Title : Friendzone
Author : Alferina
Genre : _____________
Pairing : Skandar Keynes x Falerinna
Rated : Teen
Length : Multichapter
**
Edward
berkutat pada pendiriannya, dia tidak bisa lagi berpikir jauh untuk
pikirannya terhadap Skandar dan Falerinna. Baginya mengakui semuanya
sama saja membuat dirinya terbunuh. Tidak ada lagi yang namanya
persahabatan maupun kebersamaan yang akan dia rasakan kembali.
Benar-benar sulit sesulit dia menahan perasaannya dahulu. Namun,waktu
terus berjalan dan dia tetap harus memilih suatu pilihan.
Edward
sekarang tengah berada di belakang bangunan. Sendirian dan sengaja
melarikan diri meninggalkan Skandar karena Edward tahu dia tidak lagi
pantas untuk menjadi teman Skandar. Edward sudah mengikhlaskan sesuatu
hal yang awalnya –mungkin—memang butuh perjuangan untuk merelakan.
Tetapi kini dia tersadar. Falerinna bukan untuknya dan Falerinna hanya
sementara hadir didalam kehidupannya. Memang rasanya sakit tetapi inilah
jalan terbaik yang akan Edward ambil untuk membahagiakan kedua
sahabatnya. Cinta tidak harus ditunggu, cinta akan datang dengan
sendirinya begitu pula dengan nasib. Mungkin nasib Edward tahun ini
sedang malang namun seseorang tidak dapat memprediksi apa yang akan
terjadi dengan nasib Edward beberapa tahun mendatang. Semua adalah milik
Tuhan.
“Tapi aku masih bingung. Apa
yang harus aku lakukan untuk menyatukan mereka kembali tanpa aku harus
mengakui masa laluku?” Edward berusaha keras. Mencari ide yang
benar-benar masuk akal dan mudah-mudahan akan berjalan dengan lancar.
Dia terduduk di kursi. Pandangannya menghadap ke langit-langit atas dan
pikirannya menjelajahi semua hal yang harus dia temukan secepat mungkin.
“Kalau sekarang aku tidak akan bisa melakukannya, kemungkinan jika aku
membutuhkan bantuan orang lain, ini akan berakhir bukan dengan hasil
kerja murni dariku. Aku ingin mereka bahagia karena aku bukan orang
lain.” Kembali lagi dalam pikirannya, Edward termenung oleh benaknya
sendiri. Berjam-jam dia lalui dan bagaimanapun juga hasilnya. Dia yakin
akan membahagiakan kedua sahabatnya.
**
Disisi
lain, Falerinna tetap berjalan semakin dalam di bangunan ini. Dia sama
sekali tidak takut apa yang akan terjadi disini. Dia hanya beranggapan
ini hanya sebuah bangunan tua yang meninggalkan beberapa rahasia mistis
dan bukan berarti apa-apa terhadap dirinya yang tidak mempunyai sangkut
paut atas masalah yang terjadi di bangunan ini. Iris matanya yang
berwarna cokelat terus melihat kekiri dan ke kanan setiap ruangan yang
dia lewati secara perlahan. Membuka satu persatu pintu yang dia lihat
dan akan melihat apa yang ada didalamnya. Mungkin suatu keajaiban akan
kembali terjadi ketika Falerinna membuka pintu dan langsung menemukan
tokoh Skandar yang siap kembali membawa dirinya ke dalam pelukan lelaki
idamannya, seperti dulu saat Falerinna tidak sengaja menemukan Skandar
diruangan persis mirip kamar kecilnya dulu dan langsung mendapat pelukan
dan perlakuan hangat dari Skandar. “Andaikan itu terulang kembali,”
lirih Falerinna “Aku tidak akan melepaskanmu untuk pergi menjauh
dariku..” namun semua hanya mimpi.
