Minggu, 23 Maret 2014

Friendzone: Chapter 11 (Way Out)

Title     : Friendzone
Author : Alferina
Genre  : _____________
Pairing : Skandar Keynes x Falerinna
Rated   : Teen
Length : Multichapter


**



Edward berkutat pada pendiriannya, dia tidak bisa lagi berpikir jauh untuk pikirannya terhadap Skandar dan Falerinna. Baginya mengakui semuanya sama saja membuat dirinya terbunuh. Tidak ada lagi yang namanya persahabatan maupun kebersamaan yang akan dia rasakan kembali. Benar-benar sulit sesulit dia menahan perasaannya dahulu. Namun,waktu terus berjalan dan dia tetap harus memilih suatu pilihan.
Edward sekarang tengah berada di belakang bangunan. Sendirian dan sengaja melarikan diri meninggalkan Skandar karena Edward tahu dia tidak lagi pantas untuk menjadi teman Skandar. Edward sudah mengikhlaskan sesuatu hal yang awalnya –mungkin—memang butuh perjuangan untuk merelakan. Tetapi kini dia tersadar. Falerinna bukan untuknya dan Falerinna hanya sementara hadir didalam kehidupannya. Memang rasanya sakit tetapi inilah jalan terbaik yang akan Edward ambil untuk membahagiakan kedua sahabatnya. Cinta tidak harus ditunggu, cinta akan datang dengan sendirinya begitu pula dengan nasib. Mungkin nasib Edward tahun ini sedang malang namun seseorang tidak dapat memprediksi apa yang akan terjadi dengan nasib Edward beberapa tahun mendatang. Semua adalah milik Tuhan.


“Tapi aku masih bingung. Apa yang harus aku lakukan untuk menyatukan mereka kembali tanpa aku harus mengakui masa laluku?” Edward berusaha keras. Mencari ide yang benar-benar masuk akal dan mudah-mudahan akan berjalan dengan lancar. Dia terduduk di kursi. Pandangannya menghadap ke langit-langit atas dan pikirannya menjelajahi semua hal yang harus dia temukan secepat mungkin. “Kalau sekarang aku tidak akan bisa melakukannya, kemungkinan jika aku membutuhkan bantuan orang lain, ini akan berakhir bukan dengan hasil kerja murni dariku. Aku ingin mereka bahagia karena aku bukan orang lain.” Kembali lagi dalam pikirannya, Edward termenung oleh benaknya sendiri. Berjam-jam dia lalui dan bagaimanapun juga hasilnya. Dia yakin akan membahagiakan kedua sahabatnya.



**



Disisi lain, Falerinna tetap berjalan semakin dalam di bangunan ini. Dia sama sekali tidak takut apa yang akan terjadi disini. Dia hanya beranggapan ini hanya sebuah bangunan tua yang meninggalkan beberapa rahasia mistis dan bukan berarti apa-apa terhadap dirinya yang tidak mempunyai sangkut paut atas masalah yang terjadi di bangunan ini. Iris matanya yang berwarna cokelat terus melihat kekiri dan ke kanan setiap ruangan yang dia lewati secara perlahan. Membuka satu persatu pintu yang dia lihat dan akan melihat apa yang ada didalamnya. Mungkin suatu keajaiban akan kembali terjadi ketika Falerinna membuka pintu dan langsung menemukan tokoh Skandar yang siap kembali membawa dirinya ke dalam pelukan lelaki idamannya, seperti dulu saat Falerinna tidak sengaja menemukan Skandar diruangan persis mirip kamar kecilnya dulu dan langsung mendapat pelukan dan perlakuan hangat dari Skandar. “Andaikan itu terulang kembali,” lirih Falerinna “Aku tidak akan melepaskanmu untuk pergi menjauh dariku..” namun semua hanya mimpi.


