Minggu, 23 Maret 2014

Friendzone: Chapter 10 (Everything Has Changed)

Title     : Friendzone
Author : Alferina
Genre  : ______________
Pairing : Skandar Keynes x Falerinna
Rated   : Teen
Length : Multichapter






**




“Semua kembali pada saat yang tak diharapkan. Namun, kuyakini. Everything has changed.” – Falerinna


“Tetaplah untukku..” –Skandar Keynes




**




Musik pun masih terus menggema di ruangan sempurna itu. Tidak ada yang buruk, semuanya benar-benar sempurna. Nuansa-nuansa yang romantis seakan-akan menghujat kedua pasangan yang sedang berdansa ini. Pikiran mereka hanya tertuju pada kesetiaan dan keabadian rasa sayang mereka kepada masing-masing pilihannya. Senyuman yang seikhlas mereka keluarkan selalu terpampang dibibir mereka. Wajah yang berdekatan, nafas yang terasa, hidung yang tersentuh, dan pelukan yang hangat semuanya rasanya tidak ingin terlepaskan.

Aku tidak peduli berapa lama kita akan melakukan ini. Pokoknya semua ini murni berasal dari kasih sayang hatimu. Bahkan aku ingin selamanya kita akan seperti ini.


Dan waktu untuk mereka tidaklah berarti penting. Persetan dengan waktu yang selalu menghabiskan semua kenangan indah-indah ini. Tidakkah waktu mengerti? Tidakkah waktu bisa merasakan? Dimana saat-saat yang sangat kita inginkan selalu terjadi tanpa akhirnya bisa disebut dengan masa lalu? Waktu itu hanya bagaikan sebuah penghalangan segalanya yang menakjubkan. Yaaah, yang walaupun sebenarnya tanpa berjalannya waktu mungkin mereka tidak akan bisa bertemu sampai sejauh ini.


“Aku berharap kita akan selalu bisa merasakan ini.” Ucap Falerinna dengan tatapan penuh harap dan merundukkan kepalanya kebawah lantai.
“Kita akan selalu bisa merasakan ini Fal. Selamanya.” balas Skandar dengan setiap nada yang menyakinkan. Menyentuh dagu Falerinna dan mengangkatnya secara perlahan. Menjadikan wajah sang Falerinna sangat berada dekat dengan wajah Skandar. “Yakinkanlah hatimu. Jika kau memang benar-benar berniat ingin selalu bersamaku, lihatlah jauh kedalam hatimu. Karena tuluslah perestu segalanya.”
“Aku akan berusaha menyakininya Skand. Aku akan mencari tahu..” balas lagi Falerinna yang akhirnya langsung memeluk tubuh Skandar yang agak sedikit besar dari Falerinna. Falerinna memeluk Skandar dengan erat, kepalanya menyentuh pundak Skandar, air mata pun tak luput juga dari kemeja Skandar yang terpaksa basah.
Skandar pun membalas semuanya dengan kembali memeluk Falerinna jauh ke dalam dekapannya. Mengelus-elus pundaknya, dan memegang tangannya yang dingin.
“Aku tidak akan pergi, Fal. Dekapanku selalu siap siaga terbuka untukmu.”

Setelah itu, Skandar pun meregangkan pelukannya dengan Falerinna dan mengecup kening Falerinna lama. Tangannya masih menggenggam tangan Falerinna yang dingin. Mengelus-elus rambut Falerinna yang panjang hitam nan lurus lalu menyisihkan sehelai demi sehelai rambut yang menghalangi wajah cantik Falerinna. Tersenyum memandangnya dan kembali memeluknya. Mereka pun menutup mata, dan tak tersadarkan.



**




Skandar membuka mata. Ia merintih. Tubuhnya kaku dan sakit mulai merambat ke seluruh jaringan tubuhnya. Sekilas, ia memikirkan hal yang baru saja ia rasakan seperti nyata. Falerinna.. Ya, dia disini. Itulah yang dirasakan Skandar. Ia memeluknya dan menciumnya secara nyata. Memegang tangannya dan bahkan sedikit merasakan detakan jantungnya yang kencang. Namun, kemana dia pergi? Dan kenapa semua suasana yang indah yang sempurna tersebut hilang? Kemana perginya waktu? Apakah benar secepat ini? Atau mungkin tadi itu hanya sebuah mimpi? Tetapi tidak mungkin. Itu nyata! Benar-benar secara detail Skandar merasakan tiap musik, irama, nada, lantai, nuansa, warna, dan aroma-aroma yang ada di dalamnya. Jadi, that’s really impossible if that just a dream!

“Bangunan ini, tempat ini, atau entahlah apa namanya yang seperti sampah ini aku tidak akan pernah mengerti waktu yang ada di dalam sini. Semuanya telah berubah. Berubah dengan cara yang tak lazim.”

Ia beranjak berdiri. Persis seperti mimpinya yang tadi ia rasakan. (Ia terbangun, beranjak beridri, meregangkan otot-otonya, dan mulai menaiki anak tangga yang ada di sebelah kanan).

“Mungkin ini memang tidak terlihat aneh. Tetapi, aku ingin bertemu Edward. Aku masih ingin mencarinya.”