Tidak
seperti kebanyakan perempuan pada umumnya, Falerinna adalah perempuan
yang sangat berbeda. Dia memiliki jiwa dan hati yang tenang. Pikiran
yang cepat untuk berpikir dan selalu menjalankan nalarnya untuk berbuat
sesuatu. Penampilan luar sangat tidak penting bagi dirinya yang lebih
mementingkan seberapa banyak kebaikan yang sudah pernah dia buat. Ini
bukan berarti Falerinna adalah perempuan kampungan atau yang lain tetapi
ini sudah menjadi jati diri Falerinna dan sifat terdalam Falerinna yang
belum diketahui orang banyak. Dia tidak sempurna namun dia bisa
melakukan semua hal dengan sempurna hanya dengan kedua tangannya
sendiri. Bagi Falerinna, dirinya hanyalah sebuah jiwa dan raga lemah
yang diberikan oleh Tuhan dan dititipkan kepada kedua orangtuanya lalu
menjadi seseorang yang telah ditentukan Tuhan yang pada akhirnya nanti
dia akan kembali kepada Tuhan. Semuanya.. Dia hanya bergantung pada
Tuhan. Apapun itu.
#
2
hari menghilang dari dunia luar adalah hal yang paling konyol yang
pernah Falerinna lakukan disisa umur hidupnya. Dia tidak ingin berurusan
dengan Michael dan Julie. Michael hanyalah kenangan lampau yang
–seharusnya—tidak harus datang kembali ke kehidupan Falerinna. Cukup
dengan mencintai Skandar, Falerinna yakin dia akan bahagia bersama cinta
terakhirnya.
“Aku tidak butuh Michael.
Dia hanya akan memperburuk keadaan. Dia hanya akan membalikkan semua
suasana. Yang aku inginkan hanya Skandar. Aku tahu aku salah dan aku
harus mencari dia. Aku ingin minta maaf, hanya itu yang bisa aku
lakukan. Aku nggak mau dia menyesali perbuatannya karena aku. Yaaa, jika
memang Jenny cocok untuk Skandar, aku akan belajar merelakannya. Ya aku
tahu, itu rumit.”
Langkah kaki terus
terdengar diruangan yang mudah bergema tersebut. Suara jangkrik-jangkrik
malam berseru dengan lihainya bersama dengan teman-temannya.
Meninggalkan sesuatu yang paling menyeramkan dari bangunan tersebut.
Gelap dan hanya ada sedikit cahaya dari beberapa ventilasi yang ada di
bangunan itu. Lembap serta udara yang sangat tercemar menjadikan
bangunan itu layak sebuah ruang bawah tanah yang hidup berabad-abad
silam.
Falerinna berniat ingin turun
kelantai paling bawah. Sekalian untuk mencari jalan keluar dibangunan
tak layak itu. Mencari tangga dan harus turun dengan langkah yang sangat
berisik akibat sepatunya. Tangannya tidak lagi mau memegang pegangan
tangga karena terakhir kali Falerinna memegangnya tangannya langsung
gatal tidak karuan. Itu pasti karena kuman!
Setelah
sampai dilantai paling bawah, disana ada dua jalur yang diujungnya
masing-masing jalan tersebut ada pintu besar dan tinggi yang bisa
diperkirakan adalah jalan keluar. Falerinna lebih memajukan kepalanya
lagi, menoleh kekiri dan melihat ada beberapa tulang tengkorak yang
berserakan. Sedangkan ketika Falerinna menoleh kekanan dia melihat
jalanannya bersih tanpa apapun. Dimaksudkan bersih bukan berarti bersih
tidak ada debu, melainkan bersih tidak ada barang-barang yang diletakkan
dengan sembarang disana. Falerinna berpikir, “mungkin artinya, kalau
aku mengambil jalan kekiri rintangannya banyak. Soalnya banyak tengkorak
disana. Sedangan jika aku mengambil jalan kekanan semuanya akan
lancar-lancar saja karena tidak terdapat apa-apa disana.” Bingung
dicampuri dengan rasa bimbang juga, akhirnya Falerinna lebih memilih
untuk jalan kearah kanan. Dan terus melangkah lurus hingga sampai ke
ambang pintu besar yang sama sekali belum pernah dilihatnya.