Tidak seperti kebanyakan perempuan pada umumnya, Falerinna adalah perempuan yang sangat berbeda. Dia memiliki jiwa dan hati yang tenang. Pikiran yang cepat untuk berpikir dan selalu menjalankan nalarnya untuk berbuat sesuatu. Penampilan luar sangat tidak penting bagi dirinya yang lebih mementingkan seberapa banyak kebaikan yang sudah pernah dia buat. Ini bukan berarti Falerinna adalah perempuan kampungan atau yang lain tetapi ini sudah menjadi jati diri Falerinna dan sifat terdalam Falerinna yang belum diketahui orang banyak. Dia tidak sempurna namun dia bisa melakukan semua hal dengan sempurna hanya dengan kedua tangannya sendiri. Bagi Falerinna, dirinya hanyalah sebuah jiwa dan raga lemah yang diberikan oleh Tuhan dan dititipkan kepada kedua orangtuanya lalu menjadi seseorang yang telah ditentukan Tuhan yang pada akhirnya nanti dia akan kembali kepada Tuhan. Semuanya.. Dia hanya bergantung pada Tuhan. Apapun itu.





#




2 hari menghilang dari dunia luar adalah hal yang paling konyol yang pernah Falerinna lakukan disisa umur hidupnya. Dia tidak ingin berurusan dengan Michael dan Julie. Michael hanyalah kenangan lampau yang –seharusnya—tidak harus datang kembali ke kehidupan Falerinna. Cukup dengan mencintai Skandar, Falerinna yakin dia akan bahagia bersama cinta terakhirnya.


“Aku tidak butuh Michael. Dia hanya akan memperburuk keadaan. Dia hanya akan membalikkan semua suasana. Yang aku inginkan hanya Skandar. Aku tahu aku salah dan aku harus mencari dia. Aku ingin minta maaf, hanya itu yang bisa aku lakukan. Aku nggak mau dia menyesali perbuatannya karena aku. Yaaa, jika memang Jenny cocok untuk Skandar, aku akan belajar merelakannya. Ya aku tahu, itu rumit.”


Langkah kaki terus terdengar diruangan yang mudah bergema tersebut. Suara jangkrik-jangkrik malam berseru dengan lihainya bersama dengan teman-temannya. Meninggalkan sesuatu yang paling menyeramkan dari bangunan tersebut. Gelap dan hanya ada sedikit cahaya dari beberapa ventilasi yang ada di bangunan itu. Lembap serta udara yang sangat tercemar menjadikan bangunan itu layak sebuah ruang bawah tanah yang hidup berabad-abad silam.


Falerinna berniat ingin turun kelantai paling bawah. Sekalian untuk mencari jalan keluar dibangunan tak layak itu. Mencari tangga dan harus turun dengan langkah yang sangat berisik akibat sepatunya. Tangannya tidak lagi mau memegang pegangan tangga karena terakhir kali Falerinna memegangnya tangannya langsung gatal tidak karuan. Itu pasti karena kuman!


Setelah sampai dilantai paling bawah, disana ada dua jalur yang diujungnya masing-masing jalan tersebut ada pintu besar dan tinggi yang bisa diperkirakan adalah jalan keluar. Falerinna lebih memajukan kepalanya lagi, menoleh kekiri dan melihat ada beberapa tulang tengkorak yang berserakan. Sedangkan ketika Falerinna menoleh kekanan dia melihat jalanannya bersih tanpa apapun. Dimaksudkan bersih bukan berarti bersih tidak ada debu, melainkan bersih tidak ada barang-barang yang diletakkan dengan sembarang disana. Falerinna berpikir, “mungkin artinya, kalau aku mengambil jalan kekiri rintangannya banyak. Soalnya banyak tengkorak disana. Sedangan jika aku mengambil jalan kekanan semuanya akan lancar-lancar saja karena tidak terdapat apa-apa disana.” Bingung dicampuri dengan rasa bimbang juga, akhirnya Falerinna lebih memilih untuk jalan kearah kanan. Dan terus melangkah lurus hingga sampai ke ambang pintu besar yang sama sekali belum pernah dilihatnya.



