ada siapa-siapa disini selain kita berdua”
“Tidak ada siapa-siapa? Kau yakin?”
“One hundred persen. I’m sure Michael”
Aku pun terdiam. Menyadari hal-hal semalam yang terjadi. Bukankah semalam itu kejadian yang nyata? Aku benar-benar merasakannya.
Manusia bertopeng, suara tembakan, aku terjatuh, dan aku menendang kaki manusia bertopeng itu.
Apa yang telah terjadi sebenarnya? Apa aku hanya berkhayal? Tidak, tidak mungkin! Itu kenyataan. Aku merasakannya, aku melihatnya, dan bahkan aku mendengarnya..
**
To be Continued~

Tidak ada komentar:
Posting Komentar