**
Skandar
memegangi rambutnya. Menggarukinya dan memegang sisi kepala kanannya
dengan telunjuknya. Berdiri dengan terpaku dihadapan 2 jalan yang
kosong. “Kiri atau Kanan?” lirih Skandar dengan sendirinya. Selalu
menggaruk-garuki kepalanya hanya untuk berpikirmemilih jalan yang mana.
Bola matanya terus melirik kekiri kekanan bagaikan penari mata yang
lincah. Otaknya sudah semakin kaku karena dipergunakan untuk banyak
berpikir. Bibirnya tak henti untuk berkomat-kamit mengucapkan kata-kata
yang orang lain tidak pahami. Hanya dia dan Tuhanlah yang mengerti.
“Jujur,
ini lebih sulit dibandingkan dengan ujian Kimia disekolah!” gerutu
Skandar. Dia semakin kesal karena sedari tadi pendiriannya tak kunjung
datang untuk memilih kepastian jalan yang ada dihadapannya. “Jika aku
membawa atlas dari rumah, aku tidak akan tersesat seperti ini!”
lagi-lagi Skandar menggerutu kesal. Dia benar-benar bingung ingin maju
kejalan kiri atau maju kejalan kanan? Semuanya penuh dengan keyakinan
akan jalan keluar.
Untuk lebih pasti, akhirnya Skandar maju
beberapa langkah untuk melihat keadaan kondisi dijalan sebelah kiri. Dan
dia lihat baik. Tidak ada apa-apa disana. Skandar kembali mundur dan
maju beberapa langkah lagi untuk melihat kondisi dijalan sebelah kanan.
“Waah! Tempat macam apa itu?!” Skandar tersontak kaget dan langsung
berteriak. Dia seperti jijik melihat ruangan itu dengan karuan dan
pikirannya langsung tertuju untuk mengambil jalan disebelah kiri yang
lebih layak untuk dilewati. “Dasar jalan kanan yang tidak tahu diri!
Bukannya lebih baik malah tambah buruk! Kotornya jalananmu kanan!”
lagi-lagi Skandar mengeluh hanya untuk mengomentari jalan yang sangat
tidak dia sukai. Seperti ngomong dengan ilalang, tidak ada yang menjawab
ocehan Skandar selama Skandar berjalan di jalan kiri tersebut.
**
Edward
kembali berdiri pada posisi duduknya. Dia sepertinya sudah mendapat
ide. “Untuk percobaan pertama aku tidak terlalu yakin akan berhasil. Ini
memang tidak lazim tapi apa salahnya jika aku harus tetap mencoba.”
Edward
berjalan keluar dari bangunan tersebut. Berjalan lagi menuju taman
gelap yang berada disisi utara bangunan itu. Disana, dia langsung
melemparkan diri kedalam danau dan berdiam diri selama 30 menit. Matanya
tetap terbuka dan tanpa berkelip. Kepalanya mengangguk-angguk seperti
memberikan isyarat. Dan setelah 30 menit berlalu Edward kembali berenang
keatas dan mengambil udara sebanyak-banyaknya.
Membaringkan tubuhnya diatas tanah dan tersenyum lebar. “Aku melakukan ini untuk kalian..”
Entah
yakin atau tidak dengan pilihan ini namun yang pasti impiannya untuk
membahagiakan Skandar dan Falerinna akan segera terwujud. Seberapapun
berat taruhannya yang akan diaterima. Edward rela dan ikhlas.
Kebaikannya sudah melebihi batas sempurna dan lebih baik! Senyuman
Edward yang tak kalah manis dengan Skandar juga terus terpampang
diwajahnya. Tidak harus pusing-pusing lagi memikirkan cara. Yang
akhirnya, ini cara pertama dan terakhir yang dia ambil. Selanjutnya dan
selamanya, dia tidak akan pernah ada.
#
Edward
lelah hari ini. Kali ini dia ingin kembali ke hotel dan langsung
beristirahat selama yang dia inginkan. Dengan tubuh yang basah kuyup dan
mata yang sayup-sayup Edward jalan melangkah kearah jalan besar di sisi
selatan taman itu dan memberhentikan sebuah Taksi yang lalu lalang.