**



Skandar memegangi rambutnya. Menggarukinya dan memegang sisi kepala kanannya dengan telunjuknya. Berdiri dengan terpaku dihadapan 2 jalan yang kosong. “Kiri atau Kanan?” lirih Skandar dengan sendirinya. Selalu menggaruk-garuki kepalanya hanya untuk berpikirmemilih jalan yang mana. Bola matanya terus melirik kekiri kekanan bagaikan penari mata yang lincah. Otaknya sudah semakin kaku karena dipergunakan untuk banyak berpikir. Bibirnya tak henti untuk berkomat-kamit mengucapkan kata-kata yang orang lain tidak pahami. Hanya dia dan Tuhanlah yang mengerti.


“Jujur, ini lebih sulit dibandingkan dengan ujian Kimia disekolah!” gerutu Skandar. Dia semakin kesal karena sedari tadi pendiriannya tak kunjung datang untuk memilih kepastian jalan yang ada dihadapannya. “Jika aku membawa atlas dari rumah, aku tidak akan tersesat seperti ini!” lagi-lagi Skandar menggerutu kesal. Dia benar-benar bingung ingin maju kejalan kiri atau maju kejalan kanan? Semuanya penuh dengan keyakinan akan jalan keluar.
Untuk lebih pasti, akhirnya Skandar maju beberapa langkah untuk melihat keadaan kondisi dijalan sebelah kiri. Dan dia lihat baik. Tidak ada apa-apa disana. Skandar kembali mundur dan maju beberapa langkah lagi untuk melihat kondisi dijalan sebelah kanan. “Waah! Tempat macam apa itu?!” Skandar tersontak kaget dan langsung berteriak. Dia seperti jijik melihat ruangan itu dengan karuan dan pikirannya langsung tertuju untuk mengambil jalan disebelah kiri yang lebih layak untuk dilewati. “Dasar jalan kanan yang tidak tahu diri! Bukannya lebih baik malah tambah buruk! Kotornya jalananmu kanan!” lagi-lagi Skandar mengeluh hanya untuk mengomentari jalan yang sangat tidak dia sukai. Seperti ngomong dengan ilalang, tidak ada yang menjawab ocehan Skandar selama Skandar berjalan di jalan kiri tersebut.



**


Edward kembali berdiri pada posisi duduknya. Dia sepertinya sudah mendapat ide. “Untuk percobaan pertama aku tidak terlalu yakin akan berhasil. Ini memang tidak lazim tapi apa salahnya jika aku harus tetap mencoba.”
Edward berjalan keluar dari bangunan tersebut. Berjalan lagi menuju taman gelap yang berada disisi utara bangunan itu. Disana, dia langsung melemparkan diri kedalam danau dan berdiam diri selama 30 menit. Matanya tetap terbuka dan tanpa berkelip. Kepalanya mengangguk-angguk seperti memberikan isyarat. Dan setelah 30 menit berlalu Edward kembali berenang keatas dan mengambil udara sebanyak-banyaknya.


Membaringkan tubuhnya diatas tanah dan tersenyum lebar. “Aku melakukan ini untuk kalian..”
Entah yakin atau tidak dengan pilihan ini namun yang pasti impiannya untuk membahagiakan Skandar dan Falerinna akan segera terwujud. Seberapapun berat taruhannya yang akan diaterima. Edward rela dan ikhlas. Kebaikannya sudah melebihi batas sempurna dan lebih baik! Senyuman Edward yang tak kalah manis dengan Skandar juga terus terpampang diwajahnya. Tidak harus pusing-pusing lagi memikirkan cara. Yang akhirnya, ini cara pertama dan terakhir yang dia ambil. Selanjutnya dan selamanya, dia tidak akan pernah ada.