Dengan peniatan yang sedari awal Skandar teguhkan akhirnya ia melanjutkan perjalanannya untuk mencari Edward. Mungkin Skandar tahu ia tidak perlu harus mencari Falerinna karena pasti semuanya hanyalah sebuah jebakan. Skandar tak terlalu memikirkannya atau mengkhawatirkannya, ia masih punya pendirian yang tetap untuk selalu ada disisinya. Apapun badai yang menerjang.

“Tetaplah untukku.” Ya itulah yang Skandar ingin dari Falerinna. Falerinna cinta terakhirnya yang Skandar yakini akan tetap terindah untuk cintanya. Perasaan seluruhnya tak akan mungkin bisa diubah dengan apapun.“Ya, dialah yang kupilih dan kutetapkan. Aku datang ke kehidupannya dan aku berhak untuk bertanggung jawab atas semuanya.”




**




Kau harus bisa mengatakan yang sejujurnya tentang masa lalumu, Edward. Jika kau terus menyembunyikannya maka resikolah yang harus kau terima. Tak selamanya rahasia masa lalumu akan selalu terjaga. Falerinna bisa membocorkan semua tentangmu. Dia juga pernah menyukaimu, namun kau tak pernah menanggapinya. Mengertilah. Kau sekarang sedang berada di dalam cinta segitiga teman-temanmu.

“Aku hanya tidak ingin menyakiti Skandar. Dia bisa sangat membenciku jika aku memberi tahu semuanya.”

Lebih baik seperti itu Ed. Karena pada dasarnya Skandar dan Falerinna akan bersatu, dan diantara mereka berdua akan menanyakan keberadaanmu.

“Biarkan aku terkunci disini. Aku tak peduli akan seperti apa aku akan berakhir. Aku hanya tidak ingin merepotkan mereka.”

Hidupmu masih panjang. Jangan menyerah. Kalau kau jujur, mungkin ada kemungkinan besar Skandar akan memaafkanmu. Daripada kau harus berakhir di tempat seperti ini?

“Aku lemah untuk mengatakannya.”

Yakinilah dirimu Ed. Falerinna masa lalamu dan Skandar sahabatmu….





**


Skandar


Yang kutahu pagi ini saat bangun tidur
Hanyalah kini aku tahu sesuatu
Yang aku tak tahu sebelumnya

Dan yang kulihat
Sejak 18 jam yang lalu
Hanyalah mata dan kerut hijau serta senyummu
Di sudut benakku membuatku merasa seperti…

Aku hanya ingin lebih mengenalmu

Karena yang kutahu hanyalah kita saling sapa
Dan matamu tampak seperti pulang
Yang kutahu hanyalah sebuah nama sederhana
Segalanya telah berubah
Yang kutahu hanyalah kau pegang pintu
Kau kan jadi milikku danaku kan jadi milikmu
Yang kutahu sejak kemarin
Hanyalah segalanya telah berubah




**


Falerinna


And all my walls
Stood tall painted blue
And I'll take 'em down, take 'em down and
Open up the door for you

And all I feel in my stomach is butterflies,
The beautiful kind
Making up for lost time
Taking flight making me feel like..

I just want to know you better

Come back and tell me why
I'm feeling like I've missed you allthis time
And meet me there tonight
And let me know that it's not all in my mind
I just want to know you better



**



“Dan semua yang ingin kuketahui tentang dirimu. Aku hanya ingin lebih mengenalmu.”
Falerinna menulusuri kembali jalan jebakannya. Tentu saja ia hanya berkhayal tentang tadi. Semua tidak mungkin ada Skandar yang kembali mengisi perasaan hancurnya. Bangunan tak bernama ini memang lebih cocok untuk dijadikan tempat penyutingan film. Semua waktu yang awalnya berjalan dengan semula secara tiba-tiba kembali ke masa lalu yang sangat jauh dan sekarang kembali lagi ke masa sekarang. 18 jam lalu yang dilewati dengan keindahan palsu cukup membuat Falerinna sedikit tenang. Merasakan dikecupnya Skandar serta semuanya yang diinginkan mungkin sudah cukup untuk terkabulkan. Waktu telah mempermainkan. Uang bahkan tidak berlaku disini, jadi cukup mengerti kondisi ini dan tetap berjalan kemana ia akan melangkah.

“Semua kembali pada saat yang tak diharapkan. Namun, kuyakini. Everything has changed.”

All I know is a new found grace

“Yang harus disyukuri.”

Mistisnya waktu yang telah terjadi sekarang dan semua tentang desain nuansa yang sangat mirip secara persis mungkin itu masih hanya dianggap sebagai halusinasi semata. Mungkin itu efek karena Falerinna merindukan kamar kecilnya yang nyaman. Tanpa disadari semuanya seperti kenyataan. Tetapi tetap Falerinna menganggap semuanya halusinasi benak. Tidak lain dari itu.




**



Yang kutahu hanya kita saling sapa
Maka gantungkanlah harapan tertinggimu
Yang kutahu hanyalah hujan yang mengguyur
And everything has changed

Hari-hariku, aku kan tahu wajahmu
Yang kutahu sejak kemarin hanyalah
Everything has changed.




**



To be continued~


Tidak ada komentar:

Posting Komentar