“Jalan Spring Street, Hotel Bervely nomor 2177.” Edward menunjukkan
alamat dari tujuannya. Dan langsung bersender pada punggung kursi
penumpang yang empuk. Napasnya kembali lagi teratur secara baik dan
sekarang dia hanyalah tinggal menunggu hasilnya dan akan segera terlepas
dari semuanya. Selamanya tidak akan pernah kembali dalam kehidupan
Skandar dan Falerinna, ataupun yang lain. Kenangan serta petualangan
yang dia rasakan di pertengahan bulan tahun 2009 ini cukup membawa arti
kehidupan tersendiri bagi Edward.
“Jika
aku belajar bersungguh-sungguh untuk memahami arti persahabatan selama
hidupku. Aku akan mengambil kesimpulan. Persahabatan adalah hal yang
sulit untuk aku rasakan. Kekuatan dan kebersamaan adalah kunci darinya.
Persahabatan, adalah kekuasaan tertinggi didalam jabatan diri seseorang.
Rasa apapun ada di sebuah persahabatan. Aku terkadang merindukan
persahabatan yang dulu sebelum jauh aku mengenal Falerinna. Tetapi, ini
takdirku dan bukan disebut juga karma. Aku tetap menghargai dan senang
memiliki persahabatan yang beraneka ragam. Karena menurutku, hidupku
lebih menjadi berwarna karenanya.” Edward tersenyum dan
menggeleng-gelengkan kepalanya. Tidak percaya dengan apa yang baru saja
dia ucapkan. Tidak menyangka dirinya akan sebijak yang sama sekali belum
pernah dia dengar. Dengan perasaan tenang dan senang, dia melihat
keramaian kota New York. Beberapa masyarakat tengah sibuk dengan
aktifitasnya dan sedangkan yang lain, mereka berusaha membuat diri
mereka santai. Dengan cara apapun. Dan satu lagi.. Sang sopir Taksi pun
yang melihat keheranan menatap Edward dari kaca spionnya yang sedari
tadi tertawa sendiri tanpa akibat.
**
Sesampainya
pada ujung jalan, Skandar membuka pintu yang sedikit lebih besar dari
dirinya. Dia meraih knop pintu dan langsung menariknya dengan sekuat
tenaga. Tiba-tiba, seberkas cahaya sangat terang menelusuk matanya dan
dia pun segera menutupkan matanya dengan kedua tangannya. Aroma udara
segar sudah bisa dia rasakan dan banyaknya suara masyarakat mulai
terdengar. Angin berhembus dengan pelan dan ketika Skandar melepaskan
tangannya dan membuka matanya, dia berada di depan café yang sebelumnya
pernah dia kunjungi beberapa waktu silam. Dia melihat lagi keseberang
jalan. Tetapi bangunan tersebut sudah hilang. Tidak ada lagi gerbang
besar yang hitam yang menutupi jalan disana. Tidak ada lagi bangunan
yang lusuh bak tua yang terpajang. Bangunan itu seperti cerita dongeng..
Hilang dengan sendirinya dan tak menyisakan jejak sedikitpun.
Orang-orang yang ada disekitar Skandar pun hanya menatap Skandar heran
dan terkadang mengikuti arah pandangan mata Skandar.
“Tuan. Anda ada masalah?” tepuk seseorang dari belakang ke bahu Skandar dan menyadarkan pandangan Skandar.
“Eh iya? Apa? Ummm, bukankah diseberang jalan itu ada bangunan yang tak asing?” Skandar bertanya.
“Bangunan yang maksud Tuan apakah bangunan yang tua yang ada gerbang besarnya?” tebak seseorang tersebut.
“Nah iya. Itu. Kenapa sekarang jadi nggak ada?” Skandar semakin terheran.