#




Edward lelah hari ini. Kali ini dia ingin kembali ke hotel dan langsung beristirahat selama yang dia inginkan. Dengan tubuh yang basah kuyup dan mata yang sayup-sayup Edward jalan melangkah kearah jalan besar di sisi selatan taman itu dan memberhentikan sebuah Taksi yang lalu lalang. “Jalan Spring Street, Hotel Bervely nomor 2177.” Edward menunjukkan alamat dari tujuannya. Dan langsung bersender pada punggung kursi penumpang yang empuk. Napasnya kembali lagi teratur secara baik dan sekarang dia hanyalah tinggal menunggu hasilnya dan akan segera terlepas dari semuanya. Selamanya tidak akan pernah kembali dalam kehidupan Skandar dan Falerinna, ataupun yang lain. Kenangan serta petualangan yang dia rasakan di pertengahan bulan tahun 2009 ini cukup membawa arti kehidupan tersendiri bagi Edward.


“Jika aku belajar bersungguh-sungguh untuk memahami arti persahabatan selama hidupku. Aku akan mengambil kesimpulan. Persahabatan adalah hal yang sulit untuk aku rasakan. Kekuatan dan kebersamaan adalah kunci darinya. Persahabatan, adalah kekuasaan tertinggi didalam jabatan diri seseorang. Rasa apapun ada di sebuah persahabatan. Aku terkadang merindukan persahabatan yang dulu sebelum jauh aku mengenal Falerinna. Tetapi, ini takdirku dan bukan disebut juga karma. Aku tetap menghargai dan senang memiliki persahabatan yang beraneka ragam. Karena menurutku, hidupku lebih menjadi berwarna karenanya.” Edward tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Tidak percaya dengan apa yang baru saja dia ucapkan. Tidak menyangka dirinya akan sebijak yang sama sekali belum pernah dia dengar. Dengan perasaan tenang dan senang, dia melihat keramaian kota New York. Beberapa masyarakat tengah sibuk dengan aktifitasnya dan sedangkan yang lain, mereka berusaha membuat diri mereka santai. Dengan cara apapun. Dan satu lagi.. Sang sopir Taksi pun yang melihat keheranan menatap Edward dari kaca spionnya yang sedari tadi tertawa sendiri tanpa akibat.



**


Sesampainya pada ujung jalan, Skandar membuka pintu yang sedikit lebih besar dari dirinya. Dia meraih knop pintu dan langsung menariknya dengan sekuat tenaga. Tiba-tiba, seberkas cahaya sangat terang menelusuk matanya dan dia pun segera menutupkan matanya dengan kedua tangannya. Aroma udara segar sudah bisa dia rasakan dan banyaknya suara masyarakat mulai terdengar. Angin berhembus dengan pelan dan ketika Skandar melepaskan tangannya dan membuka matanya, dia berada di depan café yang sebelumnya pernah dia kunjungi beberapa waktu silam. Dia melihat lagi keseberang jalan. Tetapi bangunan tersebut sudah hilang. Tidak ada lagi gerbang besar yang hitam yang menutupi jalan disana. Tidak ada lagi bangunan yang lusuh bak tua yang terpajang. Bangunan itu seperti cerita dongeng.. Hilang dengan sendirinya dan tak menyisakan jejak sedikitpun. Orang-orang yang ada disekitar Skandar pun hanya menatap Skandar heran dan terkadang mengikuti arah pandangan mata Skandar.