“Bangunan
itu memang mistis. Konon, dahulu bangunan itu dibuat oleh seorang dewa
entah darimana. Dewa tersebut bertujuan membuat bangunan itu karena
ingin menjebak seseorang. Bagi siapa yang berani-berani masuk kedalam
sana, dia akan mendapat suatu masalah besar. Katanya juga, didalam sana
ada rahasia besar yang disimpan dewa tersebut. Dan biasanya bagi siapa
yang sudah memasuki bangunan itu, dia tidak akan kembali. Melainkan
berakhir menjadi tengkorak didalam sana.” Jelas seseorang itu dengan
detail. Dan respon Skandar hanya menanggukan kepala menandakan bahwa dia
mengerti apa yang telah dijelaskan oleh seseorang itu.
“Oooh baiklah kalau begitu, Terima Kasih..” Skandar tersenyum.
“Tetapi
Tuan. Jika ada yang berhasil keluar, itu juga hidupnya belum tentu
aman. Arwah dewa itu akan mengejar targetnya dan akan mengakhiri hidup
targetnya dengan tragis.” Skandar diam. Perasaan takut mulai muncul lagi
dibatinnya dan dia berusaha menghilangkan ekspresi ketakutannya.
“Baik, Tuan. Terimakasih atas penjelasannya. Senang bertemu Anda..” setelah itu Skandar pergi dan berencana kembali ke hotel.
**
Falerinna
keluar. Merasakan oksigen yang selama ini dia rindukan. Rambutnya
berterbangan seperti biasa. Dan matanya tertutup merasakan kesejukan
ini. Falerinna berhasil lolos dari bangunan ini, namun dia tidak bisa
melihat banyak penduduk kota New York.Yang dia lihat disini hanya
tumbuh-tumbuhan dan ilalang berwarna hijau yang tumbuh dari tanah.
Kakinya menapaki tanah yang berlapiskan bunga mawar yang halus. Dia
melihat kebelakang, seluruhnya kosong. Hanya terdapat ilalang
dilingkungan ini. Falerinna tidak terlalu memikirkan kemana hilangnya
pintu keluar tersebut, yang terpenting dia sudah berhasil keluar dari
bangunan bak sampah itu.
Falerinna tersenyum dengan sedikit
perasaan riang. Yaaah, walaupun tidak ada Skandar disini tetapi
setidaknya dia berhasil menemukan jalan keluar. “Setidaknya napasku
tidak terlalu cepat hilang..” lirih Falerinna dan dia terbaring di tanah
beralaskan bunga mawar tersebut. Dia menatap awan yang berwarna biru
cerah sambil membayangkan wajah Skandar yang rupawan. Senyum-senyum dia
terus lakukan selama pengkhayalan itu, dan hingga tak tersadarkan dia
tertidur lelap…
#
“Fal!
Buka matamu! Ayo kita harus pergi!” teriak Julie tepat di gendang
telinga Falerinna. Falerinna membuka mata, dan dia kaget dengan
semuanya. Tangan kirinya digenggam oleh Julie dan sekarang dia berada di
sisi seberang jalan raya besar yang sampai sekarang belum diseberangi
juga.
“Kenapa aku ada disini?” tanya Falerinna.
“Kau bodoh!
Kau memang daritadi berada disini! Kita belum menyebrang 15 menit
karena kendaraannya banyak!” tukas Julie dengan emosi.
“Tetapi aku kabur darimu selama 2 hari!” ucap Falerinna memandang Julie.
“Kabur? 2 hari? Ngaco ah! Baru 15 menit udah dikira 2 hari. Kamu sakit Fal, heh?”
“Nggak.. Yaudah, lupakan..” ucap Falerinna dingin dan dia kembali menoleh kebelakang.
“Bangunannya nggak ada,”
“Hah? Apa? Bangunan yang mana?” terjang Julie mengikuti arah pandangan Falerinna.
“Nggak kok nggak. Nggak ada bangunan.” Alasan Falerinna dan kembali terfokus pada jalan besar yang ada dihadapannya.
“Fal, please. Aku sarankan kamu jangan terlalu banyak berimajinasi. Okay? Itu membuatmu seperti orang gila..”
Falerinna pun hanya tersenyum dan segera pergi menyebrang jalan besar bersama Julie.
**
To be continued~

Tidak ada komentar:
Posting Komentar