“Tuan. Anda ada masalah?” tepuk seseorang dari belakang ke bahu Skandar dan menyadarkan pandangan Skandar.
“Eh iya? Apa? Ummm, bukankah diseberang jalan itu ada bangunan yang tak asing?” Skandar bertanya.
“Bangunan yang maksud Tuan apakah bangunan yang tua yang ada gerbang besarnya?” tebak seseorang tersebut.
“Nah iya. Itu. Kenapa sekarang jadi nggak ada?” Skandar semakin terheran.
“Bangunan itu memang mistis. Konon, dahulu bangunan itu dibuat oleh seorang dewa entah darimana. Dewa tersebut bertujuan membuat bangunan itu karena ingin menjebak seseorang. Bagi siapa yang berani-berani masuk kedalam sana, dia akan mendapat suatu masalah besar. Katanya juga, didalam sana ada rahasia besar yang disimpan dewa tersebut. Dan biasanya bagi siapa yang sudah memasuki bangunan itu, dia tidak akan kembali. Melainkan berakhir menjadi tengkorak didalam sana.” Jelas seseorang itu dengan detail. Dan respon Skandar hanya menanggukan kepala menandakan bahwa dia mengerti apa yang telah dijelaskan oleh seseorang itu.
“Oooh baiklah kalau begitu, Terima Kasih..” Skandar tersenyum.
“Tetapi Tuan. Jika ada yang berhasil keluar, itu juga hidupnya belum tentu aman. Arwah dewa itu akan mengejar targetnya dan akan mengakhiri hidup targetnya dengan tragis.” Skandar diam. Perasaan takut mulai muncul lagi dibatinnya dan dia berusaha menghilangkan ekspresi ketakutannya.
“Baik, Tuan. Terimakasih atas penjelasannya. Senang bertemu Anda..” setelah itu Skandar pergi dan berencana kembali ke hotel.



**


Falerinna keluar. Merasakan oksigen yang selama ini dia rindukan. Rambutnya berterbangan seperti biasa. Dan matanya tertutup merasakan kesejukan ini. Falerinna berhasil lolos dari bangunan ini, namun dia tidak bisa melihat banyak penduduk kota New York.Yang dia lihat disini hanya tumbuh-tumbuhan dan ilalang berwarna hijau yang tumbuh dari tanah. Kakinya menapaki tanah yang berlapiskan bunga mawar yang halus. Dia melihat kebelakang, seluruhnya kosong. Hanya terdapat ilalang dilingkungan ini. Falerinna tidak terlalu memikirkan kemana hilangnya pintu keluar tersebut, yang terpenting dia sudah berhasil keluar dari bangunan bak sampah itu.
Falerinna tersenyum dengan sedikit perasaan riang. Yaaah, walaupun tidak ada Skandar disini tetapi setidaknya dia berhasil menemukan jalan keluar. “Setidaknya napasku tidak terlalu cepat hilang..” lirih Falerinna dan dia terbaring di tanah beralaskan bunga mawar tersebut. Dia menatap awan yang berwarna biru cerah sambil membayangkan wajah Skandar yang rupawan. Senyum-senyum dia terus lakukan selama pengkhayalan itu, dan hingga tak tersadarkan dia tertidur lelap…





#




“Fal! Buka matamu! Ayo kita harus pergi!” teriak Julie tepat di gendang telinga Falerinna. Falerinna membuka mata, dan dia kaget dengan semuanya. Tangan kirinya digenggam oleh Julie dan sekarang dia berada di sisi seberang jalan raya besar yang sampai sekarang belum diseberangi juga.
“Kenapa aku ada disini?” tanya Falerinna.
“Kau bodoh! Kau memang daritadi berada disini! Kita belum menyebrang 15 menit karena kendaraannya banyak!” tukas Julie dengan emosi.
“Tetapi aku kabur darimu selama 2 hari!” ucap Falerinna memandang Julie.
“Kabur? 2 hari? Ngaco ah! Baru 15 menit udah dikira 2 hari. Kamu sakit Fal, heh?”
“Nggak.. Yaudah, lupakan..” ucap Falerinna dingin dan dia kembali menoleh kebelakang.
“Bangunannya nggak ada,”
“Hah? Apa? Bangunan yang mana?” terjang Julie mengikuti arah pandangan Falerinna.
“Nggak kok nggak. Nggak ada bangunan.” Alasan Falerinna dan kembali terfokus pada jalan besar yang ada dihadapannya.
“Fal, please. Aku sarankan kamu jangan terlalu banyak berimajinasi. Okay? Itu membuatmu seperti orang gila..”
Falerinna pun hanya tersenyum dan segera pergi menyebrang jalan besar bersama Julie.


**

To be continued